Bagaimana jadinya jika seorang remaja laki-laki nakal dan tidak bisa di atur berpindah tubuh ke tubuh remaja yang polos penuh dengan penderitaan.
Bagaimana juga dengan sebaliknya, bagaimana jika seorang remaja polos berpindah tubuh ke remaja nakal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Semenjak kejadian itu, mereka benar-benar memantau Reon dengan hati-hati. Kemanapun dia akan pergi akan di pantau, bahkan barang-barang yang berada di sekitarnya tak lagi ada yang bisa di pecahkan ataupun ada benda tajam yang lain.
Dan Reon tidak risih dengan itu, ia hanya tertawa saja melihat tingkah mereka yang sangat menjaganya seperti ini. "Aku tidak akan melakukan apapun, kalian tenang saja, aku tidak akan berpikir buruk seperti waktu itu lagi."
Lagi pula Reon sudah berjanji tidak akan melakukan hal itu lagi, bahkan tidak akan pernah memikirkan tindakan yang akan membahayakan dirinya sendiri."Aku sudah sadar sekarang. Aku tidak ingin mereka yang menyayangi ku kembali kecewa padaku."
"Nggak bang, kita akan mantau abang. Pokoknya apa yang abang lakuin akan kita liat dan pantau langsung, bener kan dek?"Alvion membantu melepaskan perban yang berada di pergelangan tangan Reon saat ini dia menggantikannya dengan yang baru.
"Benar abang, kita akan liatin abang terus, dan akan jagain abang sampai abang sembuh, eh ... nggak-nggak! Kalau abang sudah sembuh pun akan kita pantau supaya abang tidak lagi bunuh-bunuh!" Alvian setuju dengan ucapan abangnya itu.
"Baiklah, terserah kalian saja." Reon tak akan risih karena kedua adiknya lah yang terus menjaganya seperti ini.
"Ingat, Reon. Jangan lakukan itu lagi, sekarang minum obat dulu." Alexa tersenyum, ia memberikan tablet obat dan air pada anaknya.
Karena kondisi Reon belum membaik sepenuhnya, dia harus di pantau dan diberikan obat agar luka di tangannya cepat sembuh. Menurut dokter, Reon melakukan ini karena dia juga mengalami stres. Maka dari itu mereka harus memperhatikan Reon.
"Tidak akan, aku tidak akan melakukan itu lagi. Kali ini aku bersumpah, aku tidak akan melakukan hal yang bodoh." Reon melihat kedua adiknya yang lucu."Apalagi ada kembar dan kalian yang berada di sisiku. Seharusnya aku yang minta maaf karena sudah membuat kalian khawatir."
"Kami sudah mengatakannya juga kan? Kami tidak akan memaafkanmu jika kau melakukan hal bodoh itu lagi, "Xander menepuk pundak Reon." Tapi karena kau tidak melakukan itu lagi maka kami akan memaafkanmu. Kau sudah jadi bagian dari kami, ceritakan apapun yang membuatmu terganggu, Reon."
Hasil pemeriksaan Reon membuat mereka hanya tersenyum miris karena dia memiliki depresi yang parah.
"Jangan tutupi apapun itu, kau sudah menganggap kami keluargamu kan? Atau kau tidak menganggap kami keluarga?"Xander menatap Reon dengan curiga.
Reon menggeleng,"Tidak, tentu saja aku sudah menganggap kalian sebagai keluargaku. Hanya saja ..."
Tahu sendiri, Reon tidak tahu harus mengatakannya dari mana, tak mungkin dia mengatakan jika dia sangat stres karena sangat kehilangan salah satu anggota tubuhnya. Dia sedikit malu menceritakan hal itu.
"Tidak apa-apa, itu dulu. Tapi sekarang apapun itu, kau harus menceritakan apa yang kau pikirkan jika ada yang menganggumu. Kau mengerti? Kami akan selalu ada untukmu." Axian juga menepuk pundak Reon."Kau keluarga kami."
