86. Maafin ya ...

1.1K 86 7
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.






Alvian kedinginan sekarang, tubuhnya basah oleh air hujan. Tapi meskipun begitu, ia berhasil sampai di rumah sakit.

Ia masuk ke dalam dengan tergesa-gesa sambil menggosok kedua tangannya. Entah jam berapa tapi yang pasti sepertinya ini tengah malam, tampak rumah sakit sedikit sepi dari pada di siang hari.

"Di-mana rua-ngan bang Deon?" Alvian sedikit lupa dimana letaknya.

"Vian! Kenapa kau berada di sini?"

Alvian mendongak, ia tersenyum menatap Bagas yang menyusulnya saat ini.

"Kemari," Bagas menarik tangan Alvian untuk ikut bersamanya. Ia mengusap wajah Alvian yang basah itu."Dengan siapa kau datang ke sini, Vian? Kenapa basah-basahan seperti ini! Kau tidak lihat di luar hujan deras?!" Bagas tak habis pikir saat melihat Alvian, ia melirik ke arah lain, tapi tak mendapati ada orang yang bersama Alvian saat ini. Ia segera melepaskan jaket yang ia pakai dan memakainya pada Alvian.

"Vi-an sendiri om ..."

"Apa?! Sendiri! Jam berapa ini Vian?!"Bagas melihat kearah jam tangannya. Sudah menunjukkan angka satu di sana."Kenapa kau datang kemari di jam segini dan hujan-hujanan? Apa kau kabur?!"

Alvian mengangguk ragu, ia mengigil sekarang.

"Ikut aku ke dalam, kita ganti pakaianmu dulu, kau bisa sakit nantinya jika basah-basahan seperti ini!" Bagas membawa Alvian ke dalam gendongannya. Tampak sekali wajah Alvian tampak pucat sekali sekarang.

"Om ... om ... Vian mau ketemu sama bang Deon."

Bagas terdiam sebentar, tapi ia segera berjalan dengan cepat, nanti saja bertanya. Alvian harus mengganti pakaiannya sekarang. Ada pakaian Deon yang baru di beli tadi, jadi dia bisa memakai itu untuk saat ini.

Setelah membantu Alvian untuk mengganti pakaiannya, Bagas juga memberikan air hangat untuk Alvian."Minum dulu." Ia juga memberikan jaket yang lain untuk membalut tubuh Alvian agar tak kedinginan.

Alvian juga tak menolak, bibirnya masih menggigil saat ini.

"Kenapa kau kabur seperti ini, Vian. Bagaimana nanti jika kau sakit, belum lagi nanti keluargamu mencarimu. Kau ingin membuat keluargamu khawatir?" Untung saja Bagas sedang berada di luar karena tidak bisa tidur. Jika tidak pasti Alvian akan kebingungan berada di sini.

"Ma-af om, Vian cuma mau bujuk bang Deon. Bang Vion sedih karena bang Deon marah sama dia, terus bang Vion juga enggak mau makan. Vian juga mimpi bang Vion sakit dan luka. Vian mau ketemu sama bang Deon om ..."

Bagas memijit kepalanya saat mendengar itu, Alvian ini apakah dia benar-benar terlalu polos atau tidak mengerti apapun?

Baiklah tak apa jika dia ingin bertemu dengan Deon dan membujuknya. Tapi tidak di tengah malam dan menerobos hujan seperti ini! Bahkan dia kabur dari rumah dan berjalan berkilo-kilo meter hanya untuk pergi kerumah sakit.

"O-m bang Deon ma-na?"

"Elo gila!"

Mereka menoleh, melihat Deon yang membuka pintu dengan tak percaya.

Deon terbangun dari tidurnya saat mendengar suara orang yang masuk dan keluar dari ruangan Dwi. Ia melihat Bagas yang membawa pakaiannya ke luar dengan tergesa-gesa. Dengan penasaran ia mengikuti ayahnya itu. Tak tahunya ia malah mendengar dan melihat Alvian yang datang ke sini.

"Ba-ng Deon?" Alvian senang, ia beranjak dari duduknya dan menujubke arah Deon."Abang jangan marah lagi sama bang Vion, dia nggak salah. Bang Vion sekarang sedih dan tidak mau makan, Vian juga ikut sedih kalau abang sedih, jangan marah lagi sama dia. Abang ..."

"Vian! Elo ini kenapa sih! Bener kata Vion! Elo itu polos tapi lebih ke bego! Liat ini jam berapa! Elo nerobos hujan cuma demi bujuk gua! Nggak punya otak ya lo!"

Alvian terkejut mendengar bentakan itu, matanya sudah berkaca-kaca."Abang nggak mau maafin bang Vion ..."

Deon mengusak rambutnya kasar. Kenapa Alvian ini tak mengerti maksudnya. Apa ini yang di rasakan oleh Alvion saat menghadapi adiknya yang polos ini.

"Bukan gini juga caranya, Alvian! Nggak pergi dari rumah juga, kalo elo kenapa-napa di jalan gimana? Di culik, tabrakan? Terus elo nerobos hujan gini, apa enggak sakit nantinya!"Deon juga melepaskan jaket yang ia pakai. Memang hari ini sangat dingin karena hujan. Jadi semua orang memakai jaket. Ia tak bisa berpikir bagaimana dinginnya tubuh Alvian sekarang.

Apalagi Alvian menerobos berjam-jam berjalan di bawah hujan yang deras.

"Liat kan! Menggigil gini, pa tolong panggil dokter! Pasti Vian bakalan sakit nanti, liat dia menggigil gini."

Bagas tak menolak, ia segera pergi dari sana. Semoga saja masih ada dokter yang berjaga saat ini. Kasihan sekali melihat Alvian yang mengigil kedinginan seperti itu.

"Sini! Pake selimut ini juga,"Deon segera melapisi tubuh Alvian dengan selimut lagi. Udah jangan nangis, nanti tambah sakit."

Alvian mengangguk, ia hanya takut melihat Deon yang marah seperti tadi."Ab-ang udah maafin bang Vion? Maafin bang Vion ..."

Deon menatap tajam Alvian saat ini, kenapa terus saja memikirkan orang lain sedangkan dirinya sendiri dalam keadaan sakit seperti ini.

"Vian nggak mau kalian bertengkar dan marahan lagi, Vian mau kalian baikan ... seperti dulu. Maafin bang Vion ya bang ..." Alvian mengigit selimut yang ia pakai, sungguh saat ini ia kedinginan.

Vote →Comment →Follow

Vote →Comment →Follow

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alvion & AlvianCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang