92.Seharusnya

1K 68 11
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.












Alexa membenarkan perban yang berada di tangan Reon, ia mengusap pelan tangan itu, menatap Reon dengan senyuman sendu."Haruskah aku memohon padamu untuk tidak melakukan hal yang gila seperti ini, Reon? Kau adalah anakku sekarang. Tidak perduli kah kau pada kami yang menyayangimu?"

"Sssst ..." Reon sedikit meringis saat Alexa menyentuh lebih kuat lukanya.

"Hanya seperti ini saja kau merasa sakit, apalagi jika kau benar-benar memotong tanganmu."

Reon bisa melihat jika Alexa menangis sekarang."Maafkan aku ..."

"Untuk apa? Kau punya salah? Untuk apa kau minta maaf, ini sudah berapa kali Reon? Bahkan sangking banyaknya aku tidak bisa menghitungnya. Kau melakukan ini berkali-kali." Alexa mengusap air matanya yang mengalir."Aku merasa seperti gagal menjadi seorang ibu bagimu. Ku pikir apa yang aku lakukan padamu bisa membuatmu nyaman, tapi ternyata tidak sama sekali. Kau ingin meninggalkan kami setelah kami lengah."

Gelengan pelan reaksi Reon saat Alexa berkata seperti itu."Kau bukan seperti itu, kau ibu yang hebat. Aku saja yang bajingan, aku sangat kekanak-kanakan karena melakukan hal seperti ini, aku berpikir, aku sangat menyusahkan kalian."

"Lagi?"Alexa menatap Reon dengan sendu."Berapa lama kau akan mengatakan itu, Reon? Kau tidak pernah menyusahkan kami karena kau keluarga kami, berhenti untuk mengatakan hal yang tidak berguna itu. Setidaknya pikirkan Vion dan Vian. Mereka tidak bisa melihat kau pergi begitu saja. Tidak ingat jika Vion dan Vian menangis saat tahu jika kau sudah tiada. Tolong Reon, jika tidak memikirkan kami maka pikirkanlah Vion dan Vian. Mereka benar-benar tulus menyayangimu."

Reon menyeka air matanya."Ku rasa aku benar-benar sudah gila, kenapa denganku ini, kenapa aku melakukan ini ... benar, aku sangat bodoh!"

Mendengar pintu yang sepertinya di buka, Alexa segera menyeka air matanya saat ini. Ia tidak ingin Alvion  dan Alvian melihatnya sedih seperti ini.

Benar saja, kembar yang masuk saat ini, tadinya Alvion ingin menenangkan adiknya yang takut saat melihat darah Reon yang terus saja mengalir di tangan abangnya itu.

Bagaimanapun, Alvian tidak sering melihat luka-luka seperti ini. Jadi dia agak takut, berbeda dengan Alvion dan yang lain.

Alexa tak lagi menganggu, ia memutuskan memberi waktu pada kembar untuk bersama Reon saat ini.

Di luar juga ada Xander dan Axian yang menunggu. Mereka harap, Alvion dan Alvian bisa membuat pikiran Reon terbuka.

Entah apa yang merasuki pikiran Reon sampai dia ingin melakukan hal seperti itu.

Baiklah, mereka tahu mungkin Reon tidak menerima jari dirinya sendiri yang sudah berbeda. Tapi setidaknya mereka selalu berada di sisinya tanpa pernah meninggalkan laki-laki itu.

Seharusnya perhatian dan apa yang mereka lakukan untuknya adalah bukti jika mereka benar-benar menyayangi bukan? Tapi kenapa Reon mengatakan jika dia sangat menyusahkan mereka.

Mereka berani bersumpah, apapun yang di lakukan untuk Reon itu murni karena mereka menyayangi Reon, tanpa rasa kasihan dan tanpa rasa terpaksa.

Murni karena sudah menganggap Reon adalah saudara kandung mereka sendiri.

