Bagaimana jadinya jika seorang remaja laki-laki nakal dan tidak bisa di atur berpindah tubuh ke tubuh remaja yang polos penuh dengan penderitaan.
Bagaimana juga dengan sebaliknya, bagaimana jika seorang remaja polos berpindah tubuh ke remaja nakal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alvian sepenuhnya sembuh, mungkin hanya tinggal kontrol kesehatan saja yang harus dia jalankan setiap bulan, bukan hanya Alvian saja, tapi Alvion dan bahkan seluruh anggota keluarga ini juga akan melakukan hal yang sama.
Setiap bulan mereka akan mengecek kesehatan mereka, jika mempunyai penyakit dan lainnya maka mereka akan tahu secepat mungkin.
Sesuai janji, mereka akan membawa Alvian ke pantai yang indah, saat ini mereka tengah bersantai sembari memakan seafood yang sudah dipesan.
Khususnya kesukaan Alvian tersendiri, yaitu cumi. Sedangkan Alvion harus menatap lemah melihat cumi yang dimakan oleh adiknya itu.
"Kalo makan mati entar, mendingan nggak usah."
Memang semua yang berada di meja itu lezat sekali, tapi tetap saja bagi Alvion cumi lah yang paling enak.
"Tidak apa-apa, makan yang lain saja ya. Mommy tidak mau Vion sakit,"Alexa masih ingat bagaimana tubuh Alvion yang sama sekali tak bisa memakan cumi. Anaknya itu akan drop jika memakan makanan itu.
"Iya, mom. Vion nggak mau nyari penyakit karena cuma mau makan cumi doang, udang juga enak. Mommy kenapa nggak makan?"
"Baguslah, anak mommy melihat Vian makan cumi hingga tak sadar jika mommy sudah menghabiskan satu piring udang. Vion tidak lihat perut mommy sebesar ini." Alexa menunjuk kearah perutnya yang sudah kekenyangan.
Alvion tertawa mendengar itu, dia jadi tak fokus dengan sekelilingnya."Habisi'nya Vian makannya bikin ngiler, jadi nggak sadar ke yang lain. Ya udah, Vion lanjut makan lagi."
"Abang mau, Vian bukakan abang udang." Alvian menunjukkan lobster yang dia berikan pada abangnya itu.
"Bukan udang, Vian. Tapi lobster."
"Eh, iya." Alvian tersenyum malu, bentuk mereka seperti sama saja karena ukuran udang yang dia makan seukuran lobster.
"Mau dong! Apalagi dikupasin sama, Vian. Tambah enak jadinya." Alvion memakan suapan dari adiknya."Beuh enak banget, emang nggak salah pilih tempat."
"Iya, iya. Tahu kok pilihan Alvion, Muji aja terus, mentang-mentang pilihan sendiri." Deon mencibir,"Vian suapin abang juga."
"Iya lah! Harus bangga sama pilihan sendiri, itu artinya selera gua nggak main-main. Dari pantai sama tempat makannya yang gua pilih enak semua'kan?" Sombongnya.
"Iyain, nanti ada yang ngambek,"cibirnya.
"Emang iya, Deon! Sirik aja jadi orang."
Mereka hanya tertawa saja melihat tingkah kedua teman itu, jika Deon ikut maka sudah dipastikan selalu saja ada pertengkaran kecil seperti ini.
"Jika semua sudah selesai makan, kita beristirahat saja, ini juga sudah mulai sore. Nanti kalian kedinginan."Xander berucap.
Apalagi angin dipantai begitu kencang, jadi tubuh adiknya nanti bisa masuk angin.