Hari terakhir di Jepang, Bapak dan Ibu memutuskan mengajak keluarganya dan para mantan staffnya ke Osaka. Tepatnya ke Universal Studio Jepang dimana tempat ini merupakan salah satu tempat wahana bermain terbesar yang ada di dunia. Beberapa hari ini mereka sudah mengikuti keinginan Bapak dan Ibu mengunjungi tempat tempat bersejarah, tempat wisata, dan tempat populer lainnya yang ada di Jepang. Kali ini, waktunya cucu-cucunya serta para cicit dan mantan staffnya bermain dan berpetualang. Sedangkan Bapak dan Ibu cukup menunggu mereka bermain sepuasanya di sebuah tempat yang masih berada di lingkup Universal Studio bersama anak-anaknya, Mas Didit dan Mbak Yanti.
Semuanya girang dan histeris, karena ini salah satu tempat yang diinginkan mereka selama berada di Jepang. Apalagi cicit-cicitnya yang jingkrak-jingkrak bahagia karena tak sabar ingin menaiki wahana dan taman bermain impian yang mereka idam-idamkan. Jangan salah jika cucu Bapak dan Ibu, Vanessa dan trio kembar tidak kegirangan. Walaupun sudah punya anak dan sudah menjadi orang tua, tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk menelusuri dan mencoba segala wahana dan taman bermain yang belum pernah mereka coba.
Memang heran dan terdengar aneh mereka berempat belum pernah ke Universal Studio Jepang, apalagi mereka punya segalanya dan tidak perlu mikir panjang untuk pergi sekedar liburan ke Jepang.
Tapi, faktanya memang begitu.
"Mas, kok kamu nggak happy, sih?" Tanya Vanessa dengan kerutan dahinya karena melihat ekspresi suaminya yang hanya datar ketika mereka sudah memasuki kawasan taman bermain yang pertama. Berbeda dengan mantan staff Bapak yang kegirangan, bahkan mungkin mereka lupa dengan status mereka yang seorang politikus atau pengusaha dan juga seorang kepala keluarga. Berbeda dengan suaminya, Mas bahkan hanya biasa-biasa saja. Tidak menunjukkan raut wajah tertarik dan euphoria.
"Happy kok." Ucap Mas yang menggendong Kai sedari mereka tiba.
"Terus kok biasa aja? Lihat tuh mereka malah lari-lari kayak anak kecil. Kamu kenapa nggak?" Tanya Vanessa yang menunjuk Lino, Agung, Deril, dan yang lainnya sangat heboh.
Mas tersenyum. "Mas happy kok, apalagi lihat kamu dan anak-anak senang diajak Bapak dan Ibu kesini, dan juga Mas yang harus jagain kalian disini. Ini tanggung jawab Mas untuk perhatiin kamu dan anak-anak di tempat seperti ini. Sedangkan mereka nggak bawa anak-anaknya, jadi bebas. Lagian, Mas mana suka wahana dan tempat bermain kayak gini, sayang."
"Tapi, aku boleh ikut main, kan? Hehehe.." Vanessa cengengesan.
"Boleh, sayang. Main aja sepuasnya dan sebahagia kamu. Anak-anak biar urusan Mas, nanti kalau mereka mau main sama kamu juga, nanti Mas kasih tahu. Main aja gih sama trio kembar." Ucap Mas yang membenarkan posisi ransel istrinya itu.
Vanessa menggeleng. "Ih bukan gitu, masa aku ninggalin anak-anak? Maksudnya aku juga ajak mereka, Mas."
"Tapi, itu Mbak Ati udah bikin list wahana apa aja yang mau dinaikin sama kamu dan yang lain." Sahut Mas yang menunjuk Ati sudah siap bersama Bintang dan Habib.
"Iya, tapi aku mau juga sama anak-anak, sama kamu juga." Ucap Vanessa dengan cemberut.
"Iya deh, Ibu Peri cantik." Mas tertawa kecil mengelus puncak kepalanya.
Tiba-tiba Naira menarik tangan Mas.
"PAPA, AYO KESANA!!" Ucap Naira dengan teriakan khasnya.
"Eh jangan lari-lari, sayang. Sebentar dulu." Mas menahannya.
"Ih kenapa lagi? Papa lama." Naira cemberut.
Mas menurunkan Kai dari gendongannya dan Rafa langsung menggandeng adiknya itu tanpa perlu Mas beritahu. Lalu, Mas berlutut di hadapan Naira, memasang tali sepatunya yang lepas.
KAMU SEDANG MEMBACA
He Fell First and She Never Fell?
Fanfiction"Jadi, saya jatuh dan cinta sendirian ya?" Disclaimer!⚠️ Ini fiksi nggak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata, tolong bijak dalam membaca dan berkomentar. Untuk readers baru, supaya nggak bingung, lebih baik baca dulu "The Qonsequences" baru ceri...