Seharusnya Xander dan Axian iri dengan perhatian yang diberikan oleh adik kembar mereka.

Jika di ingatkan, perhatian Alvian dan Alvion lebih sering diberikan pada Reon. Bukan pada mereka. Tapi kenapa Reon sepertinya tidak memperhatikan itu.

Tapi mereka bisa apa, karena mereka sudah menganggap Reon adalah adik mereka juga makanya tak lagi memikirkan hal kecil itu.

"Abang ..."Alvian memeluk pelan Reon saat ini, satu tangannya tengah di infus, jadi ia takut jika tubuhnya terkena infus Reon itu."Abang ... jangan bunuh bunuh lagi, jangan tinggalin kita, kita tidak mau abang pergi."

Reon hanya diam, berusaha sekuat tenaga menahan air matanya agar tak jatuh kembali.

"Abang tahu, sedari kita tahu abang udah nggak seperti dulu lagi, kita udah nerima abang. Bahkan kita siap buat bantu apa aja agar abang nggak mikirin hal yang enggak-enggak." Alvion menyeka hidungya berair."Abang tega ninggalin kita? Mana abang Reon yang dulu, kata abang, abang akan jagain kita. Akan selalu ada buat kita. Tapi kenapa abang pengen ingkar janji lagi?"

"Abang mungkin tidak bisa jaga kita, tapi kita bisa jaga abang." Alvian berucap.

Mungkin fisik Reon tak lagi sempurna seperti dulu, tapi satu hal yang pasti. Mereka akan saling menjaga satu sama lain.

Tak dapat lagi menahan air matanya, Reon menangis dengan kerasnya. Ia memeluk kedua adiknya itu dengan terisak.

Sungguh ia sangat merasa bersalah karena telah melakukan hal yang gila ini."Kenapa aku begitu egois? Dulu aku ingin merasa kasih sayang keluarga, aku tidak mendapatkannya dari dia, tapi sekarang aku sudah mendapatkan dari adik-adikku dan yang lain. Apa yang kau pikirkan, Reon! Kau hampir saja membuat Vion dan Vian kembali sedih seperti dulu. Maafkan aku ..."

Benar juga, apa salahnya jika dia tidak memiliki tubuh yang sempurna lagi, tapi setidaknya dia ada keluarga yang selalu saja berada di sisinya. Apalagi ada dua adiknya yang imut di sisinya ini.

"Maafkan aku ..."

"Kita nggak akan maafin abang, abang jahat! Abang mau ninggalin kita, kita benci sama abang ..."

"Iya kita benci ..."

Reon tersenyum, ia tahu jika kedua adiknya ini marah padanya sekarang. Mereka memang marah tapi di satu sisi mereka juga memeluk dirinya saat ini, bukankah itu artinya mereka hanya berucap saja."Tidak apa-apa, benci saja ..."

Alvion dan Alvian tambah memeluk erat Reon.

"Janji jangan bunuh bunuh lagi."

"Janji jangan bunuh diri lagi."

Alvion dan Alvian menunjukkan jari kelingking mereka.

"Kita nggak akan marah sama abang lagi kalo abang bener-bener janji nggak akan lakuin itu lagi,"ucap Alvion sambil menyeka air matanya.

Reon mengangguk, ia menautkan kedua kelingkingnya pada Alvion dan Alvian."Aku berjanji, aku tidak akan melakukan itu lagi. Aku berjanji pada kalian, maafkan aku ... maafkan aku ..."ia benar-benar merasa bersalah saat ini karena kedua adiknya kembali bersedih karena apa yang ia lakukan.

Benar kata Alexa, jika tidak memikirkan dirinya seharusnya dia memikirkan Alvion dan Alvian. Memikirkan mereka yang tulus ada bersamanya, menerima dirinya apa adanya. Seharusnya ia bersyukur karena memiliki keluarga seperti ini bukan?


Vote →Comment Follow

Vote →Comment Follow

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alvion & AlvianCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang