Bagaimana jadinya jika seorang remaja laki-laki nakal dan tidak bisa di atur berpindah tubuh ke tubuh remaja yang polos penuh dengan penderitaan.
Bagaimana juga dengan sebaliknya, bagaimana jika seorang remaja polos berpindah tubuh ke remaja nakal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kondisi Alvian sudah mulai membaik kali ini, jika kemarin dia tidak bisa makan apapun maka sekarang dia sudah bisa makan satu ataupun dua suap bubur. Memang tidak banyak tapi yang terpenting Alvian mau makan agar perutnya tetap terisi.
"Punya aku aja, mom. Soalnya laper."Deon mengambil piring yang ingin di letakkan oleh Alexa.
"Tapi ..."
"Nggak apa-apa, enak kok. Deon bukan orang yang pilih-pilih."Deon hanya cengengesan saja menghabiskan bubur milik Alvian itu.
Memang rasanya hambar karena itu hanya bubur dengan bumbu sedikit saja, bagaimanapun Alvian harus tetap di jaga sebulan kedepan, baik kondisi makanan maupun apapun yang dia lakukan
Itu aja mempengaruhi jantungnya nanti.
"Baiklah, jika kau mau tidak apa-apa karena itu benar-benar hambar." Alexa tak akan memaksa jika Deon ingin memakannya.
"Mulai sekarang mommy tidak mau ada yang berbohong lagi pada mommy, baik itu Xander, Axian, Reon, Alvion maupun Alvian. Tolong jangan berbohong lagi pada mommy. Mau itu pusing, batuk dan bahkan luka sekecilpun harus katakan pada mommy. Mommy tidak mau kalian seperti Vian yang tak berdaya diatas kasur karena mommy terlambat tahu tentang apa yang dialami oleh Vian. Mommy benar-benar memohon pada kalian. Mommy hanya punya kalian."
Haruskah Alexa memohon lagi pada semua anaknya agar semua anaknya tak lagi bersikap seperti Alvian. Dia hanya seorang diri di dunia ini, tidak ada orang tua bahkan suami pun seperti iblis. Jadi jika ia kehilangan salah satu mereka dirinya tidak akan sanggup.
"Mommy maaf ..."Alvian menyentuh tangan Alexa. Pasti Alexa terluka saat ini karena dirinya.
"Mommy akan maafkan jika Vian katakan pada mommy, dengan sejujur-jujurnya. Jadi tak perlu lagi ada rahasia diantara kita, tak perlu lagi ada perasaan tidak enak di antara kita. Kalian harus jujur pada mommy, hanya itu yang mommy inginkan. Karena kalian hidup mommy."
Mungkin jika orang lain mendengar apa yang Alexa katakan maka mereka akan tertawa, kata-katanya seolah orang yang paling tersakiti di dunia ini.
Tapi itu lah faktanya, dari dulu hingga sekarang, mereka belum pernah mendapatkan kebahagiaan yang wajar, kejadian yang tidak masuk akal terus saja hadir di dalam hidup mereka.
Hanya ingin hidup tenang dan bahagia. Itu lah yang diinginkan Alexa. Tak ada niat untuk melakukan apapun selain bersama semua anak-anaknya.
Bagaimanapun dia juga seorang wanita yang menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Terkadang Alexa lelah dengan semua apa yang terjadi, tapi ia yakin suatu hari pasti akan ada hari indah dimana mereka akan berkumpul bersama tanpa ada rasa sakit, tanpa ada rahasia, dan tanpa ada tangisan lagi.
"Mommy tenang aja, mulai sekarang mau Vion luka sekecil apapun, Vion akan kasih tahu mommy. Vion janji, dan kali ini bener-bener janji. Kita nggak akan kecewain mommy lagi. Benarkan, Vian?"
Alvian mengangguk lemah, ia tidak bisa berbicara terlalu banyak karena masih sakit. Tapi Alvian sudah sadar akan satu hal."Vian tidak akan bohong lagi selamanya. Vian tidak ingin mereka dan mommy sedih karena Vian."
Mungkin ucapan Alvion dan orang yang pernah mengatainya dulu benar. Dia adalah orang bodoh, bukan polos melainkan orang bodoh.
Karena dia tidak sama seperti abangnya yang lain. Mereka semua adalah orang hebat, bukan seperti dirinya yang selalu saja menyusahkan orang lain.
Alvian sangat sadar, tak selamanya harus menjadi bodoh. Ia sudah berusaha menjadi sosok yang pintar baik dalam pelajaran maupun di dalam kehidupan pribadi.
Tapi sebanyak apapun dia mencoba, Alvian tidak bisa merubah dirinya yang bodoh ini menjadi lebih pintar. Lebih bermanfaat bagi orang lain.
"Vian jangan nangis, Vian nggak salah kok. Jangan nangis ya, dek."Alvion memeluk adiknya itu.Ia tidak suka melihat air mata adiknya bercucuran seperti ini."Udah ya, nanti dadanya sesak. Vian mau sakit lagi?"
Gelengan pelan reaksi Alvian saat abangnya mengatakan itu.
"Ya udah, jadi jangan nangis lagi ya. Kalau ada apa-apa cerita sama gua, kan gua abang lo."Ia mencubit pelan hidungnya."Kalo bisa, kita ketuker aja kayak dulu, biar gua ngerasain gimana jadi elo. Tapi keknya nggak bisa karena bukan gua yang bisa ngatur takdir seenaknya."
"Vian janji tidak akan jadi bodoh lagi ..."
"Ssssst ..."Alvion menutup bibir adiknya itu."Siapa yang bilang Vian bodoh? Vian pintar kok. Jadi jangan mikir macem-macem lagi ya, tidur aja sekarang, istrihahat yang banyak supaya cepat sembuh. Nanti kita bisa pergi jalan-jalan lagi, pergi makan lagi, Vian suka cumi kan? Nanti kita makan cumi, dan gua akan makan ikan. Terus kita pergi ke pantai, main sama air."Alvion mengelus kening adiknya itu."Janji sembuh?"
"Janji ..."
Melihat jari kelingking mereka yang menyatu, Alvian dan Alvion sama-sama tersenyum.
Sungguh kehidupan mereka bagaikan sebuah alur cerita, kadang sedih, senang bahkan sakit bergantian. Tapi di sini yang paling menderita adalah Alvian kecil.
"Takdir emang nggak adil, Vian. Tapi gua janji akan buat takdir itu lebih baik dengan semampu gua."
Mungkin tak bisa di rubah, tapi mereka akan saling menguatkan satu sama lain agar bisa menjalani takdir mereka.
"Gua nggak pernah nyesel punya kembaran kayak elo, karena elo hidup gua."Alvion menyatukan keningnya pada Alvian.
"Vian juga senang punya kembaran seperti abang, abang sangat baik."
Mereka berdua terkekeh pelan, setidaknya hari ini sudah mereka lewati, dan mereka akan menantikan kebahagiaan itu nantinya di esok hari.