BAB MASIH LENGKAP
Dark Young Adult (18+)
Setelah Ibunya memutuskan untuk menikah lagi bersama pria lain yang memiliki dua anak remaja. Naomi memutuskan untuk pindah ke Chicago dan tinggal bersama Ayahnya. Karena Naomi tidak suka hidup bersama saudar...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
⬇⬇⬇
Malam telah tiba. Aku tidak tahu apakah harus bergembira--sebab aku bisa menonton pertandingan--atau harus bersedih karena melihat Ayah pergi selama 1 minggu.
Sebelum Ayah berangkat, ia mengantarku ke pertandingan lebih dulu, memastikan bahwa aku baik-baik saja. Sekarang kami sedang berdiri di depan bangunan sekolah.
"I will miss you, sugar." Kata Ayah mencium pucuk kepalaku. Dapat aku rasakan mataku berkaca-kaca. Aku langsung memeluk pinggang Ayah untuk menetralkan perasaan sedihku. Jujur, sebagian dari diriku tidak ingin Ayah pergi. Tapi aku tidak boleh egois, sebab Ayah memiliki pekerjaan yang lebih penting.
"I will miss you too, Daddy." Ujarku memaksakan diri untuk tersenyum di dalam pelukan Ayah. Kemudian melepas lingkaran tanganku dan menatap Ayah dengan sedikit mendongak. "Berjanjilah pulang tepat waktu."
Ayah mengangguk dengan tersenyum, tangannya mengelus rambut hitam pekatku yang terikat. "Aku berjanji."
"Baiklah. Sampai jumpa Dad." Aku melambaikan tangan, sementara Ayah berjalan masuk ke dalam mobilnya.
Setelah menyalakan mesin, Ayah melambai-lambaikan tangan padaku sebelum akhirnya ia menancap gas dan meninggalkanku yang tengah berdiri di depan bangunan sekolah. Air di mataku sedikit menetes tapi aku langsung menghapusnya dan menghela napas panjang.
Baru saja aku mau masuk ke dalam bangunan sekolah, Steven sudah lebih dulu muncul. Ia memarkirkan sepedanya di parkiran.
"Ayahmu sudah pergi?" Tanya Steven sambil berjalan ke arahku.
Aku mengangguk, "Baru saja."
"Dia mengirimku pesan untuk menjagamu malam ini." Ujar Steven.
"Ya aku tahu. Tapi santai saja Stev, kau tidak perlu terbebani karena aku pasti akan menjaga diriku." Sahutku sambil berjalan memasuki gedung sekolah. Lapangan football ada di belakang gedung ini, jadi harus melewati lorong untuk tembus ke sana.
Pertandingan bersifat terbuka, maka siapa saja bisa datang menonton. Aku melihat ada banyak yang datang, seketika sekolah jadi ramai malam ini. Beberapa orang memakai baju merah, yang aku duga kalau mereka pasti supporter dari Budhill High School. Sementara aku dan Steven memakai baju dominasi hitam yang berarti berada dipihak Chicago High School.
Langkahku dan Steven spontan berhenti, saat kami mendengar suara beberapa orang dari arah luar--baru saja sampai dan turun dari bus. Kepalaku spontan menoleh ke arah pintu masuk gedung, dan saat itulah aku melihat tim football dari Budhill High School dengan jersey warna merah berjalan masuk beriringan.
"Wow." Kata orang-orang yang berada tak jauh dariku. Ternyata bukan hanya aku saja yang terpana.
Pria bernomor 10 tampak lebih mencolok dari anggota tim football yang lain, ia tinggi dan berjalan lebih depan. Aku duga dia pasti kapten timnya.