70.Mommy bohong?

1.9K 123 7
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.











Axian memukul dinding yang berada di depannya dengan geram.

Kenapa Reon begitu egois.

"Kau hanya memikirkan dirimu sendiri! Kenapa kau tidak memikirkan Vian dan Vion! Mereka setiap malam bahkan bisa dikatakan setiap detik memikirkan orang yang tidak tahu diri seperti dirimu itu! Kenapa! Jika aku tahu kau malah melakukan ini pada kedua adikku maka aku tidak akan pernah menyuruh dokter sialan itu menyelamatkanmu!"

Axian bisa mendengar isak tangis dari Reon, ia bisa melihat jika pemuda itu tengah menangis sekarang."Kenapa kau tidak bertemu dengan mereka? Apa alasannya?"

Reon tak bisa berkata-kata."Aku juga tersiksa ..."ia melihat kakinya kanannya.

Hanya tersisa satu, kaki kirinya tak bisa diselamatkan. Jangankan bertemu dengan mereka berdua, bahkan untuk melangkah saja ia tidak bisa.

"Aku tidak layak, karena aku sudah cacat ..."

Axian mengusap kasar wajahnya. "Cacat! Cacat! Cacat! Kenapa kau terus saja menyebut kata itu! Mereka bukan orang seperti itu, Reon. Mereka pasti menerimamu ... ku mohon, demi adik kita. Tolong lah,"

Reon menggeleng,"Pergilah, aku ingin sendiri."

"Dengarkan aku, kita bisa ..."

"Pergi! Tolong, pergilah, aku tidak bisa mengusirmu ..."

Axian menatap Reon dengan sendu."Aku tidak akan pergi, jika butuh apapun panggil saja."

Bisa Axian lihat jika Reon menutup dirinya dengan selimut saat ini. Tak ada kata yang terucap lagi, tapi masih terdengar isak tangis semakin keras.

Reon, pemuda itu tak ingin bertemu dengan Alvian dan Alvion sekarang. Bahkan ia menyuruh mereka agar merahasiakan keberadaannya dan jika bisa mengatakan dirinya sudah mati saja.

Tidak ada gunanya,"Vion dan Vian akan malu mempunyai abang yang cacat seperti aku, maafkan aku. Aku memang pengecut. Kenapa aku tidak mati saja hari itu, kenapa aku harus hidup."

Dirinya menyusahkan semua orang, menyusahkan Alexa yang menyuruh maid agar mengurusnya, menyusahkan Xander yang menyuruh untuk mengawasi gerak-geriknya bahkan menyusahkan Axian yang terus saja datang melihat keadaan dirinya setiap saat.

"Aku benar-benar tidak berguna sama sekali, pasti Vion dan Vian akan malu mengakui aku sebagai abang mereka, pasti mereka akan membenciku. Pasti mereka akan pernah ingin ingat lagi karena kondisi ku seperti ini ..."

Alexa terlalu baik menyelamatkan dirinya hingga bisa hidup seperti ini. Tapi percuma saja, hidup pun tak ada gunanya. Bahkan untuk berjalan saja ia tidak bisa.

"Kau pengecut Reon! Kau pengecut! Seharusnya kau mati saja! Seharusnya kau mati saja dengan bajingan siapa itu!"

Axian meluruh ke lantai, ia sungguh sakit kepala mendengar ucapan Reon."Tak mungkin Vian dan Vion membencimu, Reon. Walaupun mereka tahu keadaanmu sekarang. Kau tetap akan diterima. Aku tahu adikku."

Reon seperti ketakutan dengan apa yang dia bayangkan.

"Kau dengar sendiri kan, mom?"Axian melihat layar pipih miliknya itu, di sana terhubung dengan panggilan video dari Alexa.

"Sampai kapan Reon akan seperti ini?"

Alexa tak bisa melakukan apapun, baru kali ini pikirannya kacau dan tak bisa melakukan apapun kedepannya. Saat ia ingin melakukan ini maka Reon pasti akan memohon jangan melakukan itu. Bahkan Reon berani mencium kakinya agar tak membuka rahasia tentang dirinya yang masih hidup.

Ini semua karena fisiknya yang lagi tak sempurna.

Reon seakan malu untuk bertemu dengan Alvian dan Alvion sekarang.

"Axian, jaga Reon. Jangan biarkan dia melakukan apapun yang bisa menyakiti dirinya sendiri."

"Aku tahu,"

Lihat saja betapa kosongnya apartemen ini, tak ada barang atau benda yang tajam, jendela yang direkatkan oleh terali besi. Dan bahkan bodyguard-bodyguard serta maid berada terus di luar untuk menjaga Reon.

Reon tidak bisa berpikir dengan jernih. Jika dia menemukan benda tajam maka dia pasti akan melukai dirinya sendiri.

"Mom, tidurlah. Jaga kesehatan. Jangan tidur terlalu malam, kau juga harus memperhatikan kondisimu sendiri. Aku juga tidak mau kau sakit,"

"Aku tahu, Xian. Kau juga. Jika bisa jangan cepat-cepat kembali. Jaga Reon sebentar di sana."

"Baiklah," Axian menutup ponselnya, ia rindu dengan adik-adiknya itu. Tapi mau bagaimana lagi, jika Alexa sudah menyuruhnya makan ia pun tak bisa apa-apa."Siapkan makanan dan obat untuknya,"

"Baik tuan muda,"

Axian mengangguk saja,"Entah alasan apa lagi nantinya dia akan menolak makan, kau egois Reon. Kau benar-benar egois!"

Si kediaman Alexa, ia yang baru saja menutup ponsel hanya bisa mengusap keningnya frustasi.

"Masalah apa lagi ini Tuhan? Aku sudah bersama dengan anak-anakku sekarang, tapi mereka tak bahagia karena memikirkan Reon. Reon, kenapa kau tidak kasihan padaku? Kenapa kau malah berpura-pura tiada agar mereka tidak bisa bertemu denganmu lagi, apa salahnya jika kau jujur saja. Pasti mereka akan menerimamu ..."

"Maksudnya apa, mommy?"

Alexa menoleh, matanya membesar sar melihat Alvion dan Alvian yang berada di pintu kamarnya. Kapan mereka berada di sana.

"V-ion, Vian? Kalian mau tidur bersama mommy? Baiklah, kemarilah ..."

"Mommy tadi bilang apa? Bang Reon pura-pura tiada?"Alvian menatap Alexa dengan berkaca-kaca.

Begitu juga dengan Alvion."Mommy, bohong sama kita kalo bang Reon udah nggak ada,"

"Bu-kan begitu sayang ... ini ..."

Alexa tak bisa berkata-kata, kenapa Alvion dan Alvian bisa masuk seperti ini tanpa memberitahu dirinya. Bagaimana ini."Apa yang harus aku lakukan?"

Voted →coment→ follow

Alvion & AlvianCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang