80. Lucu sekali

1.4K 99 8
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.












Lega rasanya Deon sudah tak berada di kediaman ini, orang tuanya sudah pulang dan kabar baiknya dia juga sudah pulang.

Jika dia terus saja berada di sini maka bisa di bayangkan setiap saat selalu saja pertengkaran antara Deon dan Alvion.

Belum lagi anak itu sangat menyebalkan. Alvion tak suka pada teman luknut'nya itu.

"Akhirnya pergi juga tu anak, sekarang kan jadi bisa cium adek tanpa denger suara tu bocah!" Alvion mendaratkan kecupan berkali-kali pada pipi Alvian."Wangi banget sih!"

"Abang juga wangi!"Alvian tertawa dan mencoba menghindar karena kegelian akibat tangan abangnya itu yang menggelitik lehernya.

"Kalian berdua itu sama-sama wangi,"Xander berucap.

Bahkan harum mereka sangat sama, harum bayi yang selalu mereka rindukan jika kembar tidak berada di sisi mereka sedetik saja.

"Vian aja bang yang selalu wangi, nggak bisa kalo nggak nyium pipinya yang gembul ini!"Alvion menguyel-nguyel pipi sang adik.

"Abang juga wangi, dan abang juga gembul!"Alvian membalas menguyel-nguyel pipi Alvion.

"No no no! Nggak boleh sebut gua gembul! Yang gembul di sini cuma elo aja, Vian! Gua mau balikin tubuh gua ke awal lagi, nih lagi proses bentuk tubuh!"Alvion memamerkan otot kecil yang berada di lengannya itu.

"Vion, jangan memaksakan untuk jadi berotot lagi. Kau sudah bagus seperti itu, tampak lebih imut,"Reon tak setuju apa yang diinginkan oleh adiknya itu."Lagi pula, pasti tidak akan bisa karena kau makan sangat banyak,"

Alvion tersedak ludahnya sendiri saat mendengar hal itu,"Mana ada ya, bang. Yang makan banyak si Vian. Gua biasa aja,"

"Abang bohong, tadi abang makan banyak, terus tadi abang makan kue Vian di kulkas ..."

Tangan yang agak gembul itu menutup mulut Alvian agar tak lagi bicara."Si Vian jujur banget jadi anak, kan gua jadi malu."

"Nggak gitu, tadi ngeliat kue Vian keknya enak, jadi nyicip dikit aja," dalihnya.

"Ini yang mau membentuk badan? Maksudnya ingin menambah berat badan, benarkan Vion?"Axian terkekeh pelan melihat wajah Albion yang tampak memerah.

"Mana ada! Nggak ya, bukan gitu maksudnya. Lagian kan apa salahnya nyicip dikit," ketusnya."Nggak akan gendut juga kok!"

Adiknya ini kenapa mengadu, kan dirinya jadi malu sekali saat ini.

"Benarkah? Tapi sepertinya berat badanmu bertambah, Vion." Ejek Xander.

Mungkin jika Alvian yang makan banyak sudah biasa, tapi jika itu Alvion maka akan terasa aneh.

Alvion seketika memegang pipinya,"Masa iya gua tambah gendut sih! Nggak bisa! Nggak bisa! Gua nggak boleh gendut! Sebagai abangnya Vian, gua nggak boleh gendut! Nanti kalo gua gendut akan sama dong sama  Vian! Gua harus jadi kayak bang Xander dan bang Axian! Cool gitu! Lagian kan dulu gua juga udah pernah berotot, tapi ... cumi terlalu enak untuk di tolak! Apalagi masakannya bang Xander enak pake banget lagi!"

"Kalau sedang membahas apa?"

"Wah mommy! Ada kue!"Alvian tak bisa tak mendekat saat melihat kue yang dibawa oleh Alexa.

"Jangan diambil, Vian. Tunggu sebentar, ini masih panas."Alexa menghalangi tangan anaknya itu untuk mengambil kue hasil buatannya ini ke dalam piring kecil."Tiup dulu mengerti?"

Alvian patuh, dia segera meniup kue miliknya dengan antusias.

"Ini untuk kalian," Alexa memberikan untuk Xander, Axian dan juga Reon."Dan ini untuk Vion."

Alvion sedikit melirik kue itu, baunya sangat menggoda. Tapi setelah memikirkan jika berar badannya bertambah."Nggak mau mommy, Vion kenyang."

Alis Alexa terangkat mendengar itu,"Benarkah?"

"Iya bener,"Alvion memang mengangguk tapi tatapannya terus saja pada kue yang berada di atas meja itu."Jangan tergoda ... jangan tergoda ... jangan tergoda ..."

Baik Xander, Axian dan Reon memandang satu sama lain. Mereka tersenyum saat mendengar alasan Alvion itu.

Pasti ini karena tadi mereka mengatakan jika Alvion tampak lebih gemuk.

"Sayang sekali kau tidak mau, Vion. Ini sangat enak. Mommy apakah ini resep baru? Kenapa enak sekali." Xander menghabiskan kuenya dalam satu suapan.

"Benar, mommy baru saja mempelajarinya. Mommy pikir, jika selalu saja membeli kue di luar maka tidak terlalu sehat, jadi mommy mencoba membuatnya dengan resep baru."Alexa juga sedikit mencicipi kue yang ia buat.

Tak ada rasa aneh, bahkan enak. Apa benar jika Alvion menolak kue buatannya ini.

"Ini enak, bahkan sangat enak. Sayang sekali jika Vion tak bisa memakannya, "Axian sedikit menggoda adiknya itu."Benar bukan, Vian?"

Reon mengusap krim kue yang berada di sela-sela bibir adiknya itu.

Setelah benar-benar habis kue yang berada di dalam mulutnya, barulah Alvian menjawab."Iya abang! Enak banget, makasih mommy. Sayang sekali abang nggak mau makan, kalo gitu yang satu lagi punya Vian ya mommy!"

Baiklah, Alexa mengerti keadaannya sekarang, dari lirikan mereka sepertinya Alvion tak mau makan karena ingin membentuk tubuhnya itu."Boleh saja jika Vion tak mau,"

"Abang nggak mau kan?" Alvian bertanya dulu."Buat Vian ya ..."

Alvion berdehem sejenak,"Siapa bilang, keknya tiba-tiba aja perutnya laper." Ia segera mengambil sepotong kue itu dan memakannya."Kalo nggak di makan penasaran, hedeh ... gua ini kenapa sih! Suka banget makan kek gini! Pasti ketularan Vian!"

Tak lagi dapat menahan tawa, mereka semua tertawa melihat Alvion yang makan seperti itu.

"Pelan-pelan aja bang, kan Vian cuma bercanda aja."Alvian juga tak berniat mengambil bagian abangnya itu.

Wajah Alvion memerah, dia melihat ke arah lain saja."Si Vian bisa aja sekarang! Siapa sih yang ngajarinnya, pasti Deon nih! Adik gua bisa jadi gitu!"

Siapa yang mengatakan ingin membentuk badan sekarang, Alvion ini lucu sekali. Dia mengatakan jika tidak mau, tapi tetap saja memakannya.

Vote→ Comment →Follow

Vote→ Comment →Follow

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




Alvion & AlvianCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang