Bagaimana jadinya jika seorang remaja laki-laki nakal dan tidak bisa di atur berpindah tubuh ke tubuh remaja yang polos penuh dengan penderitaan.
Bagaimana juga dengan sebaliknya, bagaimana jika seorang remaja polos berpindah tubuh ke remaja nakal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hal yang pertama Alvian lihat saat dia membuka mata adalah sinar terang yang berada di atas plafon itu.
Dia melihat kesamping dan melihat seseorang memegang tangannya, itu Alvion yang tertidur.
"Vian sakit semua ..."
Rasanya bagaikan di sayat-sayat oleh benda tajam, kepalanya juga pusing dan dia tidak bisa menggerakkan tangannya, Alvian merasa sudah lama tidak bangun.
Merasakan ada yang bergerak di tangannya, Alvion seketika sadar dari tidurnya, dia sedikit menggosok matanya lalu melihat ke arah kedepan."Vian? Vian udah sadar! Elo udah sadar! Mommy, bang! Vian udah sadar!"
Orang-orang yang masih tertidur di sana di kejutkan dengan suara Alvion, lalu dengan segera mendekat.
"Akhirnya Vian sadar juga, mommy khawatir Vian tidak akan sadar." Alexa mencium tangan anaknya itu berkali-kali.
Takut sekali mimpinya jadi kenyataannya, jadi dia sangat waspada dengan kondisi Alvian saat ini.
"Aku sudah memanggil dokter, jadi tunggu sebentar. Dokter akan segera memeriksa Vian,"ucap Xander.
"Vian, ada yang sakit? Katakan pada abang, apa kau merasa tidak nyaman?"
Alvian menunjuk ke arah dadanya, di merasa tidak nyaman dengan dadanya saat ini.
"Tidak apa-apa, itu pasti akan sembuh." Axian mengelus pelan dada adiknya itu.
Memang terasa sakit karena jahitannya masih basah, jadi Alvian mungkin merasakan nyeri saat ini.
Ingin rasanya memeluk Alvian, membuat dia tenang. Tapi itu tidak mungkin mereka lakukan karena melihat kondisi Alvian yang masih sakit seperti ini.
"Nggak apa-apa, Vian. Nanti sembuh kok, lukanya cuma nyeri aja. Setelah sembuh nanti Vian nggak akan ngerasa sakit lagi."Alvion mengusap pipi adiknya itu."Gua ngerasa ke siksa juga ngeliat elo nahan sakit gini, Vian. Tapi nggak apa-apa. Ini rasa sakit yang terakhir elo rasain karena elo akan sembuh. Dan jantung elo udah sehat."
Alvion berterima kasih sekali pada orang yang mendonorkan jantungnya pada Alvian. Sayang sekali karena tidak bisa melihat keluarganya untuk berterima kasih karena itu peraturannya.
"Sudah tidak apa-apa, dia sudah baik-baik saja. Akan diberikan obat agar tak merasakan rasa sakit."
"Terima kasih dokter, jika bisa obat yang bisa menahan rasa sakit yang lama, aku tidak tega melihat Vian yang seperti itu,"tukas Reon. Dia sedih sekali melihat adiknya yang tampak meringis saat ini.
"Tidak apa-apa, setidaknya ini rasa sakit Vian yang terakhir. Alvian akan sembuh, kita seharusnya dukung Vian dan hibur dia agar dia cepat sembuh,"Axian berucap, ia sudah senang melihat Alvian yang sudah kembali seperti semula.
Alvian hanya menatap mereka dakam diam saja. Sepertinya setelah dia pingsan tadi ada peristiwa besar yang terjadi. "Vian sudah buat mereka sedih seperti ini."
Merasa bersalah sekali karena dirinya lah yang menjadi alasan kesedihan mereka.
"Jangan menangis, tidak apa-apa. Vian pasti kuat." Alexa mengira jika Alvian menangis karena sakit pada dadanya.
Tapi bukan itu yang Alvian rasakan, dia hanya sedih melihat keluarganya sedih saat ini.
"Vion?"
Alvion menoleh, dia melihat Deon dan orang tuanya sudah datang.
"Vian udah sadar?"
"Iya, tapi jangan ganggu dulu, Deon. Vian lagi sakit, dia lagi nahan sakit di dadanya. Elo tahu sendiri kalo pasti lukanya masih belum sembuh total."
Deon mengangguk saja, dia tidak akan berani menganggu adiknya jika seperti itu."Semoga Bian cepat pulih dan nggak akan sakit lagi."
Alvion mengangguk, dia juga berharap seperti itu dan sudah pasti, karena Alvian sudah di operasi. Kali ini adalah operasi yang terakhir karena jantungnya benar-benar cocok.
Beroda saja semoga tidak ada hal yang lainnya terjadi pada Alvian yang manis.
"Tidur?"
Alexa mengangguk,"Tidak apa-apa, Vian butuh istirahat yang lebih agar dia cepat pulih. Kalian juga lanjutkan tidur, kalian juga lelah bukan." Alexa tahu jika anak-anaknya selama ini bukan hanya menjaga Alvian melainkan juga menjaga dirinya.
"Tidak apa-apa, mommy. Kau saja yang beristirahat, kami akan menjaga Vian. Kau baru tidur sebentar. Lanjutkan tidurmu." Xander mengusap tangan Alexa."Akhir-akhir ini mommy tidak tidur dengan benar karena mimpi yang dia alami, kasihan sekali dia. Tapi tidak apa-apa karena Alvian sudah sembuh saat ini, jadi dia tidak perlu khawatir berlebihan pada Vian."
Lihatlah badan Alexa bertambah kurus saja, dia pasti sangat frustasi memikirkan nasib Alvian.
Kadang tak tega tapi mommy'nya pun tak bisa di ajak bicara karena menghawatirkan Alvian.
"Tapi ..."
"Nanti jika Vian sudah bangun dari tidurnya kami akan membangunkanmu, istirahat saja sekarang. Jangan memikirkan apapun." Axian membawa mommy'nya untuk tidur di tempat tidur yang satunya.
Baiklah, karena mereka sudah berbicara seperti itu maka Alexa tidak dapat menolak, ia segera berbaring dan menutup mata.
Setidaknya keluh kesah dalam hatinya berkurang saat ini karena anaknya sudah sadar dan kondisinya sudah membaik.
"Kau juga tidur juga, Vion. Biarkan aku dan Axian saja yang berjaga."
Adiknya itu pun bertambah kurus karena memikirkan Alvian. Padahal Alvion sudah berisi dulunya, tapi karena dia khawatir dang adik pun tak mau makan dan tetap menunggu Alvian.
Tidur Alvion sakit karena kurang tidur berhari-hari.
Tak menolak, mata Alvion juga sudah memberat, dia benar-benar mengantuk."Gua sadar nanti elo udah harus senyum, Vian. Jangan sedih lagi, gua nggak suka."