Bagaimana jadinya jika seorang remaja laki-laki nakal dan tidak bisa di atur berpindah tubuh ke tubuh remaja yang polos penuh dengan penderitaan.
Bagaimana juga dengan sebaliknya, bagaimana jika seorang remaja polos berpindah tubuh ke remaja nakal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Udah-udah! Gua nggak kuat lagi, emang mau gua pipis disini?"
Alvion beserta Alvian menghentikan aksi mereka saat ini, tidak mau apa yang dikatakan Deon menjadi kenyataan nantinya.
"Enak aja, nggak ya. Nanti bau pesing lagi kamar ini, udah Vian. Lepasin, jangan di peluk lagi."
Lega rasanya kedua kakak dan adik itu tidak menggelitikinya, Deon bangkit membenarkan pakaiannya."Udah ah, kalian tiup lilin dulu, lilinnya udah mau habis itu."
"Deketan, Vian. Kita tiup sama-sama,"
"Iya, abang."
Keduanya mendekati Reon, menatap lilin yang sudah terbakar oleh api itu, ingin langsung meniupnya tetapi Reon lebih dulu menyela.
"Kalian berdoa dulu, baru tiup lilin."
"Harus berdoa ya, abang?"tanya Alvian, pasalnya ini adalah pertama kalinya ia merayakan ulang tahun.
Usapan pelan Alvian rasakan dikepalanya saat ini, Xander lah yang melakukannya.
"Benar, Vian. Berdoa dulu agar nantinya Alvian bisa menjalani hal yang baik dengan bertambahnya umur, Vian doakan saja apa yang Vian inginkan."
Jadi seperti itu, Alvian mengerti sekarang, ia pernah melihat orang yang merayakan ulang tahun tapi tak pernah merasakan ulang tahun itu sendiri.
Menutup matanya, Alvian segera berdoa."Vian mau keluarga Vian bahagia, dan Vian tidak akan menyusahkan lagi semua orang."
Tertegun saat mendengar kalimat diucapkan oleh Alvian. Mereka hanya tersenyum lirih, bahkan dalam doanya, Alvian hanya ingin mereka bahagia tanpa menyusahkan mereka.
"Gua juga pengen bahagia sama adik gua selamanya. Sama keluarga dan temen gua, pokoknya gua pengen semua orang yang ada di deket gua bahagia!"
Tatapan mereka bertemu saat Alvian membuka matanya. Mereka sama-sama tertawa.
"Tiup lilin sekarang?"
"Iya, abang. Kita tiup sekarang juga."
"Satu, dua, tiga!"
Mereka bertepuk tangan, setelah itu satu per satu mencium dan serta memeluk kedua saudara kembar itu.
"Selamat ulang tahun, Vion, Vian. Maafkan mommy jika ada salah ya, mommy menyayangi kalian."Alexa tersenyum teduh.
"Mommy nggak salah apa-apa, kok. Kita nggak usah inget-inget lagi tentang kejadian masa lalu. Yang penting sekarang kita juga udah bahagia."
"Iya, mommy. Vian tidak mau mommy sedih lagi. Jadi jangan bahas tentang sedih-sedih lagi ya, Vian tidak suka."
"Baiklah, mommy tidak akan membahasnya."Alexa hanya tersenyum tipis, sedih sekaligus terharu saat ini karena melihat kedua anak kembarnya sudah besar.
Banyak hal yang mereka lewati, mulai dari hal yang masuk akal dan tidak masuk akal.