Bagaimana jadinya jika seorang remaja laki-laki nakal dan tidak bisa di atur berpindah tubuh ke tubuh remaja yang polos penuh dengan penderitaan.
Bagaimana juga dengan sebaliknya, bagaimana jika seorang remaja polos berpindah tubuh ke remaja nakal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Vion, makan dulu. Kau tidak lapar? Vian dan yang lain sudah menunggu."
Tak ada jawaban dari dalam sana. Saat ini, Alvion seperti tak ingin bertemu siapa pun.
Bahkan dia juga mengacuhkan Alvian. Ini sungguh membuat mereka bingung.
Reon mendongak dan melihat ke arah mereka. Ia menggeleng pelan."Aku juga tak bisa membujuk, Vion. Sepertinya dia benar-benar terpukul karena kejadian itu."
Mereka juga menghela nafas, mulai dari Alexa, Xander dan Axian juga telah mencoba untuk berbicara pada Alvion. Tapi hasilnya tetap saja nihil.
Khawatir dengan keadaan sang empu saat ini yang hanya berdiam diri di kamar saja.
"Begini, saja. Aku akan mengambil kunci cadangan sebentar. Kalian makanlah dulu,"ucap Axian.
"Enggak mau abang, mau sama bang Vion." Alvian ingin menenangkan abangnya itu.
"Baiklah, akan ku buka. Vian bujuk Vion sebentar, jika tidak bisa lagi jangan di paksakan."
"Iya abang, Vian akan bujuk abang sampai abang nggak sedih lagi."
Axian tersenyum tipis, ia mengusap pipi Alvian yang bulat itu sebelum pergi mengambil kunci cadangan.
Tak lama, Axian kembali dengan cepat dan membuka kamar adiknya itu.
Segera Alvian juga masuk ke dalamnya.
"Kita tunggu di sini saja, Xander. Biarkan Vian mencoba membujuk Vion kembali." Alexa menghentikan Xander yang juga ingin masuk.
"Baiklah," rasanya khawatir sekali saat ini melihat adiknya bersedih seperti itu.
Di dalam sana, tampak Alvion yang berbaring dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Terdengar juga sedikit suara isak tangis dari sana.
"Abang,"Alvian juga masuk ke dalam selimut dan melihat abangnya itu." Abang jangan sedih gini, Vian juga sedih kalau abang sedih ..."
Alvion menoleh, ia mengusap air matanya dan membawa Alvian dalam pelukannya."Vian, Deon marah sama gua. Pasti dia kecewa banget sama gua karena udah buat adiknya nggak ada, gua udah buat adiknya ..."
"Enggak, abang tidak buat adik bang Deon nggak ada. Kata om Bagas ini karena takdir. Jadi bang Vion nggak salah. Bang Vion jangan sedih lagi. Vian akan bilang dan bujuk bang Deon supaya jangan marah sama abang lagi, abang tenang aja. Pasti bang Deon akan maafkan abang!"
"Nggak Vian. Nggak mungkin Deon akan maafin gua, elo nggak liat dia marah banget sama gua kayak gitu? Dia pasti benci banget sama gua sekarang."
Lihat saja tatapan Deon waktu itu, sudah mewakili betapa marahnya dia padanya. Alvion tahu, kali ini pasti Deon tak akan pernah memaafkannya dan pertemanan mereka akan berakhir begitu saja. Bahkan dia juga marah pada Alvian karena membela dirinya.
Alvion menjadi merasa bersalah juga pada Bagas dan Dwi. Mereka pasti juga mengiginkan anak itu, tapi karena dirinya bayi itu jadi pergi. Ia kembali membenamkan wajahnya ke bantal.
Melihat itu, Alvian juga bersedih dan ikut menangis melihat abangnya bersedih."Vian harus bantu bang Vion! Pokoknya bang Vion dan bang Deon nggak boleh musuhan lagi ..."
Setelah mereka sama-sama menangis, mereka berdua tidur begitu saja, mungkin karena kelelahan.
Alexa menyelimuti sang anak dengan benar, ia mengecup kedua kening putranya itu."Bagaimana kabar dari Bagas? Apakah sudah ada perubahan dari Deon?"
"Belum, dia juga mengatakan jika Deon terus saja menyalah'kan Vion saat ini, tapi kabar baiknya, ibunya sudah sadar sekarang." Xander berucap. Mereka terus saja berbagi kabar.
"Kita tunggu saja kabar dari mereka, setelah semua membaik, baru kita ke sana."Reon juga tidak ingin pertengkaran mereka bertambah karena situasi belum tenang sekarang.
"Baiklah, kalian juga istirahatlah. Hari ini sungguh hari yang panjang." Saran Alexa. Pening rasanya jika harus mengatasi masalah ini.
Tak ada yang menolak, mereka tidur di kamar ini saja. Rasanya malas untuk kembali ke kamar masing-masing.
Lama tertidur, salah satu dari mereka terbangun karena bermimpi buruk.
Alvian lah yang terbangun di tengah malam, ia mengusap dadanya yang sesak."Vian mimpi bang Vion luka karena sedih udah ngehalangin adik baru."
Jelas sekali dalam mimpi itu Alvion terluka parah. Alvian melihat sekelilingnya. Ternyata semua orang tengah tertidur.
Ia perlahan bangkit dari tempat tidur dan memakai sendalnya. Berjalan mengendap-endap hingga keluar dan menutup pintu dengan rapat."Pokoknya Vian harus bantu bang Vion. Kalau lama nanti mereka akan musuhan terus!"
Ia melihat sekeliling, tak melihat bodyguard-bodyguard yang berjaga. Ia memutuskan untuk melewati pintu samping yang langsung menuju ke arah taman. Biasanya tak ada bodyguard yang berjaga di bagian belakang mansion karena mereka akan berjaga di dalam dan depan saja.
Melihat pintu tak terkunci, Alvian berlari sekencang mungkin menjauh dari mansion itu.
Satu tujuannya saat ini, rumah sakit tempat Deon dan keluarganya berada. Alvian hapal dimana tempat itu, tapi ini terlalu sepi. Ia sedikit takut.
"Jangan takut, ini demi abang!"
Mungkin cuaca juga sedang buruk saat ini, jadi angin dan awan yang tertutup membuat jalanan semakin gelap.
Mungkin hari ini bukan juga keberuntungan Alvian, tiba-tiba saja hujan turun dengan deras. Ia segera berteduh di bawah pohon."Di-ngin ..."
Seperti terkena air es, itulah yang di rasakan oleh Alvian saat ini."Ru-mah sakit jauh la-gi ... Vian ha-rus ke-sana. Terus bu-juk bang Deon."
Ia tak boleh berhenti di sini saja, Alvian kembali menerobos hujan. Wajahnya sakit karena hujan mengenai wajahnya itu, bahkan penglihatannya kurang saat ini karena hujan yang lebat.
Tapi tak apa, selama ia bisa kerumah sakit dan membuat Deon tak marah lagi, Alvian akan melakukannya, ini demi Albion agar tak kembali sedih.