"Sayang, baju kamu kayaknya terlalu terbuka deh." Sahut Mas ketika sadar melihat Vanessa dengan pakaiannya yang kelewat terbuka.
"Serius? Terbuka banget, ya?" Tanya Vanessa dengan cemas, takut Mas akan memarahinya. Mas mengangguk dan terus menatapnya dengan tatapan mengintimidasi agar istrinya itu segera menggantinya tanpa harus ia suruh.
"Hehe, iya aku ganti deh." Vanessa langsung mengambil baju lain dan segera menggantinya.
"Kadang juga lupa punya istri masih kelewat muda, pasti ada aja gebrakannya, pasti dia juga lupa kalau sekarang udah jadi istri." Gumam Mas dengan helaan nafasnya.
Beberapa menit setelahnya, Vanessa sudah keluar dan sudah berganti pakaiannya.
"Kayaknya kamu emang bawa baju terbuka semua ya?" Sindir Mas dengan gelengannya.
"Yaiyalah Mas? Kan di Bali. Masa aku pake baju yang biasa aku pake kalau ke acara formal Kakek atau kerja?" Tawa Vanessa.
"Better mana? Yang tadi apa yang sekarang?" Tanya Vanessa yang sudah berdiri di depan Mas. Menanyakan pendapat suaminya itu walaupun ekspresi Mas memang terlihat tidak suka.
"Dua-duanya nggak better, ini orang-orang bisa lihat ke kamu terus sayang." Ucap Mas dengan nada manja tak sukanya.
Vanessa menghela napasnya. "Yaudah aku ganti lagi."
"Nggak usah, udah nggak papa." Mas menahan tangannya.
"Kasihan, kamu capek nanti." Kata Mas yang memeluknya tiba-tiba.
"Kenapa wangi kamu bikin Mas candu terus, ya?" Ucap Mas dengan suaranya yang menggoda.
"Mas, kamu udah berkali-kali ngomong gitu." Tawa Vanessa, ia merasa geli karena tangan nakal Mas sudah menyentuh area perut dan pinggangnya.
Tiba-tiba, Mas mencium leher istrinya berkali-kali dan menggigit gemas pipi kanannya. Bahkan, Mas sering memeluk badan mungil itu kelewat erat hingga membuat Vanessa merasa sesak. Vanessa yang sudah terbiasa mendapat serangan Mas seperti ini hanya diam dan tersenyum geli. Kebiasaan yang sering Mas lakukan setiap waktu dan itu selalu tiba-tiba adalah selalu mencium lehernya dan menggigit anggota tubuhnya. Entah pipinya, lehernya, lengannya, atau pergelangan tangannya. Memang tidak sakit, hanya saja itu akan selalu memunculkan bekas merah dan Vanessa jadi panik apalagi jika ia menggunakan pakaian terbuka. Orang-orang bisa menatapnya dan memikirkan hal aneh.
"Mas.. please, udah. Nanti membekas lagi! Kamu itu dari dulu suka banget ninggalin kiss mark. Aku yang pusing nutupinnya." Vanessa mencoba menghentikan Mas dengan gelak tawanya karena Mas sungguh kelewat gemas dengannya.
"Kamu beneran istrinya Mas nggak, sih?" Tanya Mas yang terkadang masih tidak percaya perempuan mungil yang suka tantrum ini sudah sah menjadi istrinya.
"Iyalah, kamu nggak mimpi. Stop ngedrama ya!" Ucap Vanessa yang menepuk kedua pipi suaminya dengan pelan.
"Gemes banget ya ampun, Vanessa. Kok ada sih manusia selucu kamu?" Perkataan Mas itu kembali membuat Vanessa tertawa karena tak percaya melihat suaminya dengan pesona pria matang ini dengan tingkah lakunya yang seperti anak kecil.
"Mas, ayo turun ke pantai, kalau kamu kayak gini kita nggak turun-turun." Mas masih saja memeluk Vanessa seperti tak ingin melepasnya.
"Kiss dulu." Pinta Mas.
"Tadi udah loh." Kata Vanessa dengan matanya yang membelalak kaget.
"Mau lagi." Mas masih terus merengek kepada istrinya itu.
Vanessa dengan spontan mengecup bibir suaminya itu beberapa saat, karena Vanessa tahu Mas tidak akan menyerah dan dia akan selalu kalah jika Mas memaksa untuk meminta hal seperti ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
He Fell First and She Never Fell?
Fanfic"Jadi, saya jatuh dan cinta sendirian ya?" Disclaimer!⚠️ Ini fiksi nggak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata, tolong bijak dalam membaca dan berkomentar. Untuk readers baru, supaya nggak bingung, lebih baik baca dulu "The Qonsequences" baru ceri...
