69.Kenapa?

1.8K 134 8
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.














Sudah satu bulan sejak hari itu, ingatan Alvian mulai membaik.
Dia bisa mengingat tentang semua orang. Termasuk Reon.

Sesuai apa yang mereka pikirkan. Alvian benar-benar terkejut setelah mengetahui semuanya. Dia hanya bisa murung.

Alvian merasa ia tidak bisa bertemu lagi dengan abangnya itu. Padahal Reon sangatlah baik.

"Mom, lagi?"

Alexa hanya bisa menghela nafas,"Aku tidak tahu harus melakukan apa, Xander. Vion dan Vian tak lagi seperti dulu. Mereka ... mereka seakan hidup tapi tak bersemangat.

Xander menepuk pelan pundak mommy'nya itu,"Biar aku atasi,"ia berjalan mendekat ke arah kedua adiknya yang menatap langit malam.

Ini sudah malam, bahkan sudah melewati jam makan malam yang seharusnya. Tapi kedua adiknya itu tampak seperti tidak lapar.

Jangan tanya sekarang tubuh mereka bagaimana. Mereka sangat kurus bahkan pipi Alvian yang bulat kini tampak lebih tirus.

"Adik abang yang paling imut, bagaimana jika kita makan malam? Mommy dan yang lain sudah menunggu,"

Kedua bocah itu menoleh, setelahnya menunduk dan memainkan jari mereka.

"Nggak laper bang, besok aja makannya,"

"Vian tidak lapar, tadi Vian makan ini,"tunjuknya pada cookies yang berada di toples itu.

"Itu tidak akan kenyang, Vian. Kita makan sekarang. Tidak ada penolakan." Xander mengendong kedua adiknya itu bersamaan.

Berat? Tentu saja tidak. Mereka berdua sudah kurus, bahkan mengendong mereka sungguh tak terasa bagi Xander yang bertubuh kekar.

Adiknya tak boleh begini terus, mereka terus saja merasa bersalah atas perginya Reon. Padahal mereka tak ada kaitannya dengan masalah Reon.

"Sini anak mommy, makan yang banyak ya," Alexa menaruh nasi, sayur dan lauk di piring kedua anaknya itu, bahkan jika boleh jujur, Alexa menambah vitamin penafsu makan untuk kedua putranya. Alasannya tentu saja agar kedua putranya bisa makan dengan baik.

Tapi kenyataannya malah sebaliknya. Alvion dan Alvian sepertinya tak mempan dengan vitamin penafsu makan itu.

Tak ada reaksi dari tubuh mereka ataupun makan dengan lahap.

"Bang Axian mana mommy?"tanya Alvion. Ia melirik ke arah tempat duduk yang biasa di duduki oleh abang keduanya itu, tapi tak tampak ada sang empu di sana.

"Dia sedang keluar kota sayang, kenapa? Anak-anak mommy rindu? Jika iya mommy akan menyuruh dia pulang sekarang,"

"Tidak mommy, jangan nganggu abang. Pasti dia lagi sibuk kerja. Nanti keganggu," ujar Alvian, tak mau rasanya menganggu Axian yang tengah di landa sibuk sekarang.

"Iya mommy, nggak apa-apa. Kita nggak rindu kok,"

Alexa tersenyum,"Padahal Axian tadi sudah berkata jika kalian merindukan dia, mommy harus kasih tahu supaya dia bisa pulang secepatnya. Baiklah karena kalian tidak rindu, mommy tidak akan memberitahu."

Bagus saja Axian pergi keluar kota, jika tidak maka mereka akan di ganggu oleh kedua abangnya itu.

"Buka mulutnya, Vian." Alvion menyuapi makanan ke dalam mulut adiknya itu.

Alvian hanya menurut saja, ia memakannya.

Lucu sekali, kadang pemandangan ini begitu menggemaskan. Tapi itu hanya bertahan sebentar. Seperti sekarang.
Setelah beberapa menit, kedua bocah itu mengeluhkan jika mereka sangat kenyang.

Alvian makan dengan habis, hanya tersisa sayuran saja sedangkan Alvion hanya makan setengah dari piring yang penuh itu.

"Kenapa cepat sekali, kalian harus makan lagi. Habiskan makanan kalian, jika tidak maka tidak boleh pergi," bukan maksud Xander untuk memaksa adiknya itu untuk makan, tapi ia rindu dengan adiknya yang dulu. Makan dengan lahap dan tubuh mereka yang berisi."Kalian tidak melihat mommy sedih?"

Alvion dan Alvian memandang satu sama lain. Mereka melihat Alexa yang memandang sendu kearah mereka.

Benar juga, pasti Alexa sudah payah menyiapkan makanan ini untuk mereka.

"Vian akan habiskan,"ia mengambil kembali sendok dan menyuapi sayuran yang berada di piring itu.

Begitu juga dengan Alvion, rasanya tak tega jika melihat Alexa yang menatapnya sedih.

Makanan ini tentu saja sangat enak, tapi mereka hanya tak berselera makan.

Alexa menatap Xander dengan senang,"Terima kasih,"

Xander tahu itu,  tak perlu berterima kasih. Kedua bocah ini juga adiknya. Jadi ia akan berusaha agar adiknya kembali ceria seperti dulu, semoga saja adiknya tak lagi bersedih dan melupakan masa lalu yang kelam dulu.

Sementara itu, Axian yang kini berada di kota lain menatap kedua adiknya dengan senang. Hari ini ada perubahan dari adiknya itu.

Dia melihat mereka dadi cctv yang terkoneksi dalam ponselnya. Rasanya ingin sekali bersama mereka saat ini dan makan bersama.

"Mereka sungguh berbeda dari sebulan yang lalu, adikku kurus sekarang, bahkan tak ada lagi lemak pada pipinya."

Sedih, rasanya sungguh sangat sedih karena tak bisa melihat keceriaan adiknya."Ini semua gara-gara dirimu, Reon. Kenapa kau malah meninggalkan adikku? Kenapa kau malah memutuskan untuk pergi dan tidak kembali? Kau ingkar janji pada adik-adikku. Jika saja aku tidak kasihan, aku akan memukulmu hingga kau sekarat."

"Kenapa kau melakukan ini pada mereka, mereka hanya anak-anak yang masih sensitif. Belum bisa menerima semuanya."

Axian mengusap kasar wajahnya, ia sungguh geram dengan orang yang bernama Reon itu."Kenapa kau melakukan ini pada kami, Reon? Kenapa?!"

"Karena aku tidak layak, aku ... tidak layak untuk mereka sebut sebagai abang,"

Axian menatap laki-laki di depannya ini dengan marah."Kau hanya memikirkan dirimu sendiri!"

Voted→ coment →follow

Alvion & AlvianCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang