71. Apa!!

1.7K 117 10
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.










Kebohongan itu adalah perbuatan yang paling sangat kejam. Sangat kejam! Apalagi jika orang itu membohongi mereka tentang kematian seseorang.

Itu lah yang dirasakan Alvion dan Alvian sekarang.

Tatapan sendu terpancar dari mata mereka, mungkin lebih tepatnya. Ini adalah tatapan kekecewaan.

"Kenapa mommy bohong sama kita? Mommy nggak sayang sama kita lagi? Mommy kenapa bohong, bang Reon belum mati kan?"

Alexa tercekat melihat tatapan kecewa dari kedua anaknya itu. Ia menggeleng pelan,"Bu-kan seperti itu Vion ..."

"Mommy kenapa bilang kalau bang Reon udah tidak ada?" Alvian tak bisa menahan air matanya. Air mata itu menetes begitu saja. Dirinya benar-benar sedih sekarang."Vian kira, bang Reon udah pergi tinggalin Vian. Bang Reon janji akan jadi baik ... kenapa mommy bohong ..."

"Ini ... bukan ..." Dari mana Alexa menceritakannya, dirinya benar-benar tidak bisa berkata-kata. Bahkan ingin mengeluarkan sepatah kalimat pun rasanya tak sanggup sekarang. Ini salahnya."Kenapa aku mengiyakan permintaan Reon. Seharusnya aku tidak melakukan itu, lihat anak-anak tersiksa dengan kenyataan pahit ini," sungguh gila. Mungkin dirinya sudah gila karena mengiyakan permintaan Reon yang tidak berbobot itu.

Pantas rasanya jika Alvion dan Alvian marah sekarang. Kematian itu tak bisa di buat mainan. Mereka benar-benar bersedih karena mengetahui jika Reon sudah tiada. Tapi faktanya mereka malah di bohongi seperti itu. Memang ini salah mereka.

Alexa tak apa jika anak-anak marah padanya sekarang. Karena memang benar ini semua adalah kesalahan dirinya."Mommy minta maaf ..."

"Mommy jahat ..."

"Mommy kenapa bohongin kita ..."

Pecah sudah tangis dari kedua adik dan kakak itu, mereka tak menyangka jika Alexa bisa membohongi mereka dengan cara seperti ini.

"Maafkan mommy ..." Alexa mencoba untuk memeluk keduanya. Tapi sepertinya mereka masih marah. Tak mau disentuh atau pun di peluk oleh Alexa.

Xander yang melihat itu tak bisa tak menghela nafas."Lihat Reon. Kau yang melakukan ini, bukan hanya Vian dan Vion yang menderita. Kami juga."

Hanya karena menuruti permintaan konyol dari orang bernama Reon itu, mereka menjadi seperti ini.

Xander memeluk kedua adiknya, mencoba menenangkan adik-adiknya itu."Tenang, ini bukan salah mommy. Jangan menyalah'kan mommy ..."

Tak tega rasanya melihat Alexa yang tak berdaya melihat kembar yang marah seperti ini pada mommynya itu.

"Abang sama aja! Kenapa abang bilang kalo bang Reon udah nggak ada! Kenapa abang bohong sama kita!" Alvion memukul dada kekar milik abangnya itu,"Kenapa abang ikut-ikutan juga!"

"Maaf, maafkan kami. Akan aku jelaskan. Tapi tolong tenang. Vion, Vian. Dengarkan aku dulu, kalian percaya padaku kan? Tenang dulu, jangan menangis." Xander tak marah saat Alvion memukulnya. Ini wajar.

Dirinya juga mengusap air mata Alvian yang menangis histeris saat ini."Jangan menangis, Vian dengar penjelasan abang dulu,"

Alvian mengusap air matanya,"Penjelasan apa abang? Kenapa abang sama yang lain bohong sama kita, abang mau pisahin kita sama bang Reon ya ..."

Gelengan cepat sebagai reaksi dari Xander,"Itu tidak benar! Aku dan yang lain tak mungkin menginginkan hal itu, memang dulu kami marah pada Reon. Tapi sekarang kita sudah menerima Reon sepenuhnya. Bahkan mommy sudah mengangkat Reon menjadi bagian dari keluarga kita. Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak, kami tidak mungkin melakukan itu."

"Jadi kenapa kalian bohongin kita!" Alvion menghindar saat Xander ingin memegang tangannya.

Helaan nafas terdengar dari bibir Xander."Aku akan menjelaskannya, tapi kalian jangan menyela atau bereaksi apapun." Takutnya, mereka akan shok saat mengetahui jika Reon sudah dalam keadaan tidak sempurna."Berjanji jika kalian tidak akan shok nantinya,"

Alvion dan Alvian menatap satu sama lain. Apa lagi ini, apakah ada rahasia lain yang disembunyikan oleh Alexa dan lainnya.

Dengan ragu kedua anak kembar itu mengangguk. Mereka ingin mendengar penjelasan dari abang sulung mereka itu.

Xander memejamkan matanya sesaat, kemudian melihat Alexa yang memalingkan wajahnya. Sepertinya mommy'nya itu tak akan sanggup jika menceritakannya sendiri. Biarkanlah dirinya bercerita pada mereka.

"Apa bang! Kenapa lama banget ngomongnya? Apa alasan kalian bohongin kita!" Alvion sungguh tak sabar saat ini.

"Apa abang ..." Alvian juga tak sabar mendengar penjelasan dari abangnya itu.

"Sebenarnya, kami melakukan ini karena ..." Xander menghela nafas pelan."Reon yang memintanya sendiri. Dia tidak ingin kalian tahu jika dia sudah tidak seperti manusia normal lagi,"

Ada kerutan tercetak jelas di dahi Alvian dan Alvion.

Tidak seperti manusia normal lagi? Maksudnya seperti apa, mereka tidak mengerti.

"Maksudnya apa bang! Yang bener ngomongnya!"Alvion sungguh jengah dengan abangnya itu.

"Apa bang Reon jadi vampir makanya dia tidak seperti manusia normal?"

Bibir Xander berkedut mendengar ucapan yang tercetus dari Alvian itu. Kenapa adiknya yang ini malah memikirkan hal yang seperti itu."Bukan seperti itu, Vian."

"Jadi seperti apa? Kenapa bang Reon tidak normal?" Alvian bertambah bingung sekarang. Kenapa Xander sungguh bertele-tele.

"Reon ... Reon sudah tidak seperti manusia normal karena kaki kirinya sudah di amputasi. Dia malu pada kalian, makannya itu dia tidak ingin lagi bersama kita dan memilih untuk tinggal sendiri ..."

"Apa?!"

Alvian dan Alvion terkejut mendengar itu, mereka tak salah dengar bukan.

Kaki Reon sudah di amputasi? Kenapa bisa!

Voted →coment→ follow

Voted →coment→ follow

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alvion & AlvianCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang