Bagaimana jadinya jika seorang remaja laki-laki nakal dan tidak bisa di atur berpindah tubuh ke tubuh remaja yang polos penuh dengan penderitaan.
Bagaimana juga dengan sebaliknya, bagaimana jika seorang remaja polos berpindah tubuh ke remaja nakal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Xander dan Alexa yang baru saja tiba di bawah terkejut mendengar suara teriakan.
Mereka seketika tertegun melihat dua orang yang terjatuh di pedang yang tajam dan berjejer rapi itu.
Itu Reon dan dan Ellard!
"Re-on?" Alexa menatap tak percaya pada apa yang ia lihat.
Tubuh keduanya tertusuk oleh pedang.
Mata Ellard tampak melebar dengan pedang yang menembus leher. Seluruh badannya tertancap oleh benda tajam itu. Bahkan ia seperti sebuah potongan daging yang sengaja di tusukkan sekarang.
Bukan Ellard yang mereka peduli, tapi Reon!
"Reon! Reon kau masih hidup! Reon!" Alexa menepuk-nepuk pipi Reon. Ia masih bisa merasakan nafas Reon.
Ada tiga pedang yang menembus perut Reon dengan posisi tubuhnya yang terlungkup. Ada satu pedang lagi yang menebus paha kirinya.
Reon tak menjawab. Bisa mereka lihat jika nafas Reon sudah mulai habis.
Xander yang tercengang segera tersadar kembali. "Mom, bagaimana bisa ada dokter di sini, kita ..."
"Aku tidak peduli! Cepat tolong Reon!" Tak mungkin mereka mengangkat Reon sekarang. Jika ada saraf yang terputus nantinya bagaimana. Ini bahaya. Biarkan dokter yang menangani ini.
"Reon bertahan, jangan mati ..." Alexa terisak. Reon tak boleh tiada. Reon telah menyelamatkan nyawa mereka dari Ellard. Jika dia tak melakukan ini pasti Ellard akan mengejar mereka.
"Tapi kau juga terluka ..."
"Cepat Xander! Kau mau kita mati di sini!"
Xander berdecak, ia dengan segera berlari sekencang mungkin menuju dimana tempat helikopter berada. Ia harus membawa dokter untuk mengobati Alexa dan menolong Reon.
Jika tidak cepat maka bisa di tebak apa yang akan terjadi.
"Reon, bertahan ... jangan pergi dulu, kau bilang kau menginginkan kasih sayang bukan, aku akan menganggapmu sebagai anak. Jadilah anakku. Tapi bertahan. Jangan menyerah mengerti!"
Alexa tak berani lagi menyentuh Reon, ia takut jika ia menyentuhnya akan terjadi pada tubuh Reon.
"Ellard! Lihat! Lihat apa yang kau lakukan! Keegoisanmu membuat kita menjadi seperti ini!" Alexa tak tahu lagi harus melakukan apa, "Tuhan ... jangan ambil nyawa Reon dulu, biarkan dia bahagia bersama kami ..."
* * *
Di rumah sakit, saat ini Axian tengah menjaga Alvian yang sudah menjalani sejumlah pemeriksaan.
Ayahnya itu benar-benar bajingan. Ternyata reaksi Alvian yang ketakutan dan melupakan mereka bukan murni kehilangan ingatan melainkan karena obat yang diberikan oleh Ellard.
Obat itu membuat sebagian ingatan Alvian menurun hingga ia tak ingat lagi siapa dirinya.
Kemungkinan besar, Ellard melakukan ini untuk memanipulasi Alvian agar membenci mereka dan malah mendukungnya sendiri.
"Bajingan kau Ellard! Matilah kau keparat! Kenapa kau melakukan ini pada Alvian!"
Alvion juga sedari tadi hanya bisa terdiam dengan menunduk lesu, pantas saja Alvian tak ingat padanya. Ternyata benar dugaannya. Ellard memanipulasi adiknya itu agar melupakan mereka."Vian cepet sadar, maafin gua. Maafin gua nggak bisa nolong elo. Pasti elo kesakitan kan?"
Kasihan sekali Alvian, dulu dia sudah menderita dan sekarang ia bertambah menderita karena ulah dari ayah mereka sendiri.
Tak bisa di bayangkan betapa sakitnya Alvian saat dia mencoba mengingat tentang apa yang ia alami.
Axian memeluk adiknya itu,"Tidak apa-apa, pasti ingatan Vian akan kembali. Dia akan kembali seperti dulu lagi."
Yakin betul Alvian akan seperti dulu, Axian sudah menyuruh dokter agar mereka memberikan hal yang terbaik untuk Alvian.
"Bang, gimana sama mommy dan yang lain? Kok perasaan aku nggak enak ya bang, aku takut mereka kenapa-kenapa ..." Alvion sungguh tak tenang sedari tadi. Belum juga ada kabar dari Alexa dan yang lain.
Apakah mereka dalam keadaan yang buruk hingga tak sempat untuk memberi kabar atau bisa saja mereka terluka parah.
"Mereka pasti baik-baik saja, Vion." Axian juga panik. Tapi ia tak boleh menunjukkan kepanikannya ini pada adiknya.
Nanti Alvion akan memikirkan hal yang aneh-aneh.
Tapi benar juga, kenapa sampai saat ini belum ada kabar dari mereka.
Alvion mengecup tangan adiknya itu lagi."Vian, bang Reon bilang dia janji akan balik lagi, tapi gua nggak tahu. Gua harus dia nggak ingkarin janjinya. Gua bener-bener mau minta maaf sama dia. Dan elo pasti syaang juga kan sama bang Reon. Tapi nggak tahu kenapa perasaan gua nggak tenang dari tadi, Vian. Semoga aja nggak terjadi apapun sama mereka. Elo juga harus cepet sadar ya, Vian. Dan setelah sadar nanti semoga aja elo bakal ingat lagi sama kita. Gua sedih kalo elo lupain kita terus ..."
Semoga saja, Alvion akan berdoa terus agar mereka bisa selamat.
Alvion juga bisa melihat Deon yang tertidur karena pengaruh obat. Kaki Deon sudah di obati. Tadi ia juga sudah memberitahu orang tua Deon agar menyusul ke sini. Pasti mereka juga khawatir sekarang. "Makasih, Deon. Kalo elo nggak ngehubungin mereka pasti sekarang gua kasih sama orang jahat itu,"
Walaupun temannya itu agak ajaib, tapi Deon telah menolongnya. Memang kadang-kadang Deon membuatnya kesal, tapi hanya Deon yang sampai saat ini mendukungnya.
"Apa liat-liat? Sedih ya gua luka gini? Sama-sama Vion. Nggak usah berterima kasih juga,"
Alvion memutar matanya malas, ia pikir Deon tidur. Ini lah yang membuat ia malas. Deon Selalu saja tidak bisa serius.
"Lah, kagak bilang terima kasih ini?"
Alvion hanya acuh, ia kembali memeluk Axian. Tak bersemangat rasanya saat ini.
Deon hanya mengerucutkan bibirnya."Tenang, Deon. Nanti kalo marah gantengnya hilang."