96.Semoga saja

854 54 3
                                        

Sepanjang hari, keluarga itu berjalan-jalan dengan gembiranya. Mulai dari makan, dan wisata-wisata yang lain.

Lelah? Tentu saja tidak. Mereka merasa senang bisa bersantai seperti ini bersama anak dan adik mereka.

Apalagi kali ini Alvion, Alvian dan Deon tak berhentinya bercanda sepanjang perjalanan. Mereka tak bosan jika  ada ketiga bocah itu.

Satunya berdebat dan satunya lagi hanya diam saja menatap pertengkaran itu dengan aneh.

"Abang mau ke toilet."

Alvian menyentuh lengan Axian. Saat ini mereka tengah bersantai di taman sebelum pulang. Tapi karena ada sesuatu yang mendesak, Alvian akhirnya berani mengatakannya pada Axian.

"Baiklah, abang antarkan jika begitu."

Alvian menggeleng, "Vian bisa pergi sendiri abang. Kan toiletnya di sana. Dekat malahan, jadi Vian bisa sendiri."tunjuknya pada toilet umum yang tak jauh dari mereka.

"Baiklah, aku akan melihatmu di sini saja. Jika ada sesuatu katakan pada kami oke?"Axian mengelus pipi adiknya itu dengan gemasnya.

Alvian tersenyum dan setelahnya mengangguk, dia segera berlari ke arah ke toilet.

"Kenapa membiarkan adik kita pergi sendiri?"tanya Xander dengan tak suka.

"Jangan terlalu banyak melarang Vian. Dia juga ingin melakukan apa yang dia mau. Jika kita melarangnya, bukankah Vian nanti tidak akan nyaman,"jawab Axian.

"Bener, bang. Vian emang yang paling kecil. Tapi kita juga nggak boleh anggep dia kayak anak kecil beneran apalagi kalo sampe larang dia mau ke toilet. Nanti si Vian risih."Alvion memakan es krim miliknya setelah berbicara seperti itu. "Vian emang kecil sih, tapi kalo nggak bolehin ke toilet sendiri kan keterlaluan juga."

Jika hal-hal kecil seperti ini maka Alvian bisa melakukannya dengan sendiri. Mereka tidak perlu khawatir.

Maka dari itu Alvion tak melarang adiknya pergi kemanapun, tapi jika itu dekat. Jika jauh dia pun tak akan memberikan izinnya."Apalagi Vian polosnya minta ampun!"

Xander hanya mengangguk saja, sepertinya dia terlalu memanjakan Alvian. Ia tidak bermaksud seperti itu."Vion, aku juga khawatir padamu, dan ..."

"Bang? Malahan aku yang nggak mau di khawatirin sama abang!"Alvion bergidik ngeri,"Cukup Vian aja yang jadi adik kita. Aku nggak usah. Nggak mau di perlakuin kayak anak kecil gitu. Risih tahu nggak."

Alvion bahkan tak iri pada Alvian, dia benar-benar tidak suka saat di peluk atau di sentuh oleh para abangnya itu kecuali Alexa. Dia hanya memperbolehkan Alexa saja karena Alexa mommy'nya.

"Kalian tahu sendiri, Vion memang seperti itu. Sabar saja."Reon menepuk bahu Xander dan Axian."Dari dulu Bion memang tidak mau di peluk seperti itu, aneh sekali dia. Sangat berbeda dengan Vian. Tapi sayangnya Vian terlalu polos."

Bahaya sekali jika bertemu dengan orang jahat, bisa-bisa Alvian terhasut.

"Jangan pegang-pegang!"Alvion menghindar saat Axian ingin merangkulnya."Sujud syukur gua ada kembaran. Kan gua nggak di giniin terus. Untung ada Vian. Biar dia aja yang di toel-toel gitu!"

Baru saja Reon menyebutnya, Alvion sudah bereaksi seperti itu.

Mereka semua menatap ke arah toilet dan menunggu Alvian. Sebentar lagi mereka akan pulang. Jadi mereka akan menunggu Alvian keluar.

Di dalam toilet, Alvian memegang dadanya yang tiba-tiba saja sakit."Vian kenapa ya? Tadi sakit, sekarang juga sakit."

Memang dari semalam, Alvian merasa tak enak pada dadanya. Tapi ia takut untuk berbicara pada yang lain.

Dia tidak mau orang-orang khawatir padanya.

"Vian? Masih lama? Kita mau pulang sayang."Alexa mengetuk pintu karena sudah menunggu beberapa menit Alvian juga tidak keluar.

"I-ya, mommy ..."Alvian membuka pintu dan tersenyum melihat ke Alexa.

"Vian sakit perut? Kita pulang saja segera kalau begitu."

Alvian menggeleng,"Vian bukan sakit perut mommy. Tapi Vian bingung karena tidak ada sabun di sini. Jadi Vian tidak bisa cuci tangan."Ia memperlihatkan tangannya.

"Kenapa nggak ngomong aja sih, dek. Sini pake sabun gua aja."Deon segera mengambil sabun di dalam tasnya.

"Lengkap banget tas lo, Deon. Pake ada sabun segala,"ucap Alvion, ia terkejut dari tadi Deon terus saja membawa barang yang berguna.

Seperti gunting, dan barang-barang yang memang di butuhkan pada umumnya.

"Iya lah! Harus siap sedia kalo misalnya ada apa-apa. Kalo nggak bisa buka ciki, gua bisa pake gunting. Kalo tiba-tiba aja mau minum tapi nggak ada sedotan, kan bisa pake sedotan serba guna ini! Deon gitu loh!"Deon mengusap rambutnya.

Memang jika dirinya pergi kemanapun, Deon akan membawa barang-barang seperti ini.

"Gua nggak muji ya, jangan kepedean."Alvion hanya memutar matanya malas."Apalagi kalo di puji, bisa terbang ke langit ke tujuh tuh!"

"Udah abang, ini sabunnya. Makasih ya bang, Deon!"Alvian memberikan kembali sabun yang sudah ia pakai ke Deon.

"Sip! Kalo gitu kita pulang aja sekarang."

Mereka mengangguk setuju, tak mungkin mereka sampai malam di luar. Lebih baik segera kembali.

Alvian tak menolak saat abangnya itu ingin mengendongnya. Dia hanya menelungkupkan wajahnya pada leher Alvion."Dada Vian dag dig dug. Kenapa ya? Sakit sekali ..."

Melihat Alvian yang tertidur, Alvion memelankan langkah kakinya."Kenapa ya Vian agak aneh, nggak biasanya dia banyak melamun kayak gini. Tapi Vian nggak sakit kok."

Ia sudah merasakan tubuh adiknya itu, tak ada rasa panas. Berarti Alvian baik-baik saja. Tapi saat Alvian keluar dari toilet, dia merasa ada yang aneh. Alvian tampak lebih pucat dari biasanya.

Semoga saja adiknya tidak kenapa-napa. Tapi jika adiknya sakit pasti Alvian akan bicara bukan. Karena adiknya itu akan jujur. Alvian pasti akan mengatakan pada mereka yang sebenarnya.

Alvian tidak akan diam saja dan menyembunyikan sesuatu pada mereka bukan?

Vote→Comment→ Follow

Alvion & AlvianCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang