99. Jangan gila

929 49 10
                                        

"Vion! Kau gila! Dasar bodoh! Apa yang kau lakukan! Jangan ke sana!"

"Nggak mau, bang. Vion mau tes jantung Vion ..."

"Jangan gila! Kau ini kenapa?!"

Xander memeluk adiknya itu, entah pemikiran liar mana yang merasukinya hingga menjadi seperti ini.

Alvion tiba-tiba saja ingin mengetes kecocokan jantung untuk Alvion. Benar-benar tidak habis pikir.

"Kau mau mati!"

"Lepasin! Apa salahnya gua mati bang!" Alvion memberontak. Dia menatap Xander dengan tajam."Apa salahnya Vion mati demi Vian, bian udah lama menderita bang. Gua udah muak sama hidup gua yang sehat-sehat aja!"

Jika cocok dia bisa mendonorkan jantungnya kan. Tapi saat itu juga hari terakhir baginya karena tak bisa hidup di dunia ini lagi.

"Jangan gila!"Xander mengendong Alvion. Tak peduli jika adiknya memukulnya.

Siapa yang menginginkan adiknya mati begitu saja demi mendonorkan jantungnya.

Mereka tidak sejahat itu, lagi pula belum tentu jantung Alvion cocok bagi Alvian.

Dan satu lagi, transplantasi jantung hanya bisa pada orang yang sudah mati, mereka tidak mungkin membunuh orang lain.

"Lepasin, bang ... mau Vian sembuh, nggak mau liat Vian pergi ..."

Xander menangkup pipi adiknya itu, dia juga menangis saat ini."Aku tidak mungkin membiarkan mu mati, Vion. Aku tidak mungkin Melaka itu!"

"Tapi Vian bisa mati bang!"

"Diam! Kau tidak tahu apapun, memangnya kau Tuhan yang bisa tahu ikuti seseorang? Vian belum di pastikan akan mati, kita terus akan mencari donor jantung untuk, Vian! Jadi jangan berpikir begitu terus. Jangan seperti ini. Jangan membuat aku gila!"

Adiknya yang satu lagi tengah sakit, dan adiknya yang ini malah akan sakit karena dia sangat gila. Ingin bunuh diri hanya untuk mendonorkan jantungnya. Sungguh benar-benar gila.

"Tapi bang!"

"Vion! Haruskah aku berlutut padamu! Haruskah aku mencium kakimu saat ini baru kau mendengar apa yang aku katakan! Haruskah! Katakan Vion! Haruskah aku melakukan itu!" Xander sudah muak dengan tingkah Alvion yang tak mau mendengar apa yang ia sebutkan ini."Aku mohon ... jangan lakukan hal yang gila, kau adikku. Jangan pergi meninggalkan kami dengan cara begini. Cukup Vian saja yang membuat kami kehilangan akal sehat. Tolong Vion, jangan bertindak gegabah."

"Ba-ng ..."Alvion membantu Xander berdiri, dia tidak mau melihat Xander yang berlutut seperti itu.

"Kami juga pusing memikirkan nasib Vian ... aku mo-hon jangan gila ..."

Tak hanya Alvion saja yang menginginkan Alvian sembuh. Mereka juga mengiginkan hal sama.

Bahkan mereka ingin Alvian tidak akan melakukan operasi lagi nantinya, cukup saat ini saja.

Hanya satu jantung, tapi dia bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami. Tidak ada yang instan seperti itu. Harus bersabar dan berdoa. Berdoa agar Alvian bisa di panjangkan umurnya sebelum mendapatkan jantung itu.

"Maaf bang ..."Alvion memeluk Xander. Dia hanya takut, takut adiknya pergi. Itu saja. Masih belum rela jika Alvian pergi begitu saja.

Mereka belum menghabiskan banyak waktu dengan Alvian.

Bahkan mereka harus berpura-pura tidak terjadi apapun pada Alvian saat ini. Takut jika Alvian tahu yang sebenarnya maka dia akan drop kembali.

Setiap hari harus selalu saja ada alasan agar membuat Alvian percaya jika dia dibawa kerumah sakit hanya untuk pemeriksaan rutin.

Alvian merasa kesakitan pada dadanya. Dan mereka tidak kuat mendengar rintihan itu. Alvian tidak akan pernah mengatakan sakit jika dia tidak benar-benar sakit.

Siapa yang kuat mendengar rintihan dari adik mereka.
Ingin rasanya mereka turun tangan langsung mengobati Alvian, tapi mereka bisa apa.

Kekayaan tak akan pernah membeli sebuah kehidupan. Percuma mereka kaya jika tidak mendapatkan jantung yang sesuai dengan tubuh Alvian itu.

"Aku tidak masalah jika kau bersedih, kita juga sama. Tapi jangan melakukan hal yang gila, Vion. Jangan Melaka hal yang gila."

Semua orang bersedih saat ini, jika Alvion melakukan hal gila itu maka mereka akan bertambah gila.

"Tolong, satu orang saja, hanya untuk Vian. Kami tidak ingin kehilangan dia. Kami tidak ingin dia pergi. Jangan biarkan dia berada di sisimu. Tolong kali ini saja kabulkan doa kami. Jangan bawa, Vian. Vian kesayangan kami."

Semoga saja ada, mereka tak mengharapkan orang mari dengan cepat, tapi setidaknya ada salah satu orang yang mati otak dan bisa mendonorkan jantungnya untuk Alvian.

Alexa tak kuat, ia hanya memukul dadanya saat melihat kedua anaknya yang tengah menangis di sana.

Dia harus melakukan apa agar Alvian bisa selamat dari maut."Kenapa ada lagi masalah yang berat seperti ini. Apakah aku akan gila?"

Sepertinya mereka akan dibuat gila perlahan-lahan jja seperti ini, kepala mereka sakit. Setiap hari tidak bisa tidur dan terjaga dalam keadaan terkejut.

Memeriksa detak jantung Alvian apakah masih ada atau tidak. Itu lah yang mereka takut'kan.

"Jangan ambil, Vian. Jangan juga ambil, Vion."

Mereka harus mengawasi Alvion, bisa saja dia melakukan hal yang gila lagi seperti tadi.

Rasanya lelah sekali, ingin tidur dan jika sudah bangun maka masalah ini akan hilang. Tapi sepertinya itu hanya angan-angan saja, mereka tidak bisa mengubah takdir begitu saja.

Tapi mereka akan berusaha. Ini baru saja beberapa hari bukan, jadi mereka harus fokus mencari jantung untuk kesayangan mereka, Alvian.


Vote→ Comment→ Follow

Alvion & AlvianCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang