84.Salah gua

1.2K 87 16
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.









Keguguran, itu lah yang dikatakan oleh dokter. Janin yang berada di dalam perut Dwi tidak bisa di selamatkan karena benturan yang keras. Hingga akhirnya dokter terpaksa mengangkat sisa-sisa janin itu.

Alvion yang mendengar itu tertegun, sedih, terkejut dan perasaannya campur aduk saat ini, ia tak menyangka karena apa yang ia lakukan membuat Deon kehilangan adiknya. Ia memegang bahu Deon yang hanya diam saja sedari tadi."Deon, gua minta maaf, gua bener-bener nggak sengaja ..."

"Apa!"Deon menjauh."Liat! Gara-gara elo adik gua udah nggak ada! Elo iri kan sama gua karena punya adik! Elo iri beneran tenyata! Sialan lo! Elo udah buat adik gua pergi! Pergi! Jangan ada di sini! Gua nggak mau liat muka elo lagi, emang brengsek ya lo! Pergi!"Ia mengusap air matanya. Padahal ia sudah menantikan hal itu. Adik barunya yang pasti akan imut nantinya setelah lahir.

"Deon, apa yang kau bicarakan."Bagas membawa Deon dalam pelukannya."Ini bukan salah, Vion. Sudah jangan bertengkar. Vion jangan di ambil hati perkataan Deon. Dia masih marah."

Alvian mendekat dan memegang tangan Deon."Abang, jangan marah. Bang Vion ..."

"Apa! Elo adiknya pasti belain dia lah! Papa juga sama! Kenapa papa jadi belain dia! Dia udah buat adek pergi!"Deon pergi dari sana dengan cepat dengan masih sesegukan.

Bagas hanya bisa menghela nafas saat melihat kepergian anaknya itu."Jangan di ambil hati, Vion. Deon masih marah karena ini adiknya yang pertama. Sudah takdir dan tak perlu saling menyalah'kan. Vion, Vian, sebaiknya kalian jangan bertemu dengan Deon terlebih dulu, biarkan dia tenang sebentar. Nanti akan ku kabari ke kalian jika dia sudah membaik.  Kalau begitu aku pergi dulu." Setelah berucap seperti itu, Bagas mengusap rambut keduanya dan menyusul Deon pergi.

Alvian memeluk abangnya itu,"Abang jangan sedih, bang Deon nanti pasti baik lagi sama kita." Ia juga mengusap air mata yang hendak jatuh di pelupuk mata Alvion.

"Ini salah gua, Vian."Alvion membenamkan wajahnya keceruk leher adiknya itu."Kalo aja gua nggak jatohin makanannya pasti mama Dwi juga nggak akan kaget dan ikut jatuh. Dia pasti nggak akan keguguran. Pasti dia masih sehat aja sekarang. Deon bener, ini salah gua."

"Ini bukan salah abang, abang nggak salah!"

"Salah gua ..."

"Abang ..."

Xander membawa Alvion dalam pelukannya, ia mengendong adiknya itu. Kali ini tidak ada penolakan dari sang empu."Vian, biarkan Vion sendiri sebentar. Aku akan membawa Vion pulang. Kalian menyusul lah, nanti." Adiknya itu sangat sedih sekarang. Alvion juga butuh waktu.

Tampak sekali jika Alvion masih syok saat di salahkan oleh Deon tadi.

Axian dan Alexa berada di sana hanya mengangguk saja. Mereka tadi juga membawa mobil jadi tak masalah jika Xander pulang terlebih dahulu. Mereka datang ke sini dengan segera saat Xander mengabari kejadian ini.

Terkejut juga saat mengetahui kejadian buruk ini menimpa Dwi. Padahal tadi baik-baik saja. Memang takdir tak ada yang tahu.

"Mommy, ini bukan salah abang, tadi kita sama-sama angkat makanan terus ..."

Alexa memeluk anaknya itu,"Mommy tahu, Vian. Xander juga sudah menjelaskannya. Deon sedang marah sekarang makanya itu dia bersikap seperti itu pada Vion. Dia bersikap seperti ini karena masih syok, ingatkan kata Bagas tadi? Ini adik pertama Deon. Pasti dia sangat menyayangi adiknya itu."

Ada-ada saja, setelah mereka sedikit bahagia ada saja masalahnya. Tapi itu tidak bisa di salahkan bukan.

Alvian memeluk mommy'nya itu."Mommy, gimana caranya buat bang Deon nggak marah lagi sama abang? Kasihan abang jadi sedih ..." Ia bisa melihat Alvion yang juga terpukul sekarang.

"Biarkan mereka tenang dulu, nanti kita pikirkan cara agar membuat mereka baikan." Axian tersenyum tipis, "Mereka pasti akan kembali seperti dulu. Dulu mereka juga pernah bertengkar, dan kembali berbaikan seperti semula."

Alvian berpikir sejenak."Pokoknya Vian harus bantu bujuk bang Deon supaya bang Deon nggak marah lagi sama bang Vion! Kan nggak boleh berantem!"

Mereka semua teman lebih tepatnya keluarga jadi tidak boleh saling membenci seperti ini.

"Baiklah sekarang kita pulang, besok baru boleh menjenguk Dwi."Alexa memegang tangan anaknya itu yang masih melihat ke arah Deon pergi.
Biasanya Deon tidak akan marah lama pada Alvion. Semoga saja seperti itu. Ia takut jika mereka malah jadi bermusuhan.

Deon  yang dibicarakan saat ini tengah mengelus perut ibunya itu, ia masih menangis saat ini. Sudah lama sekali ia menunggu adik baru, tapi malah pergi begitu saja meninggalkannya.

Dwi masih belum sadar karena pengaruh obat, jadi Deon hanya bisa memeluk ibunya itu agar bisa menangis sepuasnya."Adek ... kenapa pergi cepet banget ..."

Bagas yang memperhatikan itu sedikit tersentuh, biasanya Deon sangat ceria tapi kali ini dia menangis seperti ini.

"Deon ..."

"Jangan ke sini, papa pasti mau bilang jangan marah sama Vion, terus marah sama siapa! Dia udah bikin adek pergi ..."Deon mulai menangis kembali.

Bagas diam kali ini, ia membawa Deon dalam pelukannya. Baiklah, mungkin anaknya memang perlu waktu. Biarkan saja dia menangis seperti ini. Mungkin setelah Dwi sadar nanti. Dwi bisa menjelaskannya kepada Deon bahwa ini karena takdir saja. Bukan karena Alvion.

Vote→ Comment→ Follow

Vote→ Comment→ Follow

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alvion & AlvianCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang