60. Caranya.

1.9K 130 4
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.







Deon bisa melihat jika Alvion tengah tertidur sekarang, lebih tepatnya setelah mereka selesai makan Alvion seketika tidur karena dia mengatakan jika kepalanya pusing.

Ia tidak tahu apa yang Ellard lakukan pada Alvion.

"Sebenernya apa yang terjadi sih! Gua yang bingung, dan sekarang kita juga ada di mana? Gimana caranya gua bisa ngehubungin bang Xander atau tante Alexa! Gua yakin seratus persen kalo mereka lagi nyari Vian dan Vion sekarang, malah Vian kagak inget lagi sama Vion! Kan kasihan Vion jadi sesih gini!"

Deon menghela nafas,"Ayo Deon! Coba mikir, nggak mungkin gua di sini juga, orang tua gua pasti nyariin juga! Gua juga rindu rumah, gimana ya supaya bisa ngabarin mereka kalo kita ada di sini."

Ia berjalan ke arah jendela,"Malah hutan semua lagi!"

Seperti mansion ini memang sengaja di letakkan di hutan."Pikir pikir pikir!"

"Gua harus bantu Vion sama Vian! Om Ellard itu jahat banget, dia bukan lagi orang baik yang gua kenal,"

"Vion, elo baik-baik aja ya di sini, gua keluar bentar. Tenang aja, kita kan sahabat jadi gua pasti bakalan bantuin elo, gua juga nggak mau lama-lama di sini, takut di bunuh sama om Ellard!"

Membayangkannya saja ia tak sanggup,"Gua masih muda lagi!"

Deon memilih untuk keluar, mansion ini tampak sepi, sepertinya Ellard memang sangat menjaga ketat hingga tak percaya pada seorangpun.

Ia memelankan langkah kakinya saat melihat Ellard dan Alvian yang berada diruang keluarga tengah menonton film.

Jika seperti itu maka Ellard tidak akan tahu apa yang akan ia lakukan nanti."Vian, gua khawatir sama elo. Semoga aja ada cara biar kita balik lagi, dan elo juga inget sama kita."

Deon berjalan menjauh, entah kemana tapi yang pasti ia akan mencari cara agar bisa menghubungi Alexa."Gua inget nomor mama! Kalo gua bisa hubungi mama, mama bisa sampein ke tante Alexa supaya dia bisa lacak keberadaan kita! Tapi ... dimana gua bisa nemuin hp njir! Disini aja nggak ada telepon atau hp orang. Nggak mungkin gua nyuri hp om Ellard. Udah pasti nyawa gua melayang lebih dulu!"

Tapi saat itu juga Deon menghentikan langkah kakinya saat melihat satu orang pria yang tengah membersihkan dapur.
"Keknya dia satu-satunya orang yang kerja di sini! Pasti dia ditugasin buat bersihin mansion ini!"

Mata Deon berbinar saat melihat ponsel yang berada di atas meja, itu pasti ponsel pekerja itu."Gua harus dapetin itu hp! Kalo udah dapet nanti bisa telponin mama!"

Ia berjalan pelan-pelan hingga bersembunyi di bawah meja, tangannya meraba ke atas dengan pelan dan mencari keberadaan ponsel itu,"Yes!"

Deon hendak beranjak dari sana tapi dia tidak sengaja membenturkan kepalanya saat ingin keluar,"Mampus!"

Ia segera menyembunyikan ponsel itu dalam pakaiannya dan bersikap biasa saja.

"Kenapa kau berada di sini?" tanya pekerja itu dengan curiga.

"Itu ... anu apa, kan tadi gua haus, jadi ke dapur mau ambil minum, boleh nggak kalo gua minta dibuatin jus, pengen banget ..." Deon mengusap kakinya, ia melakukannya agar seakan ia tak sengaja menendang meja.

"Tidak, tuan tidak mengizinkan melakukan apapun sebelum izin darinya,"

"Ck! Ya udah lah kalo nggak bisa! Kagak jadi haus gua! Dah lah, mending tidur!" Deon tak menunggu lama, ia segera pergi dari sana tanpa menoleh lagi."Harus cepet! Nanti ketahuan, nyawa gua di ujung tanduk ini! Deon Deon ... kenapa elo suka banh sih nyari perkara! Awas aja lo Vion kalo kagak berterima kasih sama gua! Udah lakuin cara ini sampe jantung gua hampir jantungan gini!"

Deon mengunci kamar, ia bisa menatap Alvion belum juga bangun dari tidurnya. "Ck! Kenapa tangan gua menggigil gini sih! Tenang Deon ... tenang! Kalo gini kagak bisa bebas nanti!"

Dirinya terlalu takut hingga tak bisa melakukan hal yang benar."Tiga tujuh  tiga! Nah bener kan kan ujungnya! Keknya bener deh! Gua udah hapalin ini bertahun-tahun! Semoga aja bisa!"

Bisa Deon dengar, panggilan ini tidak biasa." Njir! Di luar negeri cok! Pantes aja beda hawanya! Semoga aja kesambung! Tolong angkat mama!  Anakmu ini lagi pertaruhkan nyawa!"

Setiap detik rasanya begitu mendebarkan bagi Deon saat ini, ia menahan pintu itu takut jika seseorang mendobraknya.

Tapi sedetik kemudian jantungnya berdetak lebih kencang saat gagang pintu itu berbunyi.

"Kenapa di kunci? Vion! Kau mengunci ini?"

"Gawat! Tolong angkat ma! Nanti Deon di bunuh sama om Ellard! Mama nggak sayang sama Deon lagi ya!"

"Vion! Deon! Kau masih berada di sana sekarang bukan! Buka pintunya! Katamu ingin bertemu dengan Vian! Vion!"

Pintu itu semakin digedor-gedor dengan begitu kencangnya.

Deon hampir menangis sekarang. Dadanya juga sudah sesak."Kemana sih! Mama Deon takut di bunuh om Ellard ..."

Kenapa lama sekali mamanya mengangkat telepon, padahal ini Panggil ini tersambung.

"Vion! Jika tidak buka maka daddy akan dobrak pintu ini dan kami akan daddy hukum!"

"Jangan dulu om ... tunggu bentar lagi ..." tentu saja Deon hanya mengucapkan itu dengan pelan, ia tidak berani berbicara terus terang seperti itu pada Ellard.

Tapi saat itu juga ia mendengar suara dari seberang sana,"Halo! Ma ..."

"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alvion & AlvianCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang