009

260K 12.5K 146
                                    

Hang around in Chicago with Dad

Hang around in Chicago with Dad

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

⬇⬇⬇

"Bagaimana harimu di sekolah?" Tanya Ayah sambil menjalankan mesin mobil begitu aku duduk di kursi penumpang tepat di sampingnya.

"Sejauh ini pelajarannya menyenangkan. Aku suka cara guru menjelaskan materi. Mereka tidak membosankan."

Mendengar ucapanku, Ayah tersenyum puas. "Dan bagaimana dengan siswanya? Apa ada yang mengganggumu?"

Aku terdiam sesaat. Sejauh ini ada dua nama yang aku tandai. Leo dan Jacob. Kedua pria itu sempat mengusikku, tapi aku rasa hal itu tidak perlu untuk di adukan ke Ayah. Aku tidak mau Ayah menganggap masalahnya serius.

"Tidak ada, dad. Semua berjalan baik. Bahkan aku sudah mendapatkan teman." Kataku menjawab pertanyaan Ayah tadi.

"Benarkah? Siapa?"

"Namanya Steven."

"A boy?" Ayah langsung bertanya dengan nada tak yakin. Aku menghembuskan napas pelan.

"Tenanglah dad, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Steven pria kutu buku yang baik. Dia tidak akan menyakitiku walaupun dia laki-laki."

"Are you sure?"

Kedua bahuku terangkat. "Yes! Jika Daddy masih meragukannya, nanti akan aku kenalkan dengan Steven."

Ayah terkekeh pelan, kedua tangannya sibuk memegang setir mobil.

"Kau tidak boleh berteman dengan sembarang orang, sugar. Chicago tidak sebagus pandangan orang luar. Di sini banyak orang berbahaya. Dan aku tahu, lingkungan tempat tinggalmu dulu sangat berbeda dengan budaya di sini. Maka kau harus berhati-hati."

Aku mengangguk pelan. "Okay."

Hening beberapa saat di dalam mobil. Aku sibuk mengecek ponsel untuk melihat beberapa notifikasi media sosial yang masuk. Teman-temanku di Jakarta banyak yang mengirimkan pesan, dan rata-rata mengatakan kalau mereka sangat merindukanku. Aku tersenyum haru lalu membalas pesan mereka satu per satu.

Setelah membalas pesan mereka, aku menyimpan kembali ponsel ke dalam tas. Hari ini Ayah janji untuk mengajakku jalan-jalan mengelilingi sekitar kota. Pandanganku kemudian tertuju ke arah luar jendela, memerhatikan beberapa rumah penduduk dan jalan yang lumayan ramai dengan pejalan kaki. Di sini para penduduknya lebih suka berjalan, berbeda dengan di Indonesia yang lebih suka mengendarai motor walaupun jarak rumah dan supermarket hanya 100 meter. Tidak heran mengapa di Indonesia sering terjadi macet.

"Dad, aku ingin bertanya sesuatu." Pandanganku terlaihkan kepada Ayah. Tadi aku sempat melihat logo geng Grifiin tergambar di dinding sebuah bangunan kosong. Dan itu membuat rasa penasaranku kembali timbul hingga aku memutuskan untuk bertanya. "Daddy tau, tentang geng Griffin?"

Ayah mengangkat satu alisnya, "Dari mana kau dengar nama itu?"

"Banyak siswa di sekolah yang membicarakan mereka. Dan... Jaket mereka sangat mencolok."

Ayah tidak langsung menjawab, ia berpikir sejenak sebelum mengeluarkan kalimatnya.

"Mereka adalah geng pembuat onar di lingkungan ini. Tiga tahun yang lalu, terjadi peredaran narkoba dengan jumlah yang banyak, dan pengedarnya adalah bagian dari geng itu. Mereka juga sering membakar tempat-tempat umum dengan alasan tidak jelas. Lalu sering berkelahi dan menimbulkan keributan sana-sini. Aku berusaha membubarkan geng Griffin dari setahun yang lalu, dan berencana memasukkan mereka