72. Adil? Benar, tapi tidak pada dirinya ...

1.9K 128 23
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Dunia ini adil, tapi sepertinya hanya untuk sebagian orang saja.

Sama seperti Reon. Ia merasa dunia menindasnya sekarang.

Jujur, Reon benar-benar merasa jika dirinya memang tak berguna sekarang.

Ah apa ini karena sebuah karma? Sepertinya iya, Reon tahu itu. Ini Pasti karena sebuah karma.

Dulu, ia menculik Alvian yang masih tak tahu apapun dan membuat hidup anak itu menderita. Tersiksa dan terluka, bahkan tak bisa menikmati hidup layaknya anak seusianya.

Bukan hanya Alvian saja, Alvion juga sama. Karena dirinya melakukan itu, Alexa dan Ellard menjadi bertengkar dan tak ingin bersatu kembali.

Tapi ada satu pertanyaan yang paling tak bisa Reon hindari. Satu pertanyaan saja.

Ya benar, dirinya tahu dirinya sudah dewasa, bahkan sangat dewasa, usianya bahkan lebih tua dirinya dari pada Xander.

Tapi jika di tanya apakah sifatnya seperti orang dewasa maka jawabannya adalah tidak.

Tak mungkin jika memiliki sifat orang dewasa akan iri pada saudaranya yang lain.

Benar sekali, dirinya seperti anak-anak, bahkan lebih anak-anak dari pada Alvian yang begitu polos.

Mungkin karena dirinya anak haram yang tak di didik baik oleh orang tua.

Tak pernah mendapatkan kasih sayang layaknya anak pada umumnya.

Mungkin perilakunya datang dari sana.

"Apa aku layak bahagia?"

Bahagia itu seperti apa? Bagaimana rasanya?

Reon tak pernah merasakan hal itu.

Reon merasa sepi. Hidupnya, hatinya bahkan jiwanya sangat sepi.

Tak ada teman, sahabat dan keluarga.

Mungkin orang banyak yang tak tahu, tapi gunjingan sedari kecil yang dia dengar membuat hati Reon sakit.

Dulu, saat Reon di peluk oleh Ellard. Dirinya akan merasa senang. Sangat senang. Ia pikir walaupun Ellard tak mengakui dirinya sebagai anak di depan umum. Tapi Ellard tetap menyayanginya.

Tapi kenyataannya malah sebaliknya.

Kata tunggu yang Reon selalu nantikan dari Ellard berakhir menjadi pahit.

Sangat pahit, anak kecil yang selalu menantikan kata tunggu itu sungguh sangat ceria awalnya.

Tapi kenapa setiap hari selalu saja alasan yang berbeda yang Ellard lontarkan.

Anak kecil yang tak tahu apa-apa itu lama kelamaan membenci kata tunggu.

Tunggu! Menunggu!

Reon muak mendengarnya. Dan Reon kecil yang tak tahu apa-apa seketika membenci orang yang mengucapkan kata tunggu dan seluruh keluarganya.

"Maaf ... aku benar-benar tak layak di sebut sebagai manusia."

Sungguh, Reon sangat membenci dirinya sendiri.

Kenapa dirinya melakukan itu pada mereka yang tak tahu apa-apa. Hanya karena keegoisan dirinya.

Tapi sepertinya karma itu sudah berjalan pada dirinya.

Sekarang dirinya sudah mendapatkan hal yang ia lakukan dulu.

Cacat. Kaki kiri yang diamputasi ini Reon anggap sebagai balasan dari perbuatan dirinya dulu.

Dan soal janji dirinya pada Alvion dan Alvian ...

"Aku tidak bisa berjanji untuk kembali, kalian pasti akan malu jika melihatku ..."

"Maaf Vian, Vion. Aku ... ingkar janji ..."

"Apa yang aku lakukan agar cepat mati? Bahkan mati pun aku tidak bisa ..."

Kenapa susah sekali, tak ada apapun yang bisa membuat dirinya mati. Reon ingin mati saja, percuma juga hidup bukan? Dirinya juga tidak berguna.

Alexa dan yang lain sungguh hebat, bahkan mereka tak meletakkan benda tajam di sini. Apa yang harus ia gunakan agar bisa melukai dirinya sendiri.

"Bang Reon!"

Reon membeku di tempat, jantungnya seakan berhenti berdetak saat ini.

Apa dirinya tak salah dengar, itu suara Alvian?

Tidak, tidak mungkin Alvian berada di sini. Dirinya pasti berhalusinasi.

"Bang Reon!"

Sekali lagi! Kali ini ia mendengar suara Alvion. Apa dirinya begitu merindukan mereka hingga mendengar suara mereka saat ini.

Tapi sesaat kemudian punggungnya merasakan pukulan kecil.

"Abang jahat! Abang jahat! Kenapa abang bohongin kita! Kenapa abang bohongin kita! Abang jahat!"

"Kenapa abang bohong! Abang bilang janji akan balik lagi! Kenapa abang bohong sama kita! Abang jahat!"

Ini ... bukan mimpi ataupun halusinasi.  Alvion dan Alvian benar-benar berada di sini. Di depannya.

Kedua anak kembar itu tak hentinya memukul Reon, tapi sesaat kemudian keduanya berhenti dan menangis. Mereka memeluk Reon dengan erat.

"Abang ... kenapa abang bohongin kita, abang jahat ..."

"Aku benci sama abang, abang bohongin kita ..."

Tak bisa membendung perasaan mereka. Benci, marah, dan rindu.

Mereka benci pada Reon karena Reon membohongi mereka.

Mereka marah pada Reon karena Reon yang egois.

Tapi mereka rindu pada Reon.

Ternyata abang mereka yang bernama Reon itu masih hidup bahkan mereka bisa melihat dengan jelas sekarang.

Entah senang atau apa mereka tak tahu, Alvion dan Alvian bingung dengan perasaan mereka sekarang.

Alexa, Xander dan Axian turut meneteskan air mata mereka.

Rahasia? Tidak ini bukan rahasia lagi, tak bisa rahasia kematian Reon di sembunyikan lagi.

Alvion dan Alvian bukan anak kecil yang bisa di tipu lagi. Apa lagi mereka sudah mendengar penjelasan dari mereka. Mau tak mau, mereka harus mengizinkan kedua anak manis itu untuk bertemu dengan Reon.

Tak peduli jika Reon marah nantinya, ini demi mereka, demi kembar yang selama ini selalu menyalahkan diri mereka sendiri karena kepergian Reon.

Lihat! Seberapa bencipun mereka pada Reon karena Reon berbohong pada mereka. Tapi tetap saja mereka masih menyayangi Reon.

Mungkin ini namanya ikatan adik dan kakak. Mereka benar-benar menyayangi Reon.

Alexa tersenyum getir,"Maaf, Reon. Aku memberitahu mereka yang sebenarnya. Aku melakukan ini karena mereka berhak tahu."

Voted →coment →follow

Voted →coment →follow

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alvion & AlvianCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang