Dua minggu setelah liburan keluarga usai, Mas dan Vanessa kembali ke aktivitasnya masing-masing. Vanessa dengan rangkaian operasi, piket UGD, dan perawatan lainnya yang semakin padat di rumah sakit, sedangkan Mas yang semakin sibuk di Mabes, bahkan tak jarang ia sering dinas ke luar kota bersama komandannya. Meninggalkan anak-anaknya di rumah setelah dijemput seusai pulang sekolah. Mungkin bagi Rafa dan Naira, kedua anak kembar mereka sudah mengerti pekerjaan Papa dan Bundanya yang memang jarang berada di rumah, yang jarang pulang dan memiliki sedikit waktu bersama anak-anaknya.
Tapi bagi Kai, anak kecil berumur enam tahun itu belum mengerti. Tak jarang ia selalu merengek tantrum minta dijemput Papanya di sekolah. Namun terkadang, Mas memang berada di luar kota. Jadi mau tidak mau Vanessa yang harus berbesar hati menggantikannya. Sejarang-jarangnya Vanessa pulang ke rumah dan menenui anak-anaknya, lebih jarang lagi Mas. Vanessa dalam seminggu bisa sering kali pulang, walaupun sore atau malamnya ia harus kembali ke rumah sakit. Tapi, berbeda dengan suaminya yang mulai semakin memperlihatkan dirinya yang tidak bisa memprioritaskan keluarga dan anak-anaknya. Vanessa mengerti, bahkan sangat mengerti walaupun ia terkadang masih berat hati.
Kini, di rumah mereka hanya ada Rafa, Naira, dan Kai yang sedang tidur setelah magrib. Kabarnya, kedua orang tuanya hari ini pulang. Tidak tahu hanya sementara atau tidak.
"Raf.. kira-kira Papa sama Bunda bisa datang ke sekolah nggak ya besok?" Tanya Naira kepada Kakaknya yang tengah bermain dengan Jojo.
"Aku nggak tahu juga, Nai. Kayaknya nggak?" Ucap Rafa dengan bingung.
"Padahal besok perpisahan sama teman-teman sebelum kita lulus." Ujar Naira sambil memainkan kukunya.
Saat ini, Rafa dan Naira hampir menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya. Setelah melakukan ujian nasional beberapa waktu yang lalu, acara perpisahan di sekolah mereka akan diadakan besok. Digelar di aula sekolah mereka dengan berbagai acara, tentu mengundang orang tua atau wali murid. Akan seperti apa jadinya jika Rafa dan Naira hadir ke acara perpisahannya tanpa kedua orang tuanya?
Suara mobil masuk ke halaman rumah mereka, Rafa dan Naira mengintip dari jendela. Itu mobil Bundanya, selang beberapa menit ketika Bundanya tengah mengambil barang-barang di kursi belakang, mobil Papanya ikut terparkir di sebelah mobil HRV SE putih milik Bundanya.
Dari balik jendela, Rafa dan Naira mengintip kemesraan kedua orang tuanya, dimana Bundanya menyalami Papanya dan sebaliknya Papanya mencium seluruh wajah Bundanya. Memang pemandangan khas kedua orang tuanya ketika pulang. Papanya juga membantu mengambil barang-barang Bundanya dan mereka sempat tertawa entah karena apa. Mungkin karena tiba-tiba pulang di waktu yang bersamaan?
"PAPA!!!!" Itu Naira, siapa lagi sosok yang akan selalu meneriaki Mas selain Naira.
Mas langsung meletakkan barang-barang Vanessa di sofa, langsung berjongkok dan merentangkan kedua tangannya menyambut pelukan Naira di depan pintu.
"Papa, aku kangen banget!!" Ucap Naira dipelukan Papanya itu.
"Papa juga kangen sama Naira." Balas Mas dengan pelukannya. Rafa yang berada di sebelahnya juga ikut berpelukan. Rasanya, energi Mas kembali terisi, rasanya jiwa Mas kembali tenang ketika ia pulang, menemui anak-anaknya, dan istrinya.
"Sama Bunda nggak kangen?" Tanya Vanessa sembari melepas jas dokternya.
"Bunda kan sering pulang, sering lihatin dan perhatiin kita, kemarin juga pulang. Kalau Papa nggak pulang-pulang." Ucap Naira dengan sengaja.
"Kata siapa Papa nggak pulang-pulang? Ini Papa pulang." Sahut Mas yang mencubit hidung mancung Naira dengan gemas.
"Iya, tapi jarang." Sindir Naira.
KAMU SEDANG MEMBACA
He Fell First and She Never Fell?
Fanfiction"Jadi, saya jatuh dan cinta sendirian ya?" Disclaimer!⚠️ Ini fiksi nggak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata, tolong bijak dalam membaca dan berkomentar. Untuk readers baru, supaya nggak bingung, lebih baik baca dulu "The Qonsequences" baru ceri...
