Bagaimana jadinya jika seorang remaja laki-laki nakal dan tidak bisa di atur berpindah tubuh ke tubuh remaja yang polos penuh dengan penderitaan.
Bagaimana juga dengan sebaliknya, bagaimana jika seorang remaja polos berpindah tubuh ke remaja nakal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Akhirnya setelah melewati hari yang panjang. Mereka pindah juga keesokan harinya.
Reon sedikit terharu melihat mereka yang mau pindah karena dirinya. Bahkan Alexa menerima dirinya seutuhnya. Bukankah Alexa terlalu baik. Ini seperti menampung kotoran. Dan kotoran itu adalah dirinya sendiri.
Rasanya hatinya benar-benar menghangat kali ini.
"Itu, kau ..."
"Mommy, bukankah sekarang kau adalah anakku juga? Panggil saja aku mommy seperti mereka, Reon."Alexa tak keberatan, malahan ia akan senang jika Reon memanggilnya dengan sebutan itu.
Itu ... agak canggung sekali. Rasanya aneh bukan.
"Tidak apa-apa, kau bisa memanggil mommy kami dengan senyamanmu saja,"Xander juga tak keberatan jika berbagi ibu dengan Reon. Lagi pula mereka juga saudara. Bahkan satu ayah. Jadi jika Alexa tidak mengatakan apa-apa. Berarti itu tidak ada masalah.
"Benar, anggap saja mommy adalah ibumu yang sebenarnya. Kami tak keberatan." Jawab Axian juga.
Mungkin dulu mereka bermusuhan. Tapi sekarang itu sudah terlewati, jadi tak perlu memikirkan masa lalu yang kelam itu.
Axian melihat kaki Reon, sebenarnya jika hari itu mereka mungkin lebih cepat dan lukanya tak parah, maka pasti kaki Reon bisa di selamatkan. Tapi ini mungkin sudah takdir. "Aku sudah mengatakan pada dokter, mereka akan membuatmu bisa berjalan kembali."
Reon melihat Axian, ia mengangguk ragu, dia akan mengunakan alat bantu yang canggih untuk berdiri. Setidaknya ia tak lagi menyusahkan mereka hanya untuk berjalan ke toilet ataupun mengganti pakaian.
Mungkin tak sesempurna seperti orang yang mempunyai kaki, tak setidaknya ini bisa mengurangi beban mereka.
"Terima kasih, aku berhutang banyak terhadap kalian. Aku ... kartu ku ada di dalam dompet ..."
"Kau masih memikirkan jika kami melakukan ini hanya untuk menenangkan kembar dan kau masih berpikir jika kami menyuruhmu untuk membayar kami? Reon, cukup sudah pemikiran sempitmu itu. Kita ini keluarga, jadi jangan berpikiran ke sana. Kami tak memerlukan uang ataupun bayaran darimu. Dan kami juga melakukan ini bukan karena kasihan. Ini murni dari hati kami sendiri."Alexa tak habis pikir dengan pemikiran Reon ini.
Tak dapatkah dia melihat ketulusan hati mereka.
"Jangan mengucapkan kata itu lagi, kau tahu. Saat aku mendengarnya dadaku menjadi sakit, kau seolah memandang kami remeh dan berpikir bahwa kami melakukan ini hanya berpura-pura saja."
Alexa tak bisa menghela nafas, Reon ini sungguh aneh.
"Bukan seperti itu aku ..."Reon menjadi tidak enak hati sekarang. Dia ... bagaimana menjelaskannya? Selama ini tak ada seorang ibu yang berada di sampingnya, ini sedikit canggung."Maaf telah melukai hatimu."
"Mommy akan maafkanmu jika kau menurutinya, Reon."Tukas Axian. Ia tahu maksud dari Reon, tapi mereka melakukan ini juga bukan hanya rasa simpati saja. Mereka melakukan ini murni karena Reon sudah menjadi keluarga mereka.
"Baiklah, maafkan aku mommy ..."
Alexa tersenyum, akhirnya Reon memanggilnya mommy juga, anak ini ... sebenarnya dia hanya menginginkan seseorang yang berada di sampingnya. Hanya saja dia salah jalan. Makanya itu dia menjadi jahat.
Tapi tak apa, setelah ini tak akan lagi ada yang berniat jahat.
"Mommy!"
Mereka mendongak melihat Alvion dan Alvian berjalan mendekat.
"Bagaimana, sudah?"Alexa menguap pelan pipi mereka.
"Udah mom, kami udah milih kamar. Aku sama Vian satu kamar. Terus si samping kamar kami kamar mommy. Terus di samping kamar mommy kamar bang Reon. Gimana?"
Axian dan Xander mengerutkan kening mereka mendengar itu.
"Jadi kami di mana?" Tak mungkin mereka di ujung bukan, itu sangat jauh.
Memang ada tiga kamar berdekatan. Tapi kamar yang berada di ujung agak jauh dari tiga kamar itu.
"Ya di ujung bang, kan nggak jauh juga."Alvion berucap.
Bukannya dirinya diskriminasi, tapi jika kamar mereka berdekatan dengan Xander dan Axian pasti mereka akan selalu saja di ganggu oleh kedua abangnya itu. Jika hanya ada Reon dan Alexa. Mereka akan nyaman dan tak akan diganggu oleh mereka.
"Kenapa seperti itu, kami juga ingin dekat dengan kalian,"
"Itu benar, biarkan kami dekat dengan kalian."
"No no no, kalian nganggu aku sama adek, ya kan dek?"Alvion merangkul pundak adiknya itu meminta persetujuan.
Alvian dengan agak ragu mengangguk. Dia hanya di suruh oleh abangnya itu agar mengangguk saja apa yang akan dia katakan nanti.
Lihatlah wajahnya yang tertawa. Alvian menutup mulutnya karena melihat wajah Axian dan Xander yang menggerutu kesal.
Sungguh tidak adil, tapi memang benar mereka suka menganggu adik-adik mereka siapa suruh mereka terlalu imut dan menggemaskan. Siapa yang tahan dengan itu.
"Jadi sekarang adik-adik kami tidak mau bersama kami, kalau begitu jika seperti ini aku kan!"Axian segera memeluk Alvion yang seketika melotot.
"Bang lepas!"
"Tidak, siapa suruh kau seperti itu pada kami Vion!"
Xander juga mendekati Alvian yang tertawa."Jadi sekarang Alvian yang baik ini sudah tidak mau menuruti abang?"
Alvian terdiam, dia menggeleng ribut. "Bukan seperti itu abang ... bang Vion,"
Sebelum Alvian selesai bicara, Xander lebih dulu mengelitiki Alvian. Ia tahu jika Alvian tak tahan dengan rasa geli.
"Abang ... maaf nggak lagi!"Alvian tertawa dengan keras, ia menatap Xander dengan memelas."Abang tolong ..."
Alvian melihat Alvion sambil tertawa. Bukankah ini adalah rencana Alvion. Kenapa dirinya juga kena.
Astaga, apa yang mereka mainkan sekarang. Alexa hanya menggeleng pelan. Anak-anaknya sudah bisa tertawa dengan lepas sekarang. Beban mereka sudah hilang. Semoga saja terus seperti ini selamanya.
Vote →Comment→ Follow
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.