87. Bukan salahnya

1.1K 82 10
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.








"Bodoh! Kau tidak melihat jika Alvian melewatimu! Bagaimana kalian tidak melihatnya! Lihat sekarang Alvian tidak bisa di temukan! Apa yang kalian kerjakan!"Xander tak bisa menahan kemarahannya.

Ia terbangun di tengah malam dan tak melihat adiknya berada di tempat tidur. Ia berpikir jika Alvian mungkin haus dan mengambil minum di dapur.

Tak tahunya setelah mencari, tak ditemukan dimana Alvian berada sekarang.

Karena tak bisa menemukannya, akhirnya mereka melihat ke cctv dan benar, Alvian pergi di malam hari.

Bahkan Alvian melewati para penjaga ini, tapi entah mereka tuli atau apapun itu, satu pun dari mereka tak mendengar langkah kaki Alvian.

Untuk apa mereka memperkerjakan orang-orang ini jika tak bisa menjaga dan memperhatikan orang yang masuk dan pergi.

Tak ada yang berbicara. Para bawahan Alexa itu hanya menunduk dan minta maaf pada atasan mereka. Tapi untuk apa juga minta maaf, jika pada akhirnya tak bisa berpikir di mana Alvian sekarang.

"Vian, elo kemana sih. Hari ini hujan, kenapa elo kabur gitu sih ..."Alvian berjalan bolak-balik sekarang. Ia mengusak rambutnya kasar."Nggak mungkin elo ngingo kan!"

Tiba-tiba saja keluar di tengah malam. Bahkan di luar masih saja hujan deras dan petir yang terus saja bergemuruh.

"Jangan panik dulu, kita tenang sebentar. Mommy akan pergi mencari, Vian. Vion tunggu saja di sini bersama Axian dan Reon. Di luar hujan deras, bahaya jika pergi memakai mobil."

Axian dan Alvion menolak, mereka tak mau tinggal di kediaman ini saja. Alvian yang berada di luar sedang berada dalam bahaya sekarang. Hari hujan dan dia bisa terkena masalah.

"Vion saja yang tinggal di sini, aku juga akan mencari Vian. Aku juga khawatir, mom!"

"Nggak bang!" Sela Alvion."Nggak mau tinggal di sini, aku juga mau nyari Vian!"

Adiknya tak tahu entah kemana, tak mungkin Alvion bisa diam saja di sini.

"Tidak, Vion. Di luar bahaya, kau di sini saja bersamaku. Kalian pergilah!"Reon menahan tangan Alvian agar tak ikut dengan mereka.

"Lepas bang! Vian ada di luar! Mau nyari Vian juga!"Alvion berusaha melepaskan tangan Reon dari pergelangan tangannya. Ia sungguh khawatir dengan Alvian saat ini.

"Kau ..."

"Sebentar! Bagas menghubungi kita!"Alexa dengan cepat mengangkat ponselnya. Siapa tahu Bagas tahu keberadaan Alvian.

Mereka semua terdiam dan mendekat ke arah Alexa.

"Apa?!"

Mereka semakin mengerutkan keningnya saat melihat Alexa yang tampak khawatir sekarang.

"Baik aku akan ke sana sekarang!"

"Mommy kenapa?"

"Ada apa?!"

Alexa melihat ke arah anak-anaknya."Vian berada di rumah sakit sekarang! Kita kesana!"

Di rumah sakit, saat ini benar dugaan Bagas dan Deon. Alvian akan demam jika dia terus saja menggigil seperti itu.

Bahkan sekarang panasnya tak turun.

Bagas baru bisa menghubungi Alexa karena dia sibuk mengurus Alvian yang sakit seperti ini. Jika tadi Alvian masih bisa bicara pada mereka, maka sekarang Alvian hanya bergumam tak jelas bahkan matanya juga tertutup.

"Vian, gua udah bilang elo bego! Liat, kan! Elo demam tinggi gini!"

Untung saja mereka berada di rumah sakit, jadi Alvian langsung bisa di tangani.

"Deon, jangan seperti itu. Vian melakukan ini karena dia tidak ingin kalian bertengkar."Dwi berucap. Ia sudah membaik sekarang dan juga berada di ruangan sama dengan Alvian." Jangan salahkan Alvion karena adikmu sudah tidak ada, ini bukan salah dia. Lihatlah apa yang kau letakkan membuat Alvian menjadi seperti ini. Kau tahu sendiri bagaimana polosnya Alvian, pasti dia tidak tenang dan terus saja berpikir agar bisa membuat kalian berbaikan. Bahkan sampai bermimpi buruk. Jangan marah lagi."

Deon mengusap air matanya yang turun,"Tapi adek ..."

Dwi menangkup pipi anaknya itu."Itu takdir, lagi pula mama bisa hamil lagi bukan? Jadi mama akan berusaha kasih Deon adik kembali. Deon berdoa saja ya agar bisa dapat adik kembali. Jangan bertengkar lagi dengan Alvion. Kalian sahabatkan?"

Deon memeluk ibunya itu, tak rela rasanya kehilangan adiknya. Tapi apa yang dikatakan oleh Dwi dan Bagas ada benarnya.

"Ma, Deon egois ya?"

"Tentu tidak! Deon tidak egois, itu reaksi biasa jika seseorang kehilangan orang yang kita cintai. Tapi Deon akan menjadi egois jika Deon menyalahkan orang yang tidak bersalah. Apakah Vion membuat mama terluka?"

Deon menggeleng, Alvion tak melakukan hal itu.

"Jadi, kenapa Deon menyalahkan Alvion dalam hal ini, dia tidak salah apapun."

"Maafin, Deon ..."

Dwi tersenyum, ia mengusap rambut anaknya itu."Minta maaf pada Vion nanti, mengerti?"

"Iya ..."

"Vian!"

Mereka yang berada di sana menoleh saat mendengar suara itu.

Tampak Alexa dan anak-anaknya sudah datang sekarang. Bahkan Reon juga datang saat ini karena khawatir dengan adiknya.

"Vian!"Alvion mendekati ranjang itu dan memeluk adiknya."Vian kenapa? Vian kenapa menggigil gini, jawab! Vian!"

Kenapa tubuh adiknya begitu dingin dan pucat, bahkan bergumam tak jelas.

Alexa dan yang lain juga terkejut saat melihat Alvian yang berada di ranjang sekarang.

Apa ini karena Alvian menerobos hujan hingga sakit seperti ini, kenapa Alvian melakukan hal seperti ini.

Lihat dia sekarang sakit seperti ini.

Yang lain juga mendekati Alvian. Bagaimana ini, kenapa tubuh Alvian bertambah panas saja.

"Vian, jangan sakit. Vian ..."Alvion tak melepaskan adiknya itu. Ini salahnya. Pasti Alvian melakukan hal seperti ini karena dirinya. Itu sudah pasti karena Alvian adalah orang yang tidak tega melihat orang lain bersedih."Maafin gua ..."





Voted →coment →follow

Alvion & AlvianCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang