98. Ceroboh

1K 53 15
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Sungguh sial, kenapa selama ini mereka tak mengontrol kondisi kesehatan Alvian lagi, sudah tahu Alvian itu adalah anak yang spesial.

Dari bayi dia sudah terkena penyakit
jantung bawaan. Alexa benar-benar menyesal kali ini tidak mengecek kondisi Alvian secara menyeluruh setiap hari.

Saat ini jantung Alvian tak tumbuh seiring usianya. Itu lah yang membuat Alvian harus kembali di operasi.

"Maafkan mommy, Vian. Lagi dan lagi mommy gagal jadi seorang ibu. Seharusnya mommy tidak lupa dengan kondisi kesehatanmu."

Mereka terlalu bahagia akhir-akhir ini hingga tak menyangka jika Alvian akan kembali jatuh sakit.

Ini bukan masalah sepele, mereka perlu mencari jantung untuk transplantasi jantung untuk Alvian kembali.

Lihatlah betapa pucat nya wajah Alvian sekarang.

"Kita semua salah, Alvian memang tidak boleh sakit. Dia tidak boleh terlalu lelah karena kondisinya yang rentan. Ini semua salah kita."Xander berucap.

Itu memang kenyataannya bukan, tak ada satupun yang mengingat jika Alvian pernah melakukan operasi transplantasi jantung sejak bayi, dan sekarang mereka kebobolan.

Bagaimana mereka bisa mencari jantung untuk Alvian, jika tidak ada maka ... sudah bisa di tebak. Alvian akan tiada dalam waktu sekejap.

"Kita ceroboh."

"Mommy, Vian bisa sembuh kan? Vian bisa sembuh! Jawab mommy, bian bisa sembuh kan ..."

Kenapa, kenapa dan kenapa?
Satu kalimat yang membuat mereka merasa janggal. Kenapa harus Alvian, sedari kecil Alvian sudah lama menderita, bahkan kehidupannya tak terjamin.

Tapi saat baru saja Alvian merasa kebahagiaan, dia kembali menderita.

"Kenapa bukan gua?" Alvion bahkan tidak pernah merasa makan roti basi yang sudah di injak oleh orang lain. Tapi Alvian pernah merasakan itu."Kenapa harus Vian lagi sih? Kenapa bukan gua aja! Vian udah banyak banget ke siksa sama bajingan itu!"

"Kenapa nggak adil banget sama, Vian?"

Axian mencoba menenangkan adiknya itu,"Jangan begini, Vian. Jangan seperti ini. Kita tidak boleh rapuh seperti ini. Jika Vian melihat kita bersedih maka dia akan bersedih."

"Nggak mau bang! Abang nggak bisa jawab juga kan? Kenapa harus Vian! Kenapa harus adik gua! Adik gua nggak salah apa-apa, bahkan dia nggak tahu sakit dia apa. Kenapa ..."

Tak bisa menjawab, ini takdir yang tidak bisa mereka kira.

Saat ini, jika Alvian tidak mendapat jantung dalam beberapa bulan, maka mereka akan mempersiapkan jawaban terburuk. Mungkin Alvian akan pergi lebih dulu.

"Kenapa bukan gua? Kenapa gua sehat anjing! Kenapa gua nggak sakit! Kenapa! Gua mau sakit, gua mau gantiin Vian! Gua mau sakit! Bang pindahin sakit Vian ke gua ... pindahin bang! Tolong ... suruh dokter ambil jantung gua aja ..."

"Apa yang kau ucapkan ini, Vion. Jangan seperti itu. Jangan berucap seperti itu."

Tentu saja tidak bisa, mereka harus menunggu ada jantung yang cocok dan orang itu sudah tiada, bukan orang yang masih hidup.

"Jangan seperti ini, Vion. Kita harus cari solusinya. Aku sudah menyuruh orang untuk mencari jantung yang cocok untuk Vian."Xander tak mungkin Dian begitu saja.

Masalahnya hanya satu, dari seribu orang, hanya satu saja kemungkinan orang yang cocok. Itu pun sangat susah sekali.

"Tapi gimana sama Vian, bang ... dia pasti nahan sakit sekarang. Nggak kuat liat dia sakit gitu."

Ini, tidak tahu. Mereka tidak tahu harus melakukan apa. Bahkan melihat Alvian saja mereka tidak sanggup. Karena takut di tanya oleh Alvian, dirinya kenapa.

Alvian itu polos, bahkan sangking polosnya dia merahasiakan sakit yang dia alami saat ini. Dia mungkin takut mereka khawatir saat melihatnya sakit seperti ini.

Di dalam sana, Alvian menatap Reon dengan bingung. Ia bertanya pada Reon kenapa mereka berada kembali di rumah sakit, padahal dia tidak kenapa-napa.

"Abang, Vian tidak mau di rumah sakit. Vian baik-baik saja. Vian cuma sakit dada saja. Sekarang sudah tidak sakit lagi. Maafin Vian sudah bohong tadi, tapi sekarang bian sudah baik-baik. Abang mau pulang ..."

Reon memejamkan matanya."Ternyata aku orang yang beruntung,"Ia hanya kehilangan kakinya, bahkan tak ada sakit yang lain."Tapi Vian beda, bisa saja detik ini dia tiada, bisa saja besok dan bisa saja lusa, kita tidak akan bisa menebaknya."

Ini seperti bom waktu, jika tidak menemukan jantung untuk Alvian, maka bom itu akan meledak dan membuat mereka tidak akan bisa bertemu dengan Alvian kembali.

"Vian memang tidak kenapa-kenapa, tapi Vian butuh vitamin. Jadi harus menunggu infusan ini habis dulu, nanti baru bisa pulang."

Entahlah, bisa atau tidaknya Reon tak tahu. Hanya dokter yang menentukan, tapi yang terpenting ia sudah menyiapkan alasan agar adiknya bisa bertahan di rumah sakit untuk sebentar lagi.

"Beneran abang? Kalu infus sudah habis, Vian bisa pulang?" Senang sekali jika itu benar,"Vian tidak suka rumah sakit, bang Reon dan yang lain selalu saja sedih jika Vian di rumah sakit. Vian tidak mau lihat mereka sedih. Vian tidak suka, Vian mau cepat pulang. Tapi kenapa dada Vian tidak hilang sakitnya."

Padahal dia sudah berada di rumah sakit saat ini, seharusnya bisa sembuh bukan. Tapi kenapa sekarang belum sembuh juga. Alvian merasa tidak nyaman dengan situasi ini, dia merasa sesak dan kepalanya selalu saja pusing,"Vian mau pulang ..."

Vote →Comment →Follow

Alvion & AlvianCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang