65. Maaf.

2K 137 20
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.









Melihat Alexa dan Xander sudah pergi dari sini. Reon segera menutup pintu agar Ellard tak bisa mengejar mereka.

"Apa yang kau lakukan!! Menyingkirlah bajingan! Kenapa kau berada di hadapanku!"
Ellard mencoba memukul Reon tapi Reon bisa menghindarinya dengan cepat.

"Menyingkirlah sebelum aku akan memusnahkan mu!"Ellard mencengkram erat kerah pakaian Reon."Tak ku sangka anak dari wanita jalang seperti mu bisa membuat hidupku hancur seperti ini Reon! Tidakkah kau berterima kasih padaku karena aku masih menjagamu hingga besar! Bahkan aku melakukan hal yang terbaik untukmu! Tapi apa yang kau lakukan? Kau malah berkhianat dan malah menusukku dari belakang, kau kira apa yang kau lakukan itu benar!"

Reon menatap Ellard dengan mata yang memerah, ia mengangguk."Kau benar, aku memang anak dari wanita jalang. Wanita murahan yang sering menghabiskan waktunya di malam hari. Tapi ... ayahku lebih dari kata bajingan!"Reon menendang wajah Ellard dengan geramnya."Kau adalah bajingan yang tak tahu diri! Kenapa kau melakukan permainan yang bodoh hingga aku lahir di dunia ini! Bahkan aku tak meminta lahir. Aku tahu itu! Sakit tahu aku terlahir dari wanita jalang, tapi kenapa kau malah ingin membesarkanku! Buang saja aku ke laut atau bakar saja aku sesuka yang kau mau! Tapi kenapa malah kau ingin membesarkanku hingga aku mengerti rasanya cemburu. Hingga aku mengerti dan merasakan bagaimana di asingkan! Hingga aku mengerti ternyata aku tidak di harapkan!"

Reon menangis, tak apa bukan. Laki-laki juga boleh menangis." Aku tahu aku laki-laki ... seorang laki-laki harus kuat dan tak boleh iri pada apapun. Tapi aku tidak bisa! Aku iri! Aku iri saat kau memeluk mereka dengan tulusnya, aku iri saat kau mengatakan pada senja orang jika mereka adalah anak-anakmu! Aku iri dengan semua itu! Sedangkan aku? Aku hanya di anggap sampah olehmu! Bahkan kau tak pernah mengucapkan selamat atas kerja kerasku! Kenapa? Kenapa sedikit saja kau tidak bisa luangkan waktumu dan jujur pada semua orang jika aku adalah anakmu! Kenapa Ellard! Kenapa!"

"Karena kau anak dari wanita jalang!"geram Ellard. "Wanita jalang itu tidak pernah mempunyai harga diri, bahkan di hormati pun tak pantas! Dia hanya mainan, sebatas mainan yang jika sudah habis dimainkan maka akan di buang begitu saja. Sudah bersyukur jika aku mengurusmu sedari kecil, tak perlu mengharapkan hal lebih, memangnya apa yang kau harapkan? Anak jalang tetap lah anak seorang jalang! Kau bukan seperti Xander, bukan seperti Axian dan bukan seperti kembar yang terlahir dari rahim wanita terhormat seperti Alexa! Aku mungkin hanya sial saja karena kau lah yang menjadi anakku, tak tahu mungkin saja ibumu itu di pakai ratusan kali oleh orang lain!"

"Cukup! Jangan menghina ibuku!" Reon memang tak tahu apakah ibu seperti yang di katakan oleh Ellard atau tidak, tapi yang pasti. Telinganya panas saat mendengar itu.

Manusia mana yang tak panas jika mendengar ibu mereka di hina begitu saja. Bahkan hinaan itu sungguh sangat menusuk.

Ellard tertawa,"Kenapa? Malu? Pantaskah orang sepertimu malu? Seharusnya aku yang malu! Aku benar-benar sudah gila karena sudah mengasuh orang yang tak pantas di aduh olehmu. Reon ... Reon ... satu hal yang kau tahu, aku sangat membencimu. Aku benar-benar membencimu karena kau lah yang membuat keluarga ku hancur seperti ini!"

Reon menatap Ellard dengan penuh amarah. Ia mencekik leher Ellard dan mendorongnya hingga menuju pembatas balkon.

"Le-pas!" Ellard mencoba memukul tangan Reon. "Lepas bajingan!" Ia ingin mengambil pistol yang berada di lantai, tapi Reon kembali menekan tubuh Ellard sekuat tenaga agar dia terjatuh.

Bisa Reon lihat. Di sana di bawah sana ada pedang yang sudah berjajar rapi. Ujung tajamnya menancap ke atas.

Reon lah yang menancapkan pedang itu ke tanah. Ia akan mendorong Ellard dari atas ini hingga tubuhnya hancur tertusuk oleh pedang yang ujungnya tajam itu.

"Le-pas!" Wajah Ellard sudah memerah. Nafasnya tercekat sekarangg, sungguh sangat sesak saat ini.

Reon terbatuk-batuk saat Ellard malah memukul perutnya. Hingga cekik'kanya ia lepaskan. Kini dirinya lah yang di cekik oleh Ellard.

"Kau! Beraninya kau melawanku! Kau kira kau siapa! Bocah ingusan!"

Reon tahu itu, kemampuan Ellard tak bisa di tandingi, selain dia bisa bela diri, Ellard juga bisa semuanya. Jika mencoba melawan Ellard maka sama saja dengan tidak.

Orang bodoh pun akan tahu jika melawan Ellard adalah tindakan paling bodoh yang pernah ada.

Hasilnya sama, tetap akan kalah!

Reon membuka mulutnya agar bisa bernafas, air matanya mengalir tanpa henti karena tenggorokannya begitu sakit sekarang.

Ia mengingat ucapan Alvian yang langsung membuatnya berubah seperti ini.

"Abang itu baik, abang bukan orang jahat. Vian taku kalau abang baik, tidak apa-apa jika abang pukul Vian. Tapi janji ya nanti setelah abang pukul Vian, abang akan kembali seperti dulu."

"Vian, terima kasih. Kau begitu baik. Ma-afkan aku, aku memang orang jahat. Dan mungkin tak akan  pernah pantas untuk hidup ..."

Reon dengan sekuat tenaga memeluk Ellard, ia segera menjatuhkan diri ke belakang hingga membuat Ellard hilang kendali.

"Apa yang kau lakukan!"

Ellard tak bisa menahan tubuhnya.

Kedua orang itu terjatuh begitu saja ke bawah, Reon bahkan tak melepaskan pelukannya. Mereka terjatuh akan terjatuh di pedang yang berujung tajam itu.

"Maaf, mungkin aku ingkar janji ..."Reon menutup matanya dengan erat. Ia merasa tubuhnya melayang.


Voted →coment →follow

Alvion & AlvianCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang