Bagaimana jadinya jika seorang remaja laki-laki nakal dan tidak bisa di atur berpindah tubuh ke tubuh remaja yang polos penuh dengan penderitaan.
Bagaimana juga dengan sebaliknya, bagaimana jika seorang remaja polos berpindah tubuh ke remaja nakal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Benarkah! Sudah ada?"Alexa terperanjat saat dokter mengatakan jika jantung untuk Alvian sudah ada.
"Be-nar." Dokter itu mengangguk ragu, dia menatap salah satu dari mereka dengan gugup.
Saat ini kondisi Alvian tengah kritis. Dan mereka sudah pasrah jika akhirnya Alvian pergi. Tapi entah dari mana dokter mengatakan tiba-tiba saja ada donor jantung yang cocok untuk Alvian.
Alexa memeluk Alvion, dia sungguh senang saat ini mendengar ada jantung yang cocok untuk anakmu itu."Vion, kau dengar! Alvian bisa melakukan operasi jika seperti ini."
Alvion mengangguk saja, mereka saat ini juga sangat senang mendengar itu.
"Vion, akhirnya Vian bisa sembuh juga. Semoga aja setelah ini Vian nggak sakit lagi."Deon juga memeluk sahabatnya itu.
Mereka sudah menantikan hal ini beberapa hari.
Alvion hanya tersenyum tipis, dia senang saat melihat semua orang senang."Maaf, tapi untuk kali ini, biarin Vion korbanin sesuatu untuk Vian."
Alvion menyerah, dia akan mendonorkan jantungnya tanpa sepengatahuan mereka.
Flashback on
"Tolong dokter ..."
Alvion saat ini tengah memeluk kaki dokter itu.
Cocok! Tanpa sepengetahuan keluarganya dia memeriksa jantungnya apakah cocok atau tidak untuk Alvian dan hasilnya cocok.
Dan saat ini Alvion tengah memohon kepada dokter agar bisa membelah jantungnya dan diberikan oleh Alvian.
"Tidak bisa tuan muda, jika tanpa persetujuan keluarga maka tidak bisa."
"Gua mohon, gua akan coba buat dapetin cap jari mommy. Tapi tolong, selamatin Vian ... gua mo-hon ..."
Alvion mengeluarkan semua uang dan kartu yangd ia punya."Gua udah nyiapin pengacara kalo seandainya mommy nuntut, dan gua udah nyiapin beberapa orang supaya lindungi dokter. Nanti kalian bisa pindah dari negara ini. Udah gua siapin semuanya. Tolong ... Vian udah kritis!"
"Tuan muda ..."
Alvion mencium kaki dokter itu membuat sang dokter tak bisa berkutik, dia berusaha agar tidak di cium oleh Alvion tapi tetap saja tidak bisa.
"Gua mohon ..."
"Baiklah tuan muda! Saya akan menolong tuan muda."
Sebenarnya ini memang tidak bisa, ini jelas-jelas tindakan kriminal karena membunuh orang hidup. Tapi uang itu begitu menggoda. Lagi pula orangnya sendiri yang meminta.
"Beneran? Bener dokter!"
"Baik tuan muda! Saya akan setuju. Tapi dengan syarat, saya tidak akan kenapa-napa nantinya."
"Oke, gua akan jamin kalo elo nggak apa-apa. Walaupun gua mati nanti gua akan jamin karena semuanya udah di siapin."
"Baik tuan muda, sesuai kesepakatan."
Flashback off
"Vion? Kenapa diam saja. Kita mau ke ruang operasi Vian." Reon menepuk tangan Alvion. Heran dengan adiknya yang hanya diam saja.
"Nggak bang, bang Vion mau ke toilet. Abang bisa pergi duluan. Vion udah bener-bener nggak tahan."
"Baiklah, aku akan pergi duluan."
Belum sempat Reon berucap, Alvion lebih dulu pergi, kenapa dia aneh sekali. Perasaannya jadi tidak enak.
Saat ini, Alvian sudah di bawa keruang operasi. Hanya menunggu jantungnya saja.
"Dimana, Vion?" tanya Xander. Ia melihat Reonke sini sendiri dengan kursi roda.
"Vion mengatakan jika dia akan ke toilet,"jawabnya, ia juga tidak tahu seberapa lama adiknya itu akan datang nantinya.
"Ketoilet? Dan kau memberikannya izin! Ini lelucon! Vion tidak akan pergi ke toilet di situasi darurat ini!"Axian sudah merasakan ada yang tak beres.
"Benar, tidak mungkin Vion pergi begitu saja, apa jangan-jangan ..."
Mereka semua membulatkan mata mereka dengan sempurna.
"Yang mendonorkan jantung itu adalah Vion!" ucap Alexa membuat semua orang terkejut kembali.
Alvion yang berada di dalam sana mendengar orang-orang tengah berteriak. "Cepet dokter, lakuin sekarang!"
"Baiklah. Sebentar." Dokter itu sudah mengeluarkan suntikan. Itu adalah suntikan mati, Alvion akan di suntik agar otaknya mati dan bisa mengambil jantungnya.
"Dokter jantung pasien melemah!"
"Tunggu sebentar."
Alvion menatap adiknya dengan sendu. "Vian, makasih udah jadi adik gua. Kita udah ngerasain gimana hidup kita ketuker. Tapi takdir kita tetep nggak akan bisa ketuker. Gua harap, elo bisa hidup layak dan nggak ngerasa sakit lagi. Mommy, bang Xander, bang Axian, bang Reon ... Deon mama Dwi dan om Bagas. Vion juga sayang kalian. Semoga kalian bisa bahagia sama Vian nantinya. Jaga Vian baik-baik."Alvion memegang tangan adiknya. Ia memejamkan mata saat ini."Maafin, Vion. Tapi ini demi Vian. Semoga, kita bisa ketemu di kehidupan selanjutnya, adik gua yang paling gua sayang."
Dokter itu segera menyuntikkan suntikan itu pada Alvion."Operasi di mulai."
Saat itu juga pintu itu di dobrak oleh Axian. Mereka semua terkejut melihat itu.
"Apa yang kau lakukan! Apa yang kau lakukan pada adikku! Apa yang kalian lakukan!"
"Vion!"
"Vion! Jangan bercanda! Vion!"Alexa menggigil saat melihat tubuh anaknya sudah pucat.
Saat itu juga terdengar suara mesin yang terus berbunyi.
"Vian!"
Bagaimana ini, Alvion, Alvian. Semuanya butuh pertolongan. Alexa lemas. Ia tidak bisa memilih salah satu dari mereka.
"Selamatkan anak-anakku!"
Tidak bisa, mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Semuanya butuh pertolongan. Ini salah mereka.
"Tolong! Tolong anak-anakku! Tolong ..."
Banyak dokter yang datang turun tangan. Mereka semua mencoba menyelamatkan Alvian dan Alvion. Tapi mungkin takdir berkata lain.
Alvian dan Alvion sudah tiada. ereka sama-sama mati.
"Mereka tiada ..."
"Tidak! Tidak mungkin! Anak-anakku masih hidup! Vion ... Vian ..."
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.