Bagaimana jadinya jika seorang remaja laki-laki nakal dan tidak bisa di atur berpindah tubuh ke tubuh remaja yang polos penuh dengan penderitaan.
Bagaimana juga dengan sebaliknya, bagaimana jika seorang remaja polos berpindah tubuh ke remaja nakal...
Mereka semua memalingkan wajah mereka, ini reaksi Alvion. Bagaimana jika reaksi Alvian jika sudah ingat nanti.
"Jangan menangis sayang, jangan menangis ... mommy tidak bisa melihat kau menangis seperti ini," Alexa mencoba memeluk Alvion dalam dekapannya."Maafkan mommy ..."
Alvion meluruh kelantai, ia menutup wajahnya."Bang Reon kenapa bohong? Kata abang, abang janji bakal balik lagi, kalo nggak demi gua seenggaknya demi Vian ..."
Sudah ia duga, perasaannya sungguh tak enak sedari tadi, dan benar bukan. Ini lah yang terjadi. Reon meninggalkan mereka.
Alvian yang baru saja datang sedikit mengintip dari ruangannya, ia hanya bisa mengernyit dengan bingung."Bang Reon?"
Kenapa rasanya ada yang janggal. Apa dia orang baik, tapi kenapa rasanya mereka seperti orang jahat yang diucapkan oleh Ellard. Mana yang harus ia percayai."Vian bingung ..."
" Vian?"
Alvion menghentikan tangisannya saat mendengar itu, benar juga. Tadi ia mengatakan pada Vian jika akan memanggil mereka."Gua nggak boleh nangis, Vian masih sakit. Nanti kalo dia nanya dan inget pasti dia tambah drop."
Alexa menahan rasa rindunya. Ia ingin memeluk anaknya itu tapi tampak jika Alvian kembali mundur.
"Abang ..."
Alvion mengusap air matanya,"Nggak apa-apa, dia mommy kita. Mommy baik, Vian."
"Iya sayang, ini mommy. Vian jangan takut," Alexa mencoba mendekat, kali ini Alvian tak menjauh melainkan diam dengan pandangan ragu.
Akhirnya setelah sekian lama, Alexa bisa memeluk anaknya kembali. Tanpa ada ganguan, tanpa ada orang yang memisahkan mereka lagi."Maafkan mommy sayang, gara-gara mommy tak cepat menjemput kalian, kalian menjadi menderita seperti ini."
Xander juga rindu pada adiknya itu, tapi biarlah Alexa lebih dulu yang melepas rindu, takut nantinya jika Alvian terlalu di paksa, ingatannya kembali kacau dan mungkin dia akan mengamuk. Sesuai apa yang dikatakan oleh Axian tadi.
Deon hanya menggeleng pelan."Banyak bener masalah keluarga elo, Vion. Untung gua nggak ada, tapi mana nih mama sama papa, kok nggak muncul. Ini anaknya nunggu dari tadi!"
Deon memilih untuk mundur saja, biarkan keluarga ini melepas rindu terlebih dahulu tanpa ia ngangu."Tapi, kasihan bang Reon. Bang Reon, kok abang tega ninggalin kita ..."
Padahal Reon adalah orang baik yang hanya malang dengan nasibnya hingga ia bersikap buruk sebelumnya.
Melihat mereka yang masuk dan hanya ada Alvion saja yang tinggal, Deon segera mendekat."Elo, nggak apa-apa kan, Vion?"
Alvion menggeleng,"Gua nggak tahu, Deon. Gua bingung ... nanti gua harus bilang apa sama Vian kalo dia inget lagi sama bang Reon. Gimana kalo dia marah sama gua?"
Deon hanya bisa menghela nafas,"Tenang, gua yakin Vian nggak akan gitu, elo tahu kan Vian gimana? Dia itu polos, jadi kita harus jagain dia, kalo dia udah inget lagi, kita jelasin dia pelan-pelan supaya dia ngerti."
Bukankah seperti itu? Alvian tak mungkin marah pada mereka karena tak bisa menyelamatkan Reon.
"Elo terlalu banyak mikir,"
Entahlah, tapi yang pasti. Pikirkan Alvion begitu kacau sekarang. Kepalanya sakit karena terlalu banyak berpikir dan menangis sedari tadi.
"Eh eh eh Vion!"Deon menangkap tubuh Alvion yang oleng."Elo kenapa?"
"Gua pusing,"
"Astaga, badan lo tiba-tiba panas gini! Pasti elo demam! Bang! Bang Axian!"
Mendengar teriakan dari luar, segera mereka kembali keluar.
"Vion, Vion kenapa?"Xander segera menangkap dan langsung memopong adiknya itu.
"Nggak tahu bang,"Deon sedikit meringis karena menahan tubuh sahabatnya itu, kakinya masih belum kuat untuk bertumpu."Tapi badan Vion panas, keknya dia demam karena banyak nangis."
Astaga, Alvion pasti syok hingga drop seperti ini.
"Cepat, bawa Vion ke kamar,"Axian segera membuka pintu lebar-lebar agar mereka bisa masuk dengan cepat.
"Tolong panggilkan dokter, Deon."
"Hah? Bang tapi kan ada ..." Deon hanya bisa menghela nafas,"Orang panik kagak bisa mikir, padahal ada nurse call! Hedeh! Udah tahu kaki gua di perban gini!"
"Cepat Deon!"
"Eh iya bang!" Deon dengan segera melompat dengan satu kakinya karena terkejut saat mendengar suara Axian."Nanti di marahin lagi gua,"
Alvion di baringkan di sisi Alvian, bisa mereka lihat pipi Alvion sudah memerah karena panas.
"Abang," Alvian memegang tangan Alvion, ia juga bisa merasakan tangan abangnya itu yang terasa panas.
"Gua nggak apa-apa," ia hanya pusing.
"Dokter akan segera datang, sabar ya Vion." Alexa mengecup tangan anaknya itu berkali-kali.
Hari ini benar-benar sungguh hari yang sangat tidak mereka harapkan. Untuk sekarang. Alexa tak tahu harus melakukan apa, ia hanya bisa menenangkan Alvion dan mencoba untuk memperhatikan Alvian agar kembali mengingat mereka.
Tak peduli dengan lukanya, anaknya lebih penting. Bahkan Axian dan Xander sudah menyuruhnya istirahat. Tapi Alexa tak mau karena ia tidak bisa tenang jia kedua anaknya sakit seperti ini.
Mereka terlalu banyak menderita."Maafkan mommy,"
Alexa akan selalu menyesali perbuatannya, karena jika saja ia lebih cepat maka pasti tak akan terjadi hal seperti ini.
Voted→coment→ follow
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.