97

8.2K 390 80
                                        

"Tiba-tiba belanja bulanan? Sekarang?" Tanya Mas dengan kaget.

"Yaiyalah, kan udah pada habis bahan-bahan di rumah." Ujar Vanessa dengan mengernyit.

"Iya sih, tapi harus sekarang banget?" Tanya Mas lagi.

"Masih aja nanya. Shampo kamu aja udah habis, kan? Udah berapa hari nggak keramas?" Tanya Vanessa balik.

"Tiga hari, hehe." Mas sedikit cengengesan.

"JOROK! Udah tahu kalau kerja sering ke lapangan!" Vanessa mencubit pinggang Mas.

"Ayo buruan!" Vanessa menarik tangan Mas yang sepertinya malas sekali beranjak dari ranjang mereka.

"Mas mager, sayang." Ucap Mas dengan alasannya.

"Bener-bener ya nih laki." Vanessa melipat kedua tangannya di depan dada, Mas yang mendengar omelan istrinya itu malah tertawa.

"Bun, mau kemana? IKUT!!" Tiba-tiba Naira masuk ke kamar mereka dan bergabung naik ke atas ranjang, malahan anak gadis mereka ikut rebahan dipelukan Mas.

"Mau ke supermarket, mau ikut nggak?" Ajak Vanessa.

"IH AYO!! MAU JAJAN!" Naira girang sekali.

"Dasar bocah." Cibir Mas, menepuk pelan jidat anaknya itu.

"Ayo, Mas!" Vanessa sudah berkacak pinggang.

"Kiss dulu dong, baru mau." Mas malah menggodanya.

"Malu, ada anak gadis." Ledek Vanessa.

"Ya nggak papa dong. Ayo, mau nggak?" Tanya Mas dengan tengilnya.

"NGGAK!" Tolak Vanessa.

"Yaudah, Mas juga nggak mau." Mas malah merajuk.

"Oh yaudah, kamu di rumah ya berarti? Itu di dapur banyak piring kotor, kamu cuci ya dan itu aku lagi nyuci baju di mesin cuci, kamu jemur semu—"

"AYO, NAI. KITA TEMENIN BUNDA BELANJA YEY!" Tiba-tiba suaminya langsung beranjak dan keluar kamar.

"Halah disuruh nyuci sama jemur pakaian nggak mau! Heran kelakuan suami gitu semua." Cibir Vanessa.

"Biarin!" Mas tiba-tiba mengecup pipi istrinya.

"Panggil Rafa dan Kai, jangan ditinggal di rumah." Ucap Vanessa yang tengah mencepol rambutnya.

"Kamu mau bawa satu keluarga cuma buat belanja bulanan?" Tanya Mas.

"Yaiyalah? Biar kalian semua tahu kebutuhan kalian tuh banyak." Sahut Vanessa.

"Itu mah kebutuhan kamu doang sih, sayang." Kata Mas dengan santainya.

"Muat nggak bawa satu mobil?"

"Kamu mau borong sebanyak apa ya ampun?" Mas tidak habis pikir.

"Bulan kemarin aja dua mobil juga nggak cukup." Jawab istrinya.

"Kira-kira berapa banyak duit yang keluar bulan ini, ya?" Tanya Mas dengan iseng.

"Hamburkan sebanyak-banyaknya, sayang." Mas dengan gemas mencubit pipi Vanessa.

"Aneh Papa kamu, Nai." Sindir Vanessa.

"Duit Papa banyak, Bun. Kita kuras aja ATM-nya." Ucap Naira dengan entengnya.

"Eh, siapa yang ngajarin itu?" Mas menggelitik tubuh anak gadisnya hingga Naira berteriak ampun.

"AAA! KAN PAPA YANG BILANG!" Naira berteriak geli.

"Udah bawa satu aja, nanti suruh ajudan Mas yang ambil belanjaannya." Ucap Mas, memeluk Naira dengan gemas.

"NAH IYA IDE BAGUS! KENAPA NGGAK DARI KEMAREN AJA KAYAK GITU?" Vanessa histeris.

He Fell First and She Never Fell?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang