Pria berambut ungu dengan adanya codet di wajahnya tengah duduk di kursi santai, menikmati angin yang berhembus itu benar-benar terasa nyaman baginya.
Ya, ia adalah Moskov. Seorang pria yang memiliki beban, setidaknya satu beban yang lebih berat dari biasanya.
"Apa yang harus kulakukan? Aku benar-benar bingung." ia mengeluh sambil menatap langit.
Mungkin Moskov merasa tidak enak karena ia terus-menerus tinggal di kediaman Irithel. Well, Moskov sudah dikeliarkan dari apartment lamanya, dan jangan bilang kenapa.
"Aku mesti mencari cara agar aku bisa mendapat pekerjaan secepat mungkin. Aku tidak bisa terus seperti ini." gumamnya.
Satu hal yang paling berat bagi Moskov selain beban yang ia pikul—Tidak memiliki pekerjaan, ditambah ia harus menanggung malu dihadapan Irithel beserta ibunya sebagai pengangguran. Apalagi Irithel harus mengurusi bayi dengan sosok ayah yang sama sekali tidak dapat diharapkan.
"...Aku harus mencari jalan keluarnya." lanjutnya seraya mengepalkan kedua tangan.
________________________________ .
. MOBILE LEGEND FANFICTION [S2] "One Eyed & Little Tiger" .
.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
________________________________
Kita akan beralih sejenak pada masa lalu Lesley dimana ia masih berada di Sekolah Menembak. Mungkin diantara kalian ada yang penasaran dan ada juga yang tidak—tapi karena itulah saya akan membuat bagian ini secara singkat.
"K—Kenapa aku tidak bisa melihat gerakannya?" Lesley bergumam panik. "Pergerakan tangannya sangat cepat. Aku sampai dibuat mematung olehnya, sial."
Gadis berambut merah muda ini sedang latihan menembak. Sudah gatal sekali rasanya ingin memuaskan hasrat untuk menembak di pelatihan. Namun siapa sangka yang jadi partnernya adalah Granger.
"Kukira kau bisa lebih baik dari ini.." dari jarak yang lumayan jauh, Granger berbicara.
"SIAL!" kata-kata itu entah mengapa berhasil membuat Lesley panas, dengan sigap ia mengarahkan sniper-nya. Scope yang ia bidik tepat mengarah ke kepala si pria berponi putih tersebut. "Sekarang tembakanku tidak akan meleset lagi!"
Secara cepat dan penuh keyakinan, Lesley pun menarik pelatuk L115A1 ke arah Granger.
Pria berponi serta bermata tajam itu masih berdiri santai. Benar-benar berdiri tegak seakan-akan ia siap menerima peluru Lesley.