Bagaimana jadinya jika seorang remaja laki-laki nakal dan tidak bisa di atur berpindah tubuh ke tubuh remaja yang polos penuh dengan penderitaan.
Bagaimana juga dengan sebaliknya, bagaimana jika seorang remaja polos berpindah tubuh ke remaja nakal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alvion membuka matanya perlahan, tangannya sedikit terasa kesemutan dan berat sekarang. Ia sedikit menoleh kesamping dan menghela nafas saat melihat tubuhnya sendiri yang berada disampingnya.
"Gua belom balik juga? Kenapa gua nggak kembali ke tubuh gua? Gua pikir gua mimpiin mimpi yang panjang. Ini aneh banget buat gua natap diri sendiri."Alvion terkekeh pelan, jika dipikir-pikir lagi bukankah ini sedikit lucu, sangat lucu malahan.
"Kenapa abang ketawa sendiri?"
"Woy!"Alvion mengusap dadanya, "Kenapa elo ngangetin gua!"
"Abang ketawa sendiri, jadi Vian bingung."
Alvion menghela nafas, "Ada-ada aja lo, nggak ada. Gua ngerasa lucu aja karena tubuh kita kok nggak balik lagi. Sekarang gini aja, elo berdiri dan jatuhin tubuh elo ke gua."
Alvian menggeleng,"Nanti abang sakit."Dia sudah tertimpa Alvion kemarin, jadi tahu rasanya seperti apa.
"Nggak akan, berdiri aja."Alvion menarik Alvian untuk berdiri. Dia berbaring di kasur."Oke sekarang jatuhin tubuh elo."
"Tapi abang ..."
"Ingat nggak ada kata tapi, udah turutin aja, kalo gua bilang harus ya harus aaaw!"Alvion merasakan kepalanya sakit."Kenapa elo jatuhin tubuh elo?!"
Alvian menggarukkan kepalanya sekarang, "Tadi abang yang nyuruh."
"Udahlah dan jangan selalu minta maaf, gua nggak suka. Elo tahu kan gua bukan ibu atau ayah elo, jadi elo nggak boleh minta maaf gitu lagi. Dah lah, keknya percuma juga, kita nggak akan ketuker."Alvion bisa melihat jika ia masih berada di dalam tubuh Alvian.
Alvion lagi dan lagi harus menghela nafas melihat Alvian masih menunduk, "Kenapa lagi?"
"Vian udah buat abang sakit, maaf ..."Alvian jadi merasa bersalah.
Alvian itu polos tapi begonya terlalu banyak, bagaimana lagi Alvion menjelaskan jika itu tidak apa-apa, sepertinya ini akan menjadi pr untuk Alvion sendiri.
"Nggak masalah, dan jangan minta maaf. Gua nggak suka, gua laper tapi kita bersihin diri dulu baru turun."Alvion menarik pelan tangan Alvian ke kamar mandi. Ia mencari odol dan sikat gigi lalu memberikannya pada Alvian."bersihin gigi elo, tenang aja ini baru."
Alvian menurut, dia melakukan apa yang Alvion suruh, bahkan gerakan mereka bersamaan saat menyikat gigi. Dan itu di sadari oleh Alvion.
Ia mengedikkan bahunya, mungkin hanya sama saja.
Setelah selesai Alvian lansung membuka piama'nya membuat Alvion melotot.
"Ngapain elo buka baju gitu."
"Kata abang bersihin diri,"jawab Alvian.
"Iya, tapi kita mandinya sendiri-sendiri, bukan sama gua. Gua nggak mau liat elo mandi, walaupun itu tubuh gua tapi nggak mungkin kita mandi berdua."Malu saja! Masa mereka mandi secara bersamaan.
"Bentar gua keluar dulu, gua akan siapin baju buat elo. Cepet mandinya, jangan pake lama."Alvion pergi dari kamar mandi itu.
"Aneh-aneh aja si Vian, nggak ngerasa malu kah dia?"Alvion mengambil pakaiannya untuk Alvian. Untung saja di lemarinya masih banyak pakaian dalam yang baru.