Reon paham, dia hanya mengangguk saja. Jika dipikir-pikir, kenapa juga dia bunuh diri, padahal keluarganya sebaik ini padanya."Mungkin aku sudah gila, hanya mengkhawatirkan diriku saja tanpa memikirkan mereka. Ayo Reon, lupakan masa lalu. Sekarang waktunya menjalani hal yang baru bersama Vion dan Vian. Dan orang yang benar-benar ada untukmu."
"Nah gitu dong, abang senyum. Kemarin-kemarin suram banget tuh muka." Alvion memberikan jempolnya pada Reon."Pokoknya kalo ada apa-apa harus ngomong sama kita, janji ya bang."
"Baiklah, aku berjanjilah."
Tampak sekali wajah Reon berbeda sekarang, sepertinya dia benar-benar menyesal dan lebih menerima dirinya sendiri. Dia tampak lebih bahagia.
"Bang Reon! Nih, buahnya, maaf ya. Mama sama papa nggak bisa dateng. Mereka lagi kerumah sakit buat ngecek kondisi mama. Nanti kalo udah selesai katanya mereka bakalan ke sini buat jenguk bang Reon juga." Deon menyerahkan bingkisan buah itu ke arah Reon.
"Seharusnya tidak perlu memberikan ini,"Reon jadi tidak enak. Gara-gara dirinya semua orang menjadi khawatir seperti ini.
"Nggak apa-apa bang, kan bang Reon lagi sakit, jadi kalo makan buah, abang nantinya cepet sembuh." Deon hanya menatap ngeri ke arah tangan Reon yang di pegang itu."Sakit ya bang?"
"Jangan di pegang, Deon! Nanti berdarah lagi." Alvion menepis tangan Deon secepat mungkin.
"Lah pegang doang, kan nggak gua teken lukanya, Vion."
"Heleh, nanti kalo berdarah beneran gimana? Elo kan takut sama beginian?" cibir Alvion dengan sinisnya.
"Lah, mana ada! Gua nggak takut ya, kalo ngeliat luka begitu nggak akan buat takut."
"Yang bener? Jadi siapa yang lari pas waktu bang Reon bunuh diri? Tiba-tiba aja hilang, bahkan batang hidungnya aja nggak keliatan. Bukannya bantuin manggil dokter ini malah lari!" Alvion memutar matanya malas."Di kira gua nggak tahu dia lari pas ngeliat bang Reon bunuh diri semalem!"
Deon tercekat mendengar itu."Nggak ada, mana ada gua takut. Semalem perut gua nggak enak banget rasanya. Makanya itu mau cepet-cepet pulang!" Ia jadi malu sendiri jika mengakuinya."Siapa yang nggak takut liat orang bunuh diri ege! Kan serem banget, apalagi ngeliat tangannya bang Reon kayak mau putus gitu, mata gua jadi kunang-kunang sendiri!"
"Alesan, lo kira rumah gua nggak ada toilet? Bahkan obat pun ada, kalo perut elo sakit, ya tinggal bilang sama maid, nanti bakal di kasih, bukan pulang sambil lari!" Alvion berdecih."Bilang aja takut!"
"Mana ada! Gua nggak takut ya, mana kepikiran buat minta obat. Gua ..."
"Sudahlah kalian, jangan bertengkar lagi. Tidak apa-apa jika Deon takut Vion. Tidak semua orang berani melihat luka terbuka seperti itu."Alexa hanya menggeleng saja mendengar mereka berdebat seperti ini.
"Mommy, aku nggak takut ya! Cuma nggak berani aja ..."ucap Deon dengan nada pelan di akhirnya.
"Sama saja Deon!"
Mereka berucap bersamaan, Deon ini sungguh aneh, bukankah itu artinya dia juga takut.
Deon hanya mengusap lehernya saja dengan canggung saat mendengar itu."Sama ya?"
"Iya!!"
Vote→Comment →Follow
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.