Bagaimana jadinya jika seorang remaja laki-laki nakal dan tidak bisa di atur berpindah tubuh ke tubuh remaja yang polos penuh dengan penderitaan.
Bagaimana juga dengan sebaliknya, bagaimana jika seorang remaja polos berpindah tubuh ke remaja nakal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ngapain sih kita harus ke sana sih bang, kan bisa nyuruh bibi. Atau orang lain kek. Bagusan juga di rumah, bisa tiduran sama Vian."Alvion berucap sambil berbaring di paha adiknya itu.
Mereka sedang berada di mobil Xander sekarang dengan Xander yang mengemudi.
"Abang, mommy kan suruh kasih kue ini ke mama Dwi. Abang kok lupa?" Padahal Alvion belum tua. Kenapa dia sudah lupa saja pada perkataan Alexa.
"Iihh gemes banget sama adik aku ini! Kalo itu juga inget, Vian! Lucu, pinter, anaknya mommy yang paling polos ..." Alvion tak lupa dengan alasan menemui Dwi dan Bagas di kediamannya."Yang gua tanyain kenapa kita harus ikut juga! Biarin bang Xander aja anter sendiri!"
Alvian tersenyum malu, ternyata seperti itu."Tapi abang, kenapa kita nggak usah ke rumah bang Deon?"
"Elu tahu sendiri, Vian. Si Deon belagu bener jadi orang. Palingan nanti ngejekin gua lagi, males banget!"
Xander yang mendengar itu hanya menggeleng pelan."Vion, bukankah tadi aku sudah bertanya padamu mau ikut atau tidak, kau malah mengatakan mau ikut."
Alvion tercekat mendengar itu,"Ya ... ya mau ikut! Nggak mau di tinggal sama Vian!"
Bagaimana Alvion ini, mau atau tidak? Bahkan Xander pun bingung apa yang diinginkan oleh adiknya itu.
"Pokoknya gua kalo ada Vian, Vion juga harus ikut!"
"Tapi kata abang ..."
Belum sempat Alvian berbicara mulutnya di tutup oleh Alvion."Ni anak polosnya kebangetan! Ampun dah, kapan sih pinternya dikit. Jangan ngomong jujur gitu dong,"
Alvian hanya mengedipkan matanya saja saat ini."Abang Vion aneh! Kenapa dia mau ikut kalau tidak mau ikut! Terus bang Vion terus aja tutup mulut Vian!"
Xander hanya bisa terkekeh pelan saja saat melihat dari kaca didepannya itu. Adik-adiknya sungguh lucu. Setiap hari ada saja tingkah laku mereka yang membuat dirinya dan keluarganya terhibur. "Baiklah, kita sudah sampai."
Baru saja mereka sampai, Deon sudah datang dan membuka pintu."Ehem ehem! Aduh aduh! Siapa nih yang katanya nggak mau ngeliat muka gua!"
"Jangan mulai ya, Deon! Gua kesini cuma ikut Vian sama bang Xander aja. Lagian ke sini juga nggak mau ketemu sama elo, gua mau ketemu sama mama Dwi dan om Bagas!"
"Iyain, serah elu dah. Gengsinya tinggi banget. Ayok Vian turun, mama udah masakin makanan buat kalian."
"Iya aba ... Deon!" Jangan sampai ia lupa lagi."Nanti di marahin bang Vion."Alvian lebih dulu turun dari mobil."Ini abang, kata mommy ini untuk mama Dwi. Katanya bagus untuk ibu hamil juga." Ia mengingat-ingat kata yang diucapkan oleh Alexa tadi.
"Wah! Baik bener dah, maksih Vian. Makasih juga buat mommy Alexa. Tapi kasih aja sendiri di dalem nanti. Kan udah di rumah."
Benar juga, Alvian mengangguk saja."Ayok kita masuk!"