Alvion juga membuka pakaiannya, ia sedikit meringis melihat tubuhnya di kaca."Gua rindu tubuh gua, kecil gini. Nggak ada kotak-kotaknya lagi! Seharusnya ada kotak-kotaknya di sini."Ia mengusap perutnya yang rata itu. Tapi ia prihatin karena banyak bekas luka, seluruh badan Alvian ini banyak bekas luka yang sudah lama, dan yang paling parah ada bekas luka pada dadanya yang memanjang, walaupun itu terlihat samar tapi Alvion masih bisa melihatnya.
"Ngenes banget hidup lo Vian, tapi nggak apa-apa, elo udah aman sekarang. Jadi elo nggak perlu lagi ngalamin luka lagi kek gini. Ibu sama ayah lo emang nggak waras."
Alvion bisa mendengar pintu kamar mandi terbuka, berarti Alvian sudah keluar."Pake baju yang gua udah siapin di kasur, tunggu gua bentar. Gua cuma bentar aja mandinya."
Alvian mengangguk, ia tampak kedinginan, jadi ia harus cepat-cepat memakai pakaian.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Alvion keluar juga dan sudah berpakaian lengkap.
"Yok keluar, gua udah laper."Sambil mengandeng Alvian, Alvion membuka pintu kamarnya itu.
Tapi saat membuka pintu keduanya tertegun.
Kenapa mereka tidur di sini, apakah mereka semalaman berada di sini.
Alexa, Ellard, Xander dan Axian tidur dan bersandar di dinding.
"Alvion?"Axian yang pertama sadar, akhirnya adiknya itu membuka pintu. Ia mencium pipi adiknya itu yang sudah wangi membuat orang di sampingnya mengernyit.
"Selamat pagi juga Alvian, kau tampak lucu ..."
"Nggak usah pegang-pegang!"Alvion menghindar, cukup Alvian saja yang di cium, ia tak suka. Lagi pula hanya Alexa saja yang bisa menciumnya.
Axian tertegun, kenapa Alvian seperti ini, dia mirip seperti Alvion yang dulu. Tak mau di sentuh ataupun di cium.
"Vian, Vion."Alexa memeluk kedua anaknya itu, "Jangan marah, apa kalian masih marah sama mommy?"
Alvion memeluk Alexa dengan erat, ini baru pelukan yang hangat. Dia suka memeluk mommy'nya,"Nggak marah sama mommy, iya kan Vion?"
Alvian mengangguk, mereka bahkan tidak marah."Kami tidak marah."
Alexa tersenyum, ia mencium kedua putranya itu."Kalian memakai pakaian yang sama, sangat lucu."
"Ehem, menjauhlah dari dia."Ellard menarik Alvion ke arahnya."Pagi baby, dan pagi baby Vian."Ia ingin mengelus kepala Alvian tapi seperti yang dirasakan Axian.
"Jangan pegang-pegang,"Alvion memeluk mommy'nya, ia masih marah dengan daddy-nya itu.
Bibir Ellard berkedut mendengar itu, kenapa Alvian ini galak sekali. Padahal wajahnya lucu tapi sangat galak.
"Kenapa kau masih berada di sini? Kenapa belum pergi. Jika Alvian tidak masalah berada di sini. Kau pergilah."Usir Ellard pada Xander dan Alexa.
"Tidak kami tidak akan pergi, lagi pula Alvion juga anakku. Jadi aku bebas berada di sini."Alexa menjadi tangan Alvion ke sisinya."Mommy masih rindu, jadi jangan jauh dari mommy."Ini adalah kesempatan emas, jarang sekali bisa sedekat ini dengan Alvion.
Alvian dan Alvion saling memandang, mereka bertengkar lagi?
"Abang, kita harus buat mereka jangan bertengkar lagi."Bisik Alvian pelan.
Haruskah? Tapi bagaimana caranya?
Lihatlah tatapan permusuhan yang dilayangkan oleh keempat orang itu, sedikit menyeramkan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.