"Sialan, apa aku secapek itu kah? Bisa-bisanya bocah itu berada di pikiranku." Moskov mengeluh sambil berjalan di sisi trotoar, mengenakan kaos oblongnya dan celana jeans ketat.
Masih di hari yang sama setelah Moskov bertemu dengan Chang'e di cafe. Entah itu khayalan atau bukan, yang jelas-firasat Moskov jadi tidak enak setelah mendengar "Teman-temanmu sedang dalam masalah." Moskov sendiri tak tahu apa maksudnya, tapi...
"Ini pasti ada hubungannya dengan orang misterius itu. Terhitung Chang'e mempunyai hubungan dengannya, begitupula Lesley. Aku jadi khawatir perkataan Chang'e tertuju pada Gusion." Moskov bergumam dan berpikir.
Disaat Moskov terus berjalan, secara tak sengaja ia dipertemukan Claude yang tengah berdiri di depan Toko Matrial.
"Ah, sial.. Aku bertemu dengan orang bodoh itu lagi."
____________________________________ .
. MOBILE LEGEND FANFICTION [S2] "What If" .
.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Yo, sedang apa kau disini?" sapa Moskov seraya menghampiri Claude yang kelihatan sedang mengukur beberapa kayu. "Eh, jangan bilang kau jadi tukang bangunan.."
Claude langsung menoleh, ia melihat Moskov yang tidak berubah sejak terakhir kali bertemu. "Hm, sepertinya ini takdir. Bisa bertemu dengan musuh sekaligus sahabatku." kata Claude. "Dan lagi, aku tidak jadi tukang bangunan. Aku ini sedang menyiapkan beberapa bahan untuk membangun rumahku sendiri."
Moskov hanya diam, ia tidak peduli lagi dengan perkataan yang Claude ucapkan. Moskov paham betul dengan perasaan Claude, apalagi Irithel sudah mempunyai anak.
"Bagaimana, sakit 'bukan?" tanya Moskov. Kali ini ia memasang senyum liciknya.
"Sakit? Hm, orang sepertimu tidak pantas mengatakan itu padaku, Moskov." timpal Claude tersenyum lebar.
"Perasaan yang tak pernah terbalas. Melihatmu saja sudah membuatku ingin muntah." kata Moskov sambil menatap tajam dan merendahkan.
Mendengar itu semua, tentu saja Claude tidak terima. Ia mengepalkan tangannya dan langsung menghantam wajah Moskov dengan satu pukulan keras. Namun-sayangnya pukulan itu tak berhasil mengenainya, Moskov menahan pukulan tersebut dengan satu tangan. Ia melintirkan kepalan tangannya sehingga Claude merasakan ada beberapa tulang yang patah.
"AAARGHH!!" tentu saja Claude menjerit kesakitan.
"Tak perlu lagi berkelahi, lagipula kau tidak pantas menjadi musuhku untuk yang kedua kalinya." balas Moskov masih tersenyum licik.
Beberapa karyawan penjaga toko matrial melihat perkelahian mereka, tapi tak ada satupun dari mereka yang mencoba 'tuk memisahkannya. Banyak dari karyawan yang diam dan cuma memperhatikan.
Claude pun terjatuh dan memegangi pergelangan tangannya yang terkilir. Merasakan nyeri yang amat dahsyat, serta rasa sakit yang tak bisa ditahan. "S-Sialan kau! Apa kau sebegitu bencinya padaku!? Aku ini adalah sepupu Irithel, Moskov!" seru Claude sangat marah.
"Jika dibilang benci.. aku sudah tidak benci padamu, karena apa yang kuinginkan sudah kudapatkan. Dan kau-Kau adalah sahabatku sekaligus sepupu Irithel yang membuatku muak sejak saat itu." kata Moskov panjang lebar. "Dengar, semua ini karena cinta. Dan pada akhirnya cuma ada satu pemenang, yaitu aku!"
"Kau sendiri membuat Irithel tersiksa! Mempunyai anak sebelum menikah itu rasanya..." tiba-tiba Claude terdiam, tak tahu apa yang harus dikatakan. "Lihatlah dirimu, Moskov! Kau tidak bisa menjadi sosok ayah terbaik kepada anakmu, kau tidak punya pekerj-"
"DIEM ANJINK!" seketika, Moskov marah dan sangat kesal. Ia menarik kerah baju Claude dan memukul wajahnya. "Apa yang kulakukan adalah hakku sebagai kekasih Irithel! Uruslah hidupmu sendiri, bajingan!"
Ia melepaskan cengkeramannya lalu pergi meninggalkan Claude, menghiraukan banyaknya karyawan dan orang-orang di depan Matrial yang memperhatikannya.
Uruslah hidupmu sendiri-kata-kata itu selalu terngiang di kepala Claude. Sempat ingin menyerah.. tapi Claude berpikir lebih keras. Apa menyerah satu-satu solusinya? Jika benar, maka Claude memang harus menyerah.
Claude hanya ingin membuat Irithel lebih bahagia dibandingkan Moskov. Ia pikir.. Moskov menjalin hubungannya dengan cara yang salah. "Orang itu.. terlalu optimis, pada akhirnya kau sendiri belum bisa memenuhi apa yang Irithel butuhkan." gumam Claude. "Moskov.. tidak pantas untuk Irithel!"
...
"Hanzo, sebenarnya apa yang kau rencanakan?" Hayabusha bertanya dengan suaranya yang dalam dan berat.
Terhitung terdapat pecahan kaca pada lehernya, kaca itu menusuk dibagian samping. Bahkan, darahnya masih terus mengalir. Dan tentu saja-hal itu membuat Hayabusha kesakitan, tapi ia tetap menahannya.
Ditambah.. Ada warna merah yang mengucur dari perutnya. Hayabusha terasa sangat sakit, ia memegangi perutnya dengan satu tangan. Ya, pakaian Hayabusha terlihat basah dengan cairan warna merah yang merembas di bajunya.
"Cih, kalau saja aku tidak menghindar, tusukan itu pasti akan menembus organ dalamku." batinnya. "Sial, rasanya sakit sekali...."
"Rasanya sakit sekali, 'bukankah begitu?" sambung Hanzo. "Pedangku bukan lagi pedang biasa. Kau lihat warna merah darah di pedangku ini? Semua orang yang telah kubunuh mengalir di dalamnya dan menjadi.. kekuatan."