63. Abang!

1.9K 123 13
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.







Air mata Alvion yang ia tahan selama ini kembali menetes, baru kali ini melihat Axian ia menangis. Ia selalu saja tak suka jika Axian dan Xander mendekati dirinya tapi kalo ini tidak.

Dirinya benar-benar sangat senang saat ini hingga mengeluarkan air mata. Bisa di lihat Axian berada di luar jendela sana.

Mereka sudah datang, datang menjemputnya dan Alvian.

"Bang, tolong ..."

Hati Axian terasa sakit melihat adiknya itu menangis. Apa yang telah di lakukan oleh bedebah itu. Lihatlah sekarang, bahkan tangan Alvion di borgol di sisi tempat tidur. Kenapa juga adiknya yang satunya masih tertidur lelap. Pasti itu bukan hanya sekedar tidur melainkan sesuatu telah terjadi padanya.

"Vion tenang, jangan menangis dan jangan berisik dulu, aku akan menolongmu," Axian sungguh ingin sekali memotong Ellard dengan tangannya sendiri.

Bukan Ellard namanya jika tak selalu waspada. Di luar, mungkin tak terhitung penjaganya. Bahkan sangat banyak. Mencapai ke tempat ini saja ia sangat susah. Deon lah yang memberitahu. Tak jauh dari ponsel yang ia buang, ada kamar Ellard. Dan benar saja di sini ada adik kembarnya.

Masalah melewati para penjaga sudah aman, tapi masalah yang lain pula yang terjadi. Jendela ini di kepung oleh terali besi!

"Sial!"

Ini memperlambat penyelamatan Alvian dan Alvion.

Untung saja ia sudah mewanti-wanti jika hal ini terjadi.

Axian dengan cepat menumpu kakinya di terali besi itu sambil memakai sarung tangan. Ia mengeluarkan botol kecil. Botol ini adalah cairan yang bisa melarutkan besi. Ia segera meletakkan di terali besi itu.

Berhasil! Axian bisa masuk sekarang, ia segera melepaskan tangan Alvion.

"Abang ..." Alvion memeluk Axian dengan erat, akhirnya setelah lama menunggu. Mereka datang juga.

Begitu juga dengan Axian. Ia memeluk Alvion dengan sekuat tenaga. Mencium pipi dan kening adiknya itu karena rindu."Tidak apa-apa, aku sudah berada di sini. Jangan menangis lagi, jangan menangis lagi mengerti? Aku tidak suka melihat kau yang menangis seperti ini, kita akan segera pergi dari sini, tenang ..."

"Bang, Vian enggak ingat sama kita ... bang gimana caranya supaya Vian ingat sama kita?"

"Apa maksudmu, Vion? Kau mengatakan apa?!"

Tidak ingat bagaimana? Axian kurang mengerti sekarang.

"Vian enggak ..."

"Nanti saja jelaskan Vion, sekarang kita harus turun. Kita harus pergi dari  sini. Mommy dan Xander tengah mencoba melawan Ellard. Kita harus kabur terlebih dahulu."

Jika tak melakukan ini, bisa di pastikan jika Ellard akan menyuruh bawahannya untuk membawa kembar kembali. Dan itu pasti akan dikit nantinya.

"Di bawah sudah ada Deon, tadi aku lebih dulu menyelamatkannya, kita harus pergi lebih dulu!"

"Tapi mommy?"

"Mereka akan aman! Kau tenang saja, sekarang kau turun dulu,  kau bisa kan Vion? Hanya tali saja, jika tidak bisa aku akan mengendongmu."

"Bisa, tapi Vian?"

"Aku akan mengikat dia di punggungku, cepat!" Axian sudah mendengar samar-samar suara tembakan dari luar.

Tak menunggu lama, Alvion segera berlari ke arah jendela. Bisa ia lihat jika Deon tengah melambaikan tangannya padanya pertanda situasi aman. Segera ia turun lebih dulu, walaupun agak sakit karena hanya memegang seutas tali. Tapi ini lebih baik jika harus bersama Ellard selamanya.

Axian mencium pipi Alvian rindu, sudah bisa di pastikan terjadi sesuatu pada Alvian saat ini. Tapi itu bisa nanti dipikirkan. Sekarang mereka harus kembali terlebih dahulu.

Ia membelitkan selimut yang berada di kardus itu pada tubuh Alvian, baru setelah itu mengikatnya ke tubuhnya. Adiknya tak akan jatuh sekarang.

Ia segera memegang tali dan turun perlahan, tangan Axian berdarah karena sarung tangannya sobek. Ini sungguh sangat berat jika harus turun bersamaan.

Dengan susah payah akhirnya ia tiba di tanah.

"Cepat ikuti aku! Helikopternya  jauh dari sini, kalian harus hati-hati!"

Deon dan Alvion berpegangan. Alvion juga memegang tangan Axian. Mereka segera berlari tapi tetap hati-hati.

"Di sini anak jebakan! Kalian harus ikuti jalanku! Jangan sampai terkena!"

"Aaaa! Aduh ..."

Axian berdecak, baru saja ia mengucapkan hal itu, Deon malah terkena jebakan.

"Aduh ... sakit banget bang ... aduh sakit ..."

"Gimana sih lo Deon! Kenapa enggak hati-hati!"

"Gua nggak tahu, aduh sakit banget ..." Deon meringis, ia bisa melihat kakinya terkena kawat.

"Vion, gendong Vian. Kau harus hati-hati. Deon cepat naik, kita harus cepat. Mereka pasti akan mencari kalian nanti!"

Yang diincar Ellard bukanlah mereka melainkan kembar dan Deon. Jadi sebisa mungkin anak-anak ini harus dibawa lebih dulu.

"Makasih bang ..." Deon naik ke gendongan belakang Axian. Ia memeluk leher Axian dengan erat.

Ternyata memang letak helicopter itu sangat jauh. Sudah pasti ini di lakukan agar Ellard dan para bawahannya tak curiga.

"Masuk!"

Axian menghela nafas, mereka sudah sampai sekarang, dan sudah berada di dalam helikopter itu."Cepat! Kita pergi!"

Biarkan Alexa dan Xander yang membunuh bajingan itu. Adiknya harus selamat lebih dulu.

Benar saja, baru saja Axian katakan. Para bawahan Ellard itu sudah mengajar di bawah.
"Cepat!"

Bunyi tembakan menggema di langit, tapi helikopter itu sudah terbang dengan sempurna dan pergi.

Sungguh sangat mendebarkan, memang di akui bahwa bawahan Ellard, tak sebanding dengan bawahan Xander. Karena Ellard mempunyai bawahan yang lebih banyak.

 Karena Ellard mempunyai bawahan yang lebih banyak

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alvion & AlvianTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang