Bagaimana jadinya jika seorang remaja laki-laki nakal dan tidak bisa di atur berpindah tubuh ke tubuh remaja yang polos penuh dengan penderitaan.
Bagaimana juga dengan sebaliknya, bagaimana jika seorang remaja polos berpindah tubuh ke remaja nakal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Reon hanya bisa terdiam saat ini. Ia benar-benar tidak menyangka jika Alvian dan Alvion bisa datang ke sini. Ia melihat Alexa dan kedua orang yang berada di pintu itu dengan pandangan tak percaya."Kenapa kau ..."
"Apa bang?"Alvion menatap Reon dengan kecewa."Abang pasti marah sama mommy kan? Abang tahu, abang egois! Abang egois!"ia tak bisa menahan tangisnya."Kenapa abang lakuin ini ke kita? Kenapa abang nggak jujur, kenapa abang bohong, abang tahu, setiap malam kita selalu aja berharap kalo abang itu bisa balik lagi sama kita, biar kita bisa sama-sama seperti dulu, tapi kenyataannya ... kenyataannya abang malah di sini aja dan seolah nggak tahu apa-apa! Abang udah janji sama kita akan balik, kenapa abang bohong? Abang nggak sayang sama kita!"
Reon menutup matanya, air matanya mengalir, ia tak bisa berkata-kata.
"Abang tahu! Kita nggak pernah anggap abang udah nggak ada, bahkan Vian setiap hari kirim pesan ke nomor abang, berharap abang balas pesan kita, gua udah bilang sama dia itu nggak akan mungkin, karena bang Reon udah nggak ada, nggak mungkin dia bisa balas. Tapi Vian ngotot! Dia tetep aja kirim pesan ke abang ..."
Alvian mengangguk, ia memeluk Reon."Vian sayang sama abang, ke apa abang bohong sama kita ..."
Reon tertegun mendengar itu, apakah itu benar. Ia benar-benar tak tahu mengenai itu."Maaf ... aku bukan lagi abang kalian ..."
"Kenapa!" Bentak Alvion."Kenapa abang bukan lagi abang kita? Apa karena kaki abang yang udah nggak ada! Iya kan! Abang nutupin semua ini karena kaki abang yang udah di amputasi kan!"
Alvion dan Alvian tak percaya pada Reon. Kenapa Reon berpikir jika mereka akan malu mempunyai sauda yang sudah tak lagi sempurna. Mereka tak mungkin melakukan itu.
"Abang tetap abang kita, kita tidak akan malu punya abang seperti bang Reon, bang Reon baik ... bang Reon jangan pikir seperti itu," Alvian bahkan tak bisa berpikir sejauh itu."Kita tetap sayang sama abang ..."
Sempurna? Apa itu menjamin sebuah hubungan? Mungkin sebagian orang iya, tapi tidak dengan mereka. Tak ada kata sempurna dalam kamus mereka.
Semua manusia sama, apalagi yang terjadi pada Reon bukanlah karena di sengaja, dia melakukan itu demi menyelamatkan mereka dari Ellard.
Kecewa, sangat kecewa. Alvion dan Alvian sangat kecewa pada Reon. Mereka bukan lah orang jahat, bahkan jika pun Reon kehilangan hak yang berharga di tubuhnya mereka juga tetap akan menerima Reon.
Karena Reon bukanlah orang lain, melainkan abang mereka juga.
"Kami sayang abang, kami tetap akan ada di samping abang dan bantuin abang, terima kasih abang udah hidup lagi, abang Reon orang baik,"
Reon semakin terisak mendengar itu dari bibir Alvian. Ia memeluk kedua bocah kembar itu dengan rindu.
Kenapa mereka begitu baik? Bahkan setelah apa yang ia lakukan selama ini, tak ada tatapan benci yang terpancar dari mata mereka sekarang."Maafkan aku ..."
Ini, apakah tindakan yang ia lakukan selama ini benar-benar menyiksa kembar, sepertinya iya, lihatlah mereka begitu kurus seperti ini.
"Kita nggak akan maafin abang kalo abang masih di sini, kita akan maafin abang kalo abang mau ikut tinggal sama kita,"Alvion merasa sesak di dadanya."Makasih Tuhan, bang Reon masih hidup. Gua nggak bisa buat Vian jadi dulu lagi, tapi keknya sekarang kita akan jadi kagak dulu lagi,"
Lihatlah binaran di mata Alvian, dia begitu bahagia melihat Reon sekarang.
Alvian juga senang, tapi ia tak bisa menahan rasa sedihnya melihat kaki Reon. Ia memeluk Reon lagi."Abang yang kuat ya, masih ada kita, nggak apa-apa kalo daddy nggak sayang sama abang, kita sayang kok."
Sendiri itu berat, tak ada teman, tak ada keluarga yang mendukung, itu benar-benar berat. Alvian sudah pernah merasakan itu. Jadi jangan sampai penderitaan dirinya dialami juga oleh orang lain.
Xander, Alexa dan Axian hanya bisa melihat itu dari kejauhan. Tak mau menganggu ketiga orang yang saling rindu itu.
"Kau hebat, mommy." Axian terkekeh pelan."Kau adalah wanita kuat," Kejadian ini, kembar, dan Reon. Dan semua masalah yang Alexa hadapi itu di luar nalar, tapi Alexa bisa melaluinya dengan sendirian."Kau bahkan menerima dia,"
Alexa mengusap air matanya."Reon tak bersalah, Axian. Tak ada seorangpun yang meminta lahir di dunia ini, begitu juga dengan Reon. Dia hanya menginginkan kebahagiaan yang tak pernah ia dapatkan. Semua orang melakukan hal yang bisa mereka lakukan agar tujuan mereka tercapai, begitu juga dengan Reon. Dia hanya menginginkan sebuah pengakuan dari orang tuanya yang masih tersisa."
Mereka mengangguk, benar. Apa yang dikatakan oleh Alexa adalah benar.
Reon juga manusia, dia punya hati. Dan dia juga punya keinginan.
Senyum terbit di bibir mereka, Alvian dan Alvian benar-benar kembar yang baik. Mereka bahkan tak lagi membahas apa yang terjadi pada Reon. Dan mereka juga tidak peduli dengan kondisi Reon yang sekarang.
"Karena kami sayang abang ... abang udah jadi keluarga kita, abang nggak boleh ngerasa sendiri lagi, ada kita, kami keluarga abang ..."