77.Enak aja!

1.5K 114 12
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.














"Bisa bang? Gimana sakit atau tidak?"Alvian khawatir dengan Reon saat menggunakan kaki palsu itu. Entahlah ia tak tahu apa namanya. Tapi sepertinya itu sangat canggih dan pas di kaki Reon.

Reon tersenyum tipis, sedikit sakit karena belum terbiasa. Mungkin jika sudah lama maka pasti tidak akan sakit kembali."Tidak apa-apa, ini lebih baik." Ia menghela nafas."Dari pada tidak bisa berjalan sama sekali. Ini lebih baik, dengan begitu maka tidak akan menyusahkan mereka."

"Nggak apa-apa,Vion. Jangan khawatir. Bang Reon pasti nanti terbiasa. Iya kan, bang?"

Reon mengangguk, apa yang dikatakan oleh Alvion adalah benar. Jadi tak perlu khawatir dengan kondisinya. Dirinya bukan lah anak kecil lagi, jadi tak mungkin tak bisa menahan rasa sakit seperti ini.

Alvian lebih lega sekarang mendengar hal itu, ia pikir tadi abangnya itu sangat kesakitan.

Bisa mereka lihat, Reon berjalan dengan pelan. Mereka terus berjaga di sekitar Reon agar sang empu tak terjatuh.

"Sudah, nanti lanjutkan lagi. Kau istirahat lagi, Reon. Lagi pula kan lukamu belum sembuh sepenuhnya." Axian tak dapat menahan kata-katanya kembali.

Lihatlah wajah Reon yang menahan sakit itu, walaupun mungkin sakitnya tak seberapa. Tapi lebih baik melakukan ini dengan pelan-pelan saja bukan.

"Itu benar, jangan di paksakan. Lagi pula kita tak menyuruhmu untuk cepat-cepat bisa berjalan kembali Reon. Kau bisa menggunakan kursi roda jika kau lelah. Maid juga pasti tak akan jauh dari kamar mu. Jadi jangan sungkan." Xander membantu melepaskan alat itu dari tubuh Reon. Ia juga membantu Reon untuk duduk kembali ke kasur.

"Tidak perlu, jangan menyusahkan mereka. Mereka pasti banyak pekerjaan. Jangan nganggu mereka. Aku bisa sendiri. Terima kasih."

Alvion menyodorkan air yang berada di dalam gelas itu kepada Reon.

Tampak juga, wajah tampan itu di penuhi keringat. Bisa di katakan jika Reon ingin sekali cepat terbiasa dengan alat bantu jalan ini.

"Bang Reon jangan gitu bang, mending terima aja bantuan mereka. Lagi pula aku juga mau kalo jadi bang Reon. Bisa lakuin apapun tinggal nyuruh sana sini!"

Celetukan dari Deon itu membuat mereka sama-sama menoleh. Apa dia tidak salah bicara.

"Kau ingin buntung juga?"

Deon melotot, bukan itu yang ia mau."Bukan gitu maksudnya bang, mau di layanin gitu! Bukan mau buntung juga, amit amit  ..."

Mereka semua tertawa, salah sendiri dia mengatakan hal yang setengah-setengah.

Aneh sekali jika Deon juga mengiginkan hal yang sama seperti ini, sungguh aneh dan sangat di luar nalar pikirannya.

"Eh, bukan maksud ngatain abang ya bang ..."

Reon menggeleng."Tak apa, aku tahu." Ia sudah berdamai dengan dirinya sendiri. Jadi tak masalah jika mereka bercanda soal fisik seperti ini.

Deon mengusap dadanya lega."Untung bang Reon kagak salah paham, bisa-bisa nanti gua juga yang dosa! Ni mulut emang kagak bisa di jaga! Kasian kan bang Reon kalo dia tadi kesinggung!"

"Oh iya, Vion. Karena rumah kalian jauh bener jadi gua nginep ya hari ini,  takut banget sendirian. My mama dan my papa honeymoon nya belum puas, gini nih nasib anak tunggal! Kalo bawa adek setelah balik nggak apa-apa! Ini malah nggak bawa apa-apa!"

"Anak ini, kenapa mulutnya tidak bisa diam?" Axian memelototi Deon. Tak seharusnya hal sensitif itu di bicarakan, apalagi ada Alvian yang tak mengerti apapun di sini.

Deon meneguk ludahnya dengan kasar."Kenapa dah? Gua nggak salah apa-apa kan ya? Kenapa malah di pelototin sama bang Axian! Emang ya susah bener kalo mau deket sama Vion sama Vian!"

Itu lah yang Alvion tak suka dari Deon."Dari dulu nggak pernah bener kalo ngomong! Kalo Vian salah paham kan jadi berabe! Gimana jelasinnya nanti!"

"Nggak masalah sih kalo mau nginep di sini, coba tanya bang Axian sama bang Xander. Bilang ke mereka aja,"Alvion menguyel-nguyel pipi adiknya itu.

Dan Alvian hanya diam saja, ia tak  masalah pipinya di mainkan seperti itu. Malahan ia merasa mengantuk jika di mainkan seperti itu.

"Tidak bisa, kamar di sini sudah penuh." Tolak Xander terang-terangan.

Deon memegang dadanya yang berdetak lebih kencang."Bang yang bener aja! Biasanya boleh, kenapa sekarang nggak boleh?"

"Kau terlalu berisik, kami sudah aman tanpa suaramu." Tukas Axian, ia tersenyum tipis melihat Deon yang hampir menangis itu.

"Tega sekali ya besty, masa nggak boleh. Boleh dong bang! Udah nyiapin baju ganti!"

Kedua pria dewasa itu hanya menggeleng membuat tawa Alvion semakin keras.

"Udahlah jangan tidur di sini, balik aja sono!"

"Abang, tapi bang Deon sendirian di rumah ..."

Seketika mata Deon bersinar saat mendengar Alvian membelanya."Bener itu! Cuma Vian yang ngertiin diriku ini! Bolehkan Vian?"

Alvian mengangguk tapi ketiga orang itu malah menggeleng.

"Kalian ini, sudahlah tidak apa-apa. Orang tua Deon juga sudah mengabari mommy, mereka akan pulang seminggu lagi. Jadi Deon akan tinggal bersama kita,"

Harapan Deon semakin besar saat melihat Alexa yang baru saja datang.
"Beneran mommy!"

"Iya, tadi aku menjawab telepon dari orang tuamu. Mereka menyuruhmu untuk tinggal di sini sementara." Alexa hanya terkekeh kecil melihat Deon yang senang seperti itu.

Tak apa, karena Deon adalah teman dari Alvion dan Alvian jadi tak ada salahnya bukan jika dia menginap di sini.

Deon senang, tapi tidak dengan ketiga orang itu, Xander, Axian, dan Alvion berdecak karena Alexa mengizinkannya.

Hanya Alvian yang tertawa melihat tinggal lucu mereka.

Sedangkan Reon tak bereaksi apapun. Ia tahu betul sikap Deon ini seperti apa. Anak ini terlalu banyak bicara.

"Yes! Kita tidur bertiga!"

"Enak aja! Nggak ya!" Alvion memeluk erat adiknya itu."Yok dek kita tinggalin!"

Alvian hanya melambaikan tangannya pada Deon yang sepertinya ingin menangis itu. Kenapa mereka ini lucu sekali.

Vote →Comment →Follow

Vote →Comment →Follow

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Alvion & AlvianCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang