81. Huaaa

1.1K 83 17
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.













"Omagat! Omagat!"

"Nggak mungkin! Nggak mungkin!"

"Abang ... abang kenapa?"Alvian yang mendengar teriakan dari luar. Ia segera bergegas menuju ke arah abangnya itu."Abang kenapa nangis?"

Siapa yang membuat abangnya menangis seperti ini. Ia memeluk Alvion dan memeluk abangnya itu."Abang sakit ya? Kasih tahu, Vian. Abang kenapa?"

"Vian ... nggak mungkin! Nggak mungkin bisa segitu ..."

"Emm? Bisa segitu apa abang? Vian tidak mengerti." Kenapa Alvion tak mengatakan saja apa yang terjadi.

"Ada apa?! Kenapa dengan Alvion, Vian?"Axian yang sedang ada pekerjaan di ruang kerjanya langsung bergegas datang saat bawahannya melaporkan jika Alvion tiba-tiba saja menangis.

"Nggak tahu abang, bang Vion tiba-tiba aja nangis."

Lihatlah ingusnya yang sudah turun itu. Pasti abangnya itu sangat sedih sekarang.

"Ada apa? Kenapa dengan Vion?"Xander yang juga sedang membantu Reon untuk pergi ke kamarnya pun mengurungkan niatnya karena mendengar teriakkan dari adiknya itu.

"Benar, Vion. Apa yang terjadi, kau terluka? Xander, cepat panggilkan dokter,"ucap Reon dengan khawatirnya.

"Baiklah aku, akan memanggilnya ..."

"Gua nggak sakit ..." Alvion menarik pakaian Alvian dan mengusap air matanya.

"Astaga,Vion! Kau kenapa?" Alexa yang baru saja pulang bekerja pun seketika terkejut melihat Alvion yang menangis. Dia segera memeluk anaknya itu."Kalian menganggu, Vion? Vian apa benar mereka menganggu Vion?"

"Kenapa kita? Aku bahkan baru datang, mom."

"Aku juga, kami tak tahu kenapa Vion tiba-tiba saja menangis seperti itu."

Axian dan Xander memang suka menganggu adik mereka. Tapi mereka juga tahu batasan, tak mungkin mereka menganggu adik mereka hingga menangis seperti itu.

"Apa benar itu, Vian?"tanya Alexa. Dari semua anak-anaknya ini, hanya Alvian lah yang paling jujur di sini.

Alvian mengangguk cepat."Benar, mommy. Tadi Vian juga ada di kamar, terus dengar teriakan bang Vion. Tapi pas aku sampe sini bang Vion udah nangis-nangis." Ia membiarkan Alvion untuk mengelap ingusnya di pakaiannya.

Jika seperti itu pasti ada yang salah dengan Alvion. Alexa mengelap air mata anaknya itu. Tampak wajah Alvion sudah memerah saat ini."Ada apa, Vion? Katakan pada mommy. Apa yang menganggumu? Biar mommy atasi."

Alvion terisak, ia menunjuk ke arah kakinya."Mommy ... berat badan aku naik ..."

Mereka semua terdiam dan melihat ke bawah. Ternyata Alvion berada di atas timbangan sekarang.

Mereka menepuk jidat mereka setelah mengetahui alasan Alvion ini.

"Alvion, itu hanya berat badan ..."

"Enggak ... mau jadi berotot kayak dulu, tapi bukannya sixpack malah berat badan aku yang naik, terus pipinya juga bengkak ... ini salah Vian! Dia terus aja makan, kan jadi ikutan ..."

Astaga, mereka pikir ada masalah yang serius. Ternyata hanya itu.

Sedangkan Alvian yang di salahkan mengerucutkan bibirnya."Kok Vian! Kan abang sendiri yang mau makan, mommy liat abang ..."

"Gara-gara elo! Kan gua jadi ngiler kalo ngeliat elo makan ... mommy ini gimana? Kita ke dokter aja! Buang lemak!"Alvion meraba pipinya yang sudah lebih tembam dari pada Alvian sekarang."Bisa-bisanya bersr badan gua lebih berat dari pada Vian! Nggak rela ... kok jadi gini sih! Kan makannya nggak banyak, malahan Vian lebih banyak makan di bandingkan gua!"

Alvian mengusap pipinya bingung."Kok abang nyalahin Vian? Kan abang sendiri yang mau makan, Vian kan tidak maksa ... abang aneh!"

"Sudah jangan bertengkar," Alexa ingin tertawa. Tapi tak mungkin bukan jika ia tertawa saat ini. Bisa-bisa Alvion akan mengamuk nantinya.

"Gua gendut! Nggak mau gendut ..."

Berbeda alexiyabg dapat menahan tawa, ketiga pria yang berada di sana tak bisa menahan tawa mereka saat mendengar perkataan Alvion itu.

"Liat mommy! Bang Xander, bang Reon sama bang Axian ngejekin aku ..."adunya.

Alexa memelototi mereka, sudah tahu Alvion tengah bersedih saat ini, tapi mereka tak bisa menahan diri."Tidak, Vion. Vion tidak gendut. Siapa yang mengatakan itu. Anak mommy sudah bagus seperti ini, benarkan Vian?"

"Iya, abang tidak gendut! Cuma pipi aja yang besar!"

"Mommy! Liat Vian udah bisa ngejek!"

Alvian menutup mulutnya dan tertawa. Biasanya Alvion yang suka mengatakan dirinya gendut. Tapi sekarang ia mengatakannya saat ini."Biarin! Abang selalu sebut Vian gendut, Vian tidak marah. Tapi kenapa bang Vion marah? Padahal pipi bang Vion besar! Lebih besar dari pada Vian!" Seru juga jika mengejek Alvion seperti ini.

"Vian, kau ini."Alexa menyentuh hidung anaknya itu dengan gemas.

"Maaf mommy ..." Ia hanya terkekeh saja.

Alexa tersenyum, ia mengusap pipi anaknya itu."Tidak apa-apa, Vion. Vion tidak gendut. Ini adalah berat badan yang normal untuk seusia kalian. Malahan mommy akan khawatir jika Alvion tak sama seperti Vian. Pasti ada yang salah dengan Vion. Jadi jangan menangis lagi mengerti? Sudah kalian juga jangan mengejek Vion. Dia tidak gendut!"

Alvion melihat Alexa dengan tatapan penuh binar. Memang hanya Alexa saja yang mengerti dirinya."Jangan ketawa! Aku nggak gendut ya!"

Alvion ini, padahal mereka tak bicara, dia sendiri yang mengatakan jika tubuhnya gemuk. Kenapa dia malah menyalah'kan mereka.

"Pokoknya gua mau diet! Nggak mau gendut!"

Baiklah, biarkan saja dia mengatakan apa. Mereka yakin jika apa yang dikatakan oleh Alvion adalah kebalikannya.

Untung saja hanya masalah kecil seperti ini, mereka kira tadi terjadi sesuatu pada adik mereka yang satu ini. Sungguh Alvion membuat mereka takut saja.

 Sungguh Alvion membuat mereka takut saja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Alvion & AlvianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang