Bagaimana jadinya jika seorang remaja laki-laki nakal dan tidak bisa di atur berpindah tubuh ke tubuh remaja yang polos penuh dengan penderitaan.
Bagaimana juga dengan sebaliknya, bagaimana jika seorang remaja polos berpindah tubuh ke remaja nakal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Gila! Baru nggak ketemu beberapa hari elo udah gendutan aja, Vion ... aduh aduh aduh! Kenapa sih suka banget mukul!" Deon bersembunyi di belakang tubuh Alvian."Vian, liat abang lo, kenapa dia sering mukul gitu!"
"Bajingan, sana lu! Ngapain juga ke sini! Siapa yang nyuruh?"Alvion menendang kaki sahabatnya itu."Berani banget dia ngatain gua gendut! Emang kurang aja si Deon!"
"Lah serah gua dong! Lagian kan emang bener kalo elo itu gendutan, iya kan Vian?"
"Nggak! Vian sini! Jangan setuju sama dia!"Alvion tak membiarkan adiknya itu untuk dekat dengan teman luknut'nya itu.
"Abang, jangan marah. Abang tidak gendut."Alvian membalas pelukan abangnya itu. Ia berkedip pada Deon agar Deon tak membahasnya lagi."Nanti bang Vion marah lagi sama kita!"
Deon hanya mengedikkan bahunya saat melihat tatapan memelas dari Alvian itu."Orang di bilangin bener juga, gendutan ..."
"Elo!"
"Eh enggak enggak! Bercanda, Vion. Elo sensitif banget sih. Kan gua cuma bercanda doang. Jangan lempar ya, tenang ..." Deon takut saat ini karena Alvion yang ingin melemparinya vas bunga."Bisa-bisa pala gua pecah nanti kalo di lemparin beneran sama Vion. Ni anak nggak bisa becandain dikit!"
Reon yang berada tak jauh dari sana mendengarkan itu dengan senyuman di wajahnya."Kenapa semakin hari Vion tampak seperti anak-anak saja. Malahan Vian jadi penengah seperti ini. Mereka benar-benar lucu."
Jika saja bisa berjalan, ia ingin segera berlari ke sana dan mencubit pipi kedua kembar itu. Sayang sekali ia harus memutar kursi roda dulu. Memang ada kursi roda yang canggih, dan alat yang bisa membuatnya berdiri pun ada. Tapi pemasangannya sangat lama dan membutuhkan bantuan. Jadi lebih baik seperti ini, ia tidak akan menyusahkan orang lain tentunya."Xander dan Axian selalu saja menolongku akhir-akhir ini,"
Jadi tak ia akan melakukannya sendiri hari ini. Memakai kursi roda saja agar lebih mudah.
"Bang Reon! Apa kabar bang!"Deon datang dan membantu mendorong kursi roda milik Reon.
Inilah yang Reon sebutkan, benar bukan? Padahal dia bisa sendiri tapi setiap ia melakukan sendiri selalu saja ada yang membantunya."Deon, kapan kau tiba?"
"Belum lama bang, mama sama papa juga dateng. Mereka bawa oleh-oleh ke sini. Karena udah jaga anaknya yang tampan ini kemarin, makanya sekarang baru sempet ngasih hadiah!"
Seperti itu ternyata. Pasti orang tua Deon sedang berbicara pada Alexa sekarang.
Deon mendekat dan berbisik pada Reon."Bang, benarkan kata gua tadi? Vion gendutan?"
Reon menggeleng pelan, apa anak ini tidak ada kapok-kapoknya.
"Apa lu bisik-bisik sama abang gua! Jangan ngehasut abang gua ya!"Alvion membawa Reon lebih dekat dengannya."Bang dia ngehasut apa?"
"Dih! Semua elu pelit'in Vian nggak boleh, bang Reon pun nggak boleh! Pelit banget jadi orang, kan bang Reon juga abang gua!"Deon memutar matanya malas."Dasar pelit!"
"Biarin! Terserah gua lah! Bang, abang tahu sendiri kalo Deon kek gimana! Jangan ke hasut sama dia ya!"Alvion memeluk leher Reon.
Alvian yang berada di sampingnya kembali tertawa, setelah dirinya Reon juga bersikap posesif pada Reon.
"Dih dih dih! Awas aja lu nanti! Kalo gua udah punya adek gua akan bikin elu iri!"
"Lama!"cibir Alvion."Dan gua juga nggak akan iri karena gua punya adik gua yang paling imut ini, ya kan Vian?"Alvion menguyel-nguyel pipi adiknya itu.
"Iya abang aku yang imut juga!"Alvian juga menguyel-nguyel pipi Alvion. Ternyata seru juga ketika melakukan hal ini.
"Deon, kita pulang sekarang?"
Mereka menoleh, ternyata orang tua Deon dan yang lain.
"Ma, bisa nggak sih adeknya di lahirin cepet! Si Viona belagu banget! Pengen uyel-uyel pipi adek juga!"
Dwi yang mendengar itu melotot,"Deon, apa yang kau ucapkan ini. Astaga, maafkan anakku." Ia jadi malu dengan Alexa dan anak-anaknya yang lain.
"Si Vion belagu banget, mentang-mentang punya kembaran. Kan mau juga ..." Iri sekali jika melihat kebersamaan mereka."Gini nih jadi anak tunggal!"
"Sudahlah jangan bertengkar, kita pulang saja. Alexa kami pulang dulu. Maaf jika Deon tidak sopan."
Alexa hanya menggeleng saja,"Mereka bebas berteman. Hanya saja tolong kurangi ucapanmu Dion. Vian masih belum mengerti soal seperti itu."
Lihatlah wajah Alvian yang kebingungan seperti itu. Berbeda dengan Alvion yang lebih mengerti.
"Iya, mommy. Maaf. Si Vion juga sih yang buat iri ..."
"Deon ..."Bagas memperingati anaknya itu.
"Iya, pa. Ya Udha kita pulang dulu. Bye bye Vian yang imut!" Deon memeluk Alvian dengan cepat sebelum dia dia amuk oleh Alvion.
"Mang anj ..."
"Vion ..."
Alvion mengehentikan ucapannya. Ia menghela nafas saat Alexa, Xander dan abangnya yang lain itu neneleri hatinya."Sabar, Vion ... sabar ... nanti Vian nanya aneh-aneh dan ngikutin gua! Emang nih mulut harus di jaga!"
Sedangkan Alvian hanya menatap mereka dengan bingung."Kenapa abang sama yang lain jadi diam? Vian jadi bingung ..."
Alvion menangkup pipi Alvian."Dek, jangan di tiru ya. Nanti nggak ada lagi adik gua yang polos-polos gini!"
"Iya abang," walaupun tak mengerti apa yang disampaikan oleh Alvion. Alvian hanya mengiyakannya saja."Pokoknya jangan di tiru!"