59. Kenapa bisa...

2.1K 139 10
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.



Alvion terdiam saat ini karena melihat Alvian yang seperti tak mengenalnya. Bukan seperti lagi tapi memang tidak mengenalinya saat ini.
"Vian, kenapa elo ngomong gitu. Gua Vion. Abang elo. Kenapa elo nanya gua siapa?" Ia ingin memeluk adiknya itu tapi Alvian tampak ketakutan.

Dia memeluk Ellard,"Daddy orang jahat ..."

"Tenang baby, dia bukan orang jahat. Dia bukan seperti mereka. Dia baik, dia Alvion kembaranmu." Ellard mengusap pipi Alvian yang masih di penuhi luka yang belum mengering itu.

"Elo apain adik gua! Brengsek! Elo apain dia sampe dia lupa sama gua! Elo apain! Vian kenapa elo lupa sama gua! Vian elo nggak inget sama gua? Gua abang elo!"
Kenapa Alvian melupakannya saat ini.

Alvian memegang kepalanya, ia menatap Alvion dengan takut,"Jangan pukul ... jangan pukul Vian ... sakit ..."

"Vi-an, kenapa elo ngehindarin gua ..." Alvion ingin memeluk adiknya tapi Alvian malah ketakutan melihatnya saat ini.

"Daddy ... takut ..."

Ellard mengusap punggung anaknya itu, ia mendorong Alvion dan Deon untuk keluar dari kamar ini.

"Lepasin! Gua mau sama adik gua! Jangan sembunyiin Vian! Woy!"Alvion menendang-nendang pintu yang terkunci otomatis itu."Buka! Jawab Vian kenapa! Kenapa sama Vian bajingan!"

Kenapa Ellard menyembunyikan Alvian lagi.

"Vion, tenang. Percuma aja elo nendang-nendang pintu gitu, daddy elo nggak bakalan bukain," Deon menahan tangan sahabatnya itu lagi agar berhenti mengamuk.

"Deon, kenapa Vian lupa sama gua? Kenapa dia jadi takut gitu sama gua, kenapa sama Vian ..."

Deon juga tidak tahu, bahkan ia juga syok kenapa Alvian bisa berbicara seperti itu, bahkan hingga tak mengenali Alvion."Gua nggak tahu, Vion. Apa jangan-jangan ... apa jangan-jangan Vian hilang ingatan?"

"Maksudnya?"

Berbeda dengan Alvion dan Deon yang tengah kebingungan sekarang. Berbeda pula dengan Ellard yang tengah menenangkan Alvian saat ini.

"Tenang, baby. Jangan takut. Daddy di sini, jangan takut ya sayang,"Ellard menepuk pelan punggung anaknya itu."Sudah, tidak ada yang menyakitimu saat ini,"

Alvian mengangguk, ia sungguh takut karena mengigat ada bayangan-bayangan yang terus saja memukulinya.

"Anak baik, sekarang baby tidur sebentar. Daddy akan berbicara pada kembaranmu ..."

"Tapi daddy ..."

"Alvian, Alvian anak baik dan penurut bukan? Jadi menurutlah, jika tidak orang yang memukulimu akan datang kembali, mengerti?"

Alvian mengangguk cepat, ia kembali naik ke ranjang dan menutupi dirinya dengan selimut. Takut sekali orang yang memukulinya datang.

"Apa kepalamu sakit lagi?"

"I-ya ..."

Ellard mengusap kening itu dengan pelan,"Nanti daddy akan bawakan obat, sekarang tidurlah."

Alvian menutup matanya, kepalanya sungguh sakit dan berdenyut nyeri. Ia merasa tidak mengingat apapun sekarang. Hanya Ellard lah yang mengatakan jika dia adalah daddy'nya saat bangun.

Sekilas bayangan-bayangan gelap itu terus saja menghantuinya. Kepalanya akan bertambah sakit jika di paksakan untuk mengingat.

Kecupan didaratkan Ellard ke kening Alvian, ia membetulkan letak selinjt Alvian sebelum pergi keluar menemui Alvion.

Sudah ia duga Alvion akan menyerangnya setelah ia keluar seperti ini, lihat saja sekarang anaknya itu ingin memukulnya dengan vas bunga. Untung saja ia sigap dan menghindarinya. Vas bunga itu pecah mengenai pintu.

"Jawab kenapa Vian enggak kenapa sama gua! Dia hilang ingatan! Jawab kenapa elo diem aja! Jawab Ellard!"Alvion mencoba memukul dan menendang daddy'nya itu, tapi sebanyak apapun ia melakukan itu maka hanya sia-sia saja, kare Ellard selalu daja menangkap semua serangannya.

"Pukul saja terus, daddy akan mengatakan pada Vian jika kau adalah orang jahat, jadi dia tidak akan pernah ingin bertemu denganmu lagi,"

Alvion menghentikan pukulannya, ia menatap Ellard dengan tidak percaya."Kenapa elo lakuin ini! Balikin Vian ke semula! Balikin dia jadi Vian yang ingat gua lagi!"

Ellard tersenyum, ia ingin mengusap rambut anaknya itu tapi sang anak malah menepisnya."Daddy tidak melakukan apapun, Vion. Kau selalu saja menyalah'kan daddy. Daddy sedih jika kau terus saja memberontak seperti ini. Ingat apa yang aku katakan bukan? Jika kau bersikap baik maka aku akan mempertemukanmu dengan Vian, tapi jika sebaliknya jangan harap kau akan bertemu dengan adikmu lagi, mungkin bisa saja dia akan melupakanmu. Daddy akan membuatkan makanan untuk Vian, apa kau mau juga?"

Alvion kembali menepis tangan besar itu,"Elo jahat!"

Ellard bertambah tertawa mendengar itu,"Julukan yang bagus, daddy suka itu. Deon, jaga Vion sebentar. Aku juga akan membuatkanmu makanan. Kau mau apa?"

Deon tertegun, "A-pa aja om." Jawabnya takut-takut. Ellard sungguh menyeramkan saat ini.

"Bagus, aku juga tidak suka kau banyak memilih." Ellard bersenandung pelan dan pergi dari sana. Ia sesekali melihat kebelakang. Masih pada posisi yang sama, anaknya itu masih berusaha untuk membuka pintu.

Tentu saja tidak akan bisa, itu pintu khusus yang sudah ia buat, hanya dirinya saja yang bisa masuk dan keluar dengan mudahnya."Sudah aku katakan, kau dan Vian akan hidup bersamaku selamanya. Maaf Alexa. Sepertinya anak kita tidak akan mengingatmu lagi. Itu yang kau mau bukan? Mereka juga anakku. Aku berhak atas anakku."

Alexa tak bisa mengambil kembar dengan seenaknya.

"Ellard bajingan! Bajingan! Sialan! Vian ... kenapa elo lupa sama gua ... "
Alvion hanya bisa meluruh ke lantai, ia memegang pintu yang tertutup itu."Mommy ... tolongin kita ..."


Vote →Comment→ Follow

Alvion & AlvianCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang