Bagaimana jadinya jika seorang remaja laki-laki nakal dan tidak bisa di atur berpindah tubuh ke tubuh remaja yang polos penuh dengan penderitaan.
Bagaimana juga dengan sebaliknya, bagaimana jika seorang remaja polos berpindah tubuh ke remaja nakal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alvian bangun saat merasa sesak di dadanya. Ia ingin bergerak tapi tidak bisa, setelah membuka matanya, ia bisa melihat ada dua orang yang memeluk di kedua sisinya sekarang."Bang Vion sama bang Deon? Mereka kok bisa peluk Vian di sini ... apa mereka udah baikan ya?" Ia mencoba untuk melepaskan pelukan dari kedua orang itu.
Merasa tak nyaman karena orang yang berada di sampingnya bergerak, Albion yang tertidur pun ikut terbangun karena hal itu."Vian? Vian! Vian udah sehat?" Ia langsung duduk dan memeriksa kening adiknya itu."Akhirnya nggak panas lagi ..."
"Ada apa?"
"Apa yang terjadi?"
Reon, Alexa, Xander dan Axian yang tertidur karena berjaga semalaman terkejut saat mendengar suara itu.
"Ada apa, Vion? Apa Vian baik-baik saja?"tanya Reon dengan paniknya.
"Iya bang, aku udah pegang kening Vian, tapi udah nggak panas lagi!"
Mereka semua menghela nafas mendengar itu, mereka kira ada apa.
"Biar mommy periksa," Alexa mengusap kening anaknya itu."Syukurlah, Axian beritahu dokter jika demam Vian sudah turun."
"Iya, mom. Tunggu sebentar." Axian pergi begitu cepatnya.
"Mommy liat ..." Alvian berusaha melepaskan pelukan Deon karena dirinya sesak saat ini, tapi sang empu malah bertambah erat memeluknya, bahkan tak bangun sedikitpun.
"Ni anak tidur kayak kebo! Deon jauh-jauh dari adik gua, nggak liat Vian sesak gini!" Alvion menepuk tangan milik Deon itu, tapi tetap saja Deon tidak berkutik."Ni anak minta di tabok!" Ia segera mendaratkan tangannya ke pipi Deon.
"Aduh! Sakitnya! Apa sih lo! Nganggu orang tidur aja, kenapa elu ada di kamar gua sih, tumben banget sih!"
"Awas Deon, elo buat Vian sesak gitu. Lepasin, ini bukan rumah elo, ini rumah sakit!"
"Astaga, maaf Vian nggak sengaja!"Deon melepaskan pelukannya."Gua lupa kalo ada di rumah sakit, gimana sama Vian duah sembuh kan?" Ia menangkup wajah Alvian.
"I-ya abang, tapi masih pusing ..."
Syukurlah, setidaknya walaupun masih pusing, Alvian sudah bisa di ajak bicara sekarang, tidak seperti kemarin malam. Dia tidak bisa membuka matanya.
"Nggak apa-apa, Vian. Nanti kalo udah minum obat pasti sakitnya hilang." Alvion mencium kening adiknya itu.
Alvian mengangguk saja, ia melihat Deon dan abangnya itu secara bersamaan."Abang udah maafin bang Vion? Bang Vion nggak salah, dia ..."
Deon mengusap pelan pipi Alvian sebelum menyela ucapan bocah itu."Udah nggak perlu bahas itu lagi, ini bukan salah Vion juga kok. Gua juga egois. Jadi kita udah baikan sekarang. Iya kan, Vion?"
"Bener, jadi jangan mikirin itu lagi." Alvion menarik nafas."Tapi nggak gitu juga Vian, kenapa elo kabur dari rumah, kalo elo di culik atau kenapa-napa di jalan gimana? Kenapa nggak ngomong sama yang lain kalo mau nyamperin Deon! Liat kan jadi demam gini, untung aja demamnya udah turun!" omelnya.
"Maaf abang, Vian cuma mau bikin abang sama bang Deon baikan lagi, Vian sedih liat abang berantem sama bang Deon ..." Alvian menunduk saat ini.
Alvion hanya menghela nafas, jika sudah seperti ini kau di apakan lagi, ia pun tidak tega mengomeli adiknya itu." Tapi makasih jugaudah berkorban buat gua, lain kali jangan lakuin itu lagi ya, janji?"
"Janji!" Alvian menautkan jari kelingkingnya pada jari abangnya itu."Akhirnya bang Vion dan bang Deon udah nggak marahan lagi!" Ia senang melihat kedua abangnya itu tidak saling bermusuhan seperti ini.
Mereka membiarkan dokter memeriksa Alvian saat ini.
"Kondisinya sudah baik,"
Barulah saat itu mereka bisa lega karena Alvian baik-baik saja. Mungkin hanya minum obat sekali lagi Alvian bisa pulih sepenuhnya.
"Ingat Vian, jangan lakukan itu lagi. Kau membuat kami khawatir. Ini bukan masalah tentang perkelahian Alvion dan Deon juga, apapun itu jangan memutuskannya sendiri mengerti." Xander mengusap pelan pipi adiknya itu. Tahu betul adiknya polos jadi takut terjadi hal yang seperti ini lagi nantinya.
"Siap bos!"
Alvion berdehem, " Mulai sekarang elo bisa anggap adik gua asik elo juga kok. Vian juga boleh manggil elo abang. Gua nggak akan marah lagi,"ucapnya pada Deon.
"Yang bener! Gitu dong, kan gua jadi seneng. Tapi walaupun elo nggak ngomong gitu gua udah lama kok anggap Vian jadi adik gua, iya kan Vian?"
"Iya abang!" Alvian bertambah senang saat Alvion tak mempermasalahkannya lagi tentang dirinya yang memanggil Deon dengan sebutan abang itu.
"Ulu ulu ulu! Lucunya, sini cium!" Deon ingin mengecup pipi Alvian tapi bibirnya di tahan oleh Alvion.
"Jangan sembarangan, gua emang ngasih Vian manggil elo abang dan elo anggap adik gua asik elo juga, rapi nggak boleh cium juga!" Larangnya.
"Lah kenapa gitu! Nggak adil dong kalo kayak gitu!"
"Ya nggak boleh lah! Boleh sih tapi sehari sekali aja, jangan terus-terusan!" Alvion mengusap pipi adiknya itu.
"Bahkan gua belum nyium ya Vion, kenapa di lap segala!" Deon mengerutu. Sekali? Boleh saja tapi tidak seperti itu juga, liahlah perlakuan Alvion itu."Kek kuman aja gua!"
"Ya makanya itu, bagus kalo belum nyium. Peraturannya berlaku besok. Sekarang Vian lagi demam, jadi dia pasti sensitif. Jangan di pegang banyak orang." Alvion mencium pipi adiknya itu berkali-kali.
"Elo kok boleh!" Deon tidak terima, "Kan Vian lagi demam!"
"Ya kalau gua boleh lah! Iya kan dek?"Alvion memeluk adiknya itu dengan gemas.
Vote →Comment→ Follow
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.