Bagaimana jadinya jika seorang remaja laki-laki nakal dan tidak bisa di atur berpindah tubuh ke tubuh remaja yang polos penuh dengan penderitaan.
Bagaimana juga dengan sebaliknya, bagaimana jika seorang remaja polos berpindah tubuh ke remaja nakal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Cantik ya, Vian."
"Iya bang, cantik banget!"
Alvion dan Alvian memandang satu sama lain setelah itu mereka tertawa.
"Lucu ya, kisah kita kayak di tulis sama penulis aja, pindah jiwa yang nggak mungkin tapi kita malah alamin hal itu."
Alvian mengangguk,"Iya bang, Vian juga tidak nyangka. Tapi Vian seneng! Vian bisa ketemu sama abang dan yang lain!" Ia sedikit menunduk,"Andai aja daddy ..."
Alvion memeluk adiknya itu, ia merangkulnya dan kembali melihat bintang di angkasa."Udah berlalu, Vian. Nggak usah di omongin lagi."
"Tapi abang, biarpun daddy jahat, kita harus maafin daddy dan doain daddy supaya dia bisa tenang di alam sana."
Tak menjawab, Alvion hanya diam. Haruskah dia melakukan itu juga, tapi kejahatan yang Ellard lakukan sangatlah besar.
"Abang nggak maafin daddy ya?"Alvian menoleh, dia bisa melihat jika abangnya itu tengah merenung sekarang.
"Nggak tahu, Vian. Gua nggak tahu harus ngelakuin apa. Gua ... kecewa sama daddy,"
Boleh bukan Alvion merasa kecewa, ia pikir Ellard tak sejahat itu.
"Tapi daddy udah nggak ada abang, jadi kita maafin aja. Tidak boleh benci ke orang yang udah nggak ada! Vian saja tidak benci lagi sama daddy!"
Lucu sekali, Alvion tak tahan melihat wajah Alvian imut ini."Elo kan malaikat baik, Vian! Nggak mungkin elo bisa benci sama orang."
Adiknya itu polos, dan tak tahu apapun. Jadi sebisa mungkin Alvian tak merasakan apa yang mereka rasakan. Ada gunanya juga kepolosan dari adiknya itu.
"Nanti makan yang banyak, supaya badan elo balik ke gendut lagi! Udah kurus gini,"ia mencubit pipi adiknya itu. Jangan tersisa sedikit lemak saja di sana.
"Abang juga makan yang banyak! Supaya abang juga bisa gendut!" Tak mungkin hanya dirinya saja yang gendut seperti ini.
Alvion menggeleng cepat."Karena gua udah balik lagi ke tubuh gua, gua akan olahraga terus jadi sixpack lagi! Dan gua bisa sepuasnya makan cumi!"
Jika berada di dalam tubuh adiknya itu, Alvion merasa tersiksa rasanya.
"Kalau gitu, Vian juga mau! Perut abang bagus waktu itu, jadi Vian mau juga!"
Tawa terdengar dari bibir Alvion, hal itu membuat Alvian mengerutkan keningnya kebingungan.
"Kenapa abang ketawa? Kan Vian benar!"
"Gimana elo mau kayak gua, baru bentaran aja elo udah laper lagi! Yang ada bukan sixpack tapi malah perutnya yang buncit!" Alvion mengelitiki perut adiknya itu membuat Alvian tak dapat lagi menahan tawanya.
"Abang udah abang ... udah ..."
"Sini sini! Sini gua gelitikin!"
Alvian mencoba menjauhkan dirinya dari Alvion. Tapi tetap saja Alvion malah menggelitikinya. "Abang ... udah geli!"
Segera Alvion menyudahi aktivitasnya. Ia mengusap pelan keringat di dahi Alvian."Siapa suruh gemesin, nggak usah sixpack lagi, ngerti?"
Hanya anggukan saja jawaban dari Alvian karena ia masih tertawa sekarang.
"Nah gitu! Biar tetap imut kayak gini!"
Alexa yang berada di pintu kamar anaknya itu tak bisa menahan tawanya. Indahnya ... sungguh sangat indah pemandangan yang seperti ini.
Andai saja sudah dari dulu seperti ini maka pasti kehidupan mereka sudah bahagia.
Alexa berdehem membuat kembar menoleh.
"Mommy!"
"Iya sayang, kalian sudah siap apa belum?" Alexa datang ke arah mereka dan mengusap kedua pipi anaknya itu.
"Sudah dari tadi mommy!"
"Iya, kita udah siap! Malahan udah dari tadi."
Melihat barang-barang yang sudah siap di sana, Alexa mengangguk saja.
Mereka akan pindah rumah sekarang. Tadinya Alexa menyuruh maid saja untuk mengemasi barang-barang kembar.
Tapi kembar malah menolak dan ingin mengemasi barang mereka masing-masing.
Bukan tempat ini terlalu kecil untuk mereka, alasan mereka berpindah tempat tinggal adalah karena Reon.
Mereka sudah memutuskan bersama untuk tinggal di kediaman tanpa tingkat. Hanya berada di lantai satu saja. Ini semua mereka lakukan agar Reon lebih leluasa pergi kemanapun dan tidak terjadi hal yang tak diinginkan nantinya.
Bisa saja menggunakan lift, tapi jika nanti Reon jatuh dari tangga atau dari kolam atau apapun itu, tidak ada yang bisa memprediksinya. Jadi demi kenyamanan bersama. Mereka memutuskan untuk pindah tempat tinggal saja dan memilih tempat tinggal yang sangat aman bagi Reon.
Apalagi Reon benar-benar kekeh tidak ingin di bantu oleh mereka. Dia ingin melakukan semuanya sendiri.
"Mommy, nanti ada alat olahraga kan?"
Alexa tahu betul apa yang diinginkan oleh anaknya yang satu ini."Tidak ada, Vion tidak usah menjadi yang dulu lagi. Mommy suka anak yang gemuk dan berisi. Jadi Vian dan Vion harus jadi anak yang imut!"
Alvian menutup mulutnya dan tertawa. Ia bisa melihat ekspresi dari Alvion yang kecewa."Jadi kita sama-sama gendut aja abang!"
"Nah itu lebih bagus!"Alexa mencubit pelan pipi anaknya itu."Jangan cemberut sayang. Nanti setelah dewasa Vion bisa melakukan apapun. Tapi Vion kan masih belum berumur dewasa. Jadi kalian harus jadi anak mommy yang paling imut dan lucu."
Apalagi jika dilihat-lihat. Alvion dan Alvian semakin hari semakin mirip saja. Entah apa yang terjadi tapi sepertinya mereka tampak berbeda. Tak seperti dulu, wajah Alvion terlihat berbeda dari Alvian.
Alvion hanya berdecih, padahal ia sudah merindukan perutnya yang dulu.
"Sudah jangan cemberut, kalian tidurlah. Ini sudah malam. Besok pagi baru kita akan pergi." Alexa mencium kening kedua anaknya itu.