Bagaimana jadinya jika seorang remaja laki-laki nakal dan tidak bisa di atur berpindah tubuh ke tubuh remaja yang polos penuh dengan penderitaan.
Bagaimana juga dengan sebaliknya, bagaimana jika seorang remaja polos berpindah tubuh ke remaja nakal...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mereka yang berada di sana terkejut saat mendengar apa yang dikatakan oleh Deon.
Mereka tak salah dengar bukan jika Deon mengatakan bahwa orang tuanya kecelakaan.
"Deon, yang bener? Tante sama om beneran kecelakaan? Jadi sekarang kondisinya gimana?"Alvion mendekat ke arah Deon."Ngomong, Deon! Tante Dwi sama om Bagas kenapa?"
"Vion, kata mereka mama sama papa gua kecelakaan ..."
"Iya gua tahu kecelakaan! Kecelakaan kenapa! Bilang dong! Jangan bikin orang khawatir!"
"Vion, jangan seperti itu."Alexa mengusap punggung anaknya itu, Deon tampak syok sekarang jadi mereka bisa bicarakan ini pelan-pelan.
"Mama sama papa gua kecelakaan, dan gua bakalan dapet adik baru! Yuhu! Yes yes yes! Iyes iyes iyes ... dapet adik baru l! Dapet adik baru!"
"Anjing! Bajingan ya lo! Sialan!"Alvion menendang kaki Deon hingga sang empu terjatuh dari kursinya.
Axian yang melihat itu segera menutup mata dan telinga Alvian. Jangan sampai adiknya ini mendengar kalimat buruk yang tercetus dari bibir adiknya yang satu itu.
Begitu pula, Alexa, Xander dan Reon. Mereka mendukung Alvion melakukan itu pada bocah luknut itu.
Sungguh membuat orang jantungan saja. Mereka benar-benar khawatir jika Deon akan tinggal sendiri nantinya karena kehilangan orang tua.
"Vion! Udah sakit ege ... jangan di pukul lagi, bajingan ya lo!"
"Elo yang bajingan! Bikin orang spot jantung aja! Itu namanya bukan kecelakaan tapi kebobolan dongo! Kesel banget gua!"
"Eh ... iya kah?"
"Matamu!"
Deon hanya tertawa saja,"Gimana dong, gua seneng. Berarti kan gua ada adek baru, nggak cuma elo aja yang punya adek, gua pun akan punya, pelit banget jadi orang!"
"Biarin! Biarin gua pelit, adik-adik gua, kok elo yang sewot!"
Alexa menghela nafas, apa yang dimainkan oleh Deon ini. Membuat semua orang panik saja."Deon, jangan seperti itu lagi, kau membuat kami takut."
"Iya mommy, maaf ya. Soalnya sama-sama kaget makanya jadi gitu!"
Alvian membuka tangan Axian yang masih bertengger di wajahnya itu."Bang, jadi Deon mau punya adik kecil lagi ya?"
"Benar,"jawab Axian, itu yang mereka dengar.
"Wah, pasti lucu banget nanti! Vian boleh liat adek bang Deon, kan?"
"Bolehlah! Vian boleh, tapi Vion nggak boleh. Dia pelit ... aduh! Kenapa elo nendang kaki gua lagi sih!"Deon menatap permusuhan ke arah Alvion.
"Nggak usah, dek. Kalo dia nggak mau kasih liat abang, berarti nggak usah liat adik dia, orang pelit mah kuburannya sempit!"Alvion memeluk Alvian, ia mencoba menenangkan dirinya."Pengen banget gua timpuk, tapi anak orang nanti geger otak kan susah, kaget sekaget-kagetnya gua!"
"Dih nggak sadar diri! Elo itu yang pelit! Masa nggak boleh peluk Vian sama sekali!" sinisnya.
"Sudah, jangan bertengkar lagi. Deon, jika ada kabar seperti itu jangan berekspresi yang tidak wajar, kau mengejutkan kami. Jika salah satu dari kami ada penyakit jantung bagaimana?" tegus Reon."Tapi selamat untukmu karena sudah mempunyai adik."
"Iya, bang. Maaf ... besok-besok nggak lagi deh. Makasih ya, bang. Soalnya udah nunggu lama, bosen jadi anak tunggal!" Jika ada adik bukankah lebih baik, dia akan setiap hari memperlihatkan pada Alvion jika dirinya bisa juga bermanja-manja bersama adik barunya.
"Lama, kali! Harus nunggu sembilan bulan baru nongol tuh bayi, jadi elo nggak bisa liatin ke gua, dan nggak bisa kayak gini!"Alvion mencium pipi adiknya itu berkali-kali.
"Heleh! Nanti gua juga bisa, dan saat itu tiba gua nggak akan bolehin buat sentuh adik gua, kalo Vian boleh! Iya kan, Vian?"
"Kalo gitu gua juga nggak akan kasih adik gua buat nyentuh adik elo!"
Mereka berdua menatap satu sama lain dengan pandangan sengit.
"Abang, udah jangan berantem. Abang juga jangan berantem. Kan adeknya belom ada,"Alvian jadi bingung sendiri melihat Alvion dan Deon ini bermusuhan.
"Pokoknya Vian nggak boleh liat adiknya dia!"
"Mana bisa! Boleh ya!"
"Nggak boleh!"
"Boleh!"
"Nggak boleh!"
Astaga, anak-anak ini kenapa malah bertengkar siapa yang ingin melihat bayi itu. Bahkan bayinya pun belum lahir ke dunia ini.
Alvian ingin memisahkan mereka, tapi pergelangan tangannya di pegang oleh Reon."Biarkan mereka. Lebih baik kita nonton film saja."
Axian, Xander juga setuju. Kedua anak ini tidak bisa di pisahkan, jadi biarkan saja mereka berdua seperti itu. Nanti pasti mereka akan lelah dengan sendirinya.
"Vian nggak boleh ... eh? Mana Vian?"
"Elu sih! Kan Vian di bawa sama mommy!"
"Jangan sebut mommy gua dengan sebutan mommy ya!"Alvion berkacak pinggang.
"Kenapa emangnya, mommy Alexa aja nggak marah! Iya kan mommy?"
"Dah lah! Males!" Lebih baik ia menyusul Alvian dan yang lainnya saja dari pada mengurus Deon."Yok mommy! Tinggalin aja dia! Ngeselin banget!"
Alexa terkekeh pelan, kenapa kedua bocah ini sungguh menggemaskan sekali."Baiklah, kita menyusul mereka menonton film."
"Dih si Vion pasti iri tu gua dapet adek baru! Makanya dia debat sama gua! Cih! Dia kira cuma dia yang ada adek! Nggak lama lagi pasti adek gua juga nyusul! Awas aja lo Vion!" Deon segera mengambil ponselnya lagi dan menelepon sang ibu."Ma! Pokoknya harus cepet ya lahirin adeknya! Si Vion belagu banget, dia nggak mau kasih kesempatan Deon buat megang Vian! Pasti nanti dia iri kalo adek udah lahir!"