104. Salah kita.

1.1K 56 2
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.




Melihat Alvian yang tertidur dengan begitu lelapnya membuat Alvion merasa lebih lega karena adiknya itu bisa kembali tenang dan tak menangis lagi.

Bodoh? Ya, Alvion pernah mengatakan itu pada Alvian. Tapi dia tak bermaksud mengatakan adiknya itu bodoh, Alvian itu hanya terlalu polos.

Adiknya tidak mungkin bodoh, adiknya sangat pintar dan bahkan lebih jenius dari pada dirinya.

Tapi kenapa Alvian berucap jika dia bodoh tadi? Rasanya tak bisa di terima oleh telinga mendengar perkataan Alvian yang begitu menyakitkan hati.

"Maafin, gua. Vian adik yang paling pinter, bukan bodoh."

Mungkin hanya sebuah ucapan, tapi bagi orang polos seperti Alvian, dia akan menyimpan ucapan itu di dalam kepalanya.

"Gua janji nggak akan nyebut Vian bodoh lagi."

Bukan hanya menderita secara fisik, Alvian juga menderita secara mental. Mentalnya berkali-kali di hancurkan sejak dia kecil, bahkan setelah besar Alvion masih tak menyadari satu hal.

Alvian itu berbeda dari yang lain, dia sangat berbeda, dia sakit dari lahir, cara berpikirnya seperti anak kecil dan beda dari dirinya.

Seharusnya mereka sama-sama menjaga Alvian agar tak memikirkan perkataan yang sudah mereka lontarkan pada anak itu.

"Ternyata gua yang bodoh di sini, Vian. Bukan elo, gua belom juga bisa tahu tentang jati diri elo. Padahal kita udah sama-sama lama banget."

Sakit sekali, benar-benar sakit. Hatinya sangat sakit saat mendengar keluhan adiknya saat mengucapkan kata bodoh itu.

"Vion tidak salah." Axian membawa adiknya itu dalam dekapannya."Kita yang tak pernah mengenal Vian."

Seharusnya mereka tahu bukan, Alvian itu polos dan dia tidak bisa berpikir seperti mereka. Merahasiakan rasa sakitnya, melakukan apapun agar membantu mereka dan dia tidak memikirkan dirinya sendiri. Alvian itu beda dari pada yang lain.

"Kita yang salah, tidak pernah tahu tentang Alvian."

Mereka hanya memikirkan bagaimana Alvian bisa hidup lebih baik, tapi belum mengerti sikap Alvian lebih dalam. Adiknya itu berbeda dari orang biasa.

Mungkin saja selama ini Alvian juga merasakan iri karena dia tidak seperti Alvion. Tapi dia tidak bisa mengungkapkan rasa irinya itu pada semua orang.

Tak apa, ini sudah terjadi. Dan mereka akan belajar kembali cara memahami Alvian.

Mereka akan menjamin jika Alvian tidak akan mengucapkan kata bodoh lagi seperti yang sudah dia ucapkan sebelumnya.

"Jangan sedih gini dong, jadi ikutan sedih kan. Gua juga akan belajar supaya nggak ngeluarin kata-kata yang bikin Alvian bingung." Deon tahu artinya sekarang jangan berbicara hal yang tidak-tidak pada Alvian.

Bukan takut Alvian tahu tentang yang mereka bicarakan tapi takut adiknya itu kepikiran karena tidak mengerti sedikitpun apa yang mereka ucapkan. Dan menganggap dirinya sendiri bodoh.

Benar, Alvian itu polos dan tidak bodoh, mereka saja yang bodoh karena tak mengerti jalan pikiran Alvian. Seharusnya mereka sudah memahami apa karakter Alvian.

"Sudah, jangan membahasnya lagi. Mulai sekarang, baik itu Alvion dan yang lain, jika ada sesuatu yang kalian inginkan maka katakan dan jangan berbicara hal yang tidak di mengerti oleh Alvian." Alexa tak mau lagi membahas masalah ini.

Biarlah berlalu dan mereka harus mencoba memulainya sekarang.

"Baiklah, kami berjanji tidak akan merahasiakan apapun, dan tidak akan mengatakan hal-hal yang sulit di mengerti oleh Alvian."Xander berucap.

Tak mau lagi jika Alvian nanti berpikir jika dia bodoh dan tidak mengerti apa yang mereka ucapkan dan jika mereka memiliki sesuatu apa yang mereka alami mereka bisa mengatakannya, dengan begitu Alvian akan meniru apa yang mereka lakukan.

Ini sama saja memberikan contoh yang baik pada Alvian karena dia tidak akan mengerti jika hanya diucapkan dengan kata-kata saja.

"Mommy, nanti kita pergi ke pantai ya. Terus makan cumi, Vion udah janji sama Vian mau dia pergi kesana."

"Tentu, nanti setelah keadaan Vian membaik, kita akan pergi kesana. Kita akan menghabiskan waktu bersama di sana agar keadaan Vian bertambah sehat. Dia tidak suka berada di rumah sakit seperti ini."Alexa tak mempermasalahkan hal itu, jika bisa setelah ini mereka berlibur kembali.

Supaya semua yang terjadi bisa mereka lupakan, tak perlu diingat kembali tentang kejadian yang membuat mereka terluka seperti ini.

"Aku akan memilih pantai yang indah," ucap Reon, dia sering pergi ke berbagai negara saat menjadi asisten dulu, jadi dia tahu beberapa tempat yang memiliki pantai yang indah.

"Bang mau milih juga," Alvion mendekat, ia juga tak sabar memberitahu Alvian tentang pantai yang akan mereka kunjungi nanti.

"Boleh saja, kemarilah." Reon memeluk adiknya itu,"Mereka kembar tapi Alvion lebih dewasa, sedangkan Alvian seperti anak kecil. Benar-benar saling melengkapi. Tapi kau juga harus di perlakukan sama seperti Vian, Vion. Jangan menjadi dewasa terlebih dahulu."

"Bang jangan peluk, risih."

Sayangnya Alvion tidak mau diperlakukan seperti itu, lihatkah dia menghindar. Tapi tak apa, sebanyak apapun Alvion menghindar mereka akan tetap menganggap Alvion dan Alvian anak kecil karena kedua anak itu memang adik mereka yang paling kecil.

"Tidak apa-apa, jangan berisik, nanti Vian akan bangun."

Alvion hanya berdecih saja, tapi tak apa sekarang ia harus memilih hadiah untuk adiknya agar adiknya itu tak lagi sedih. Jadi untuk sementara tidak apa-apa seperti ini.


Vote →Comment→ Follow


Vote →Comment→ Follow

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Alvion & AlvianCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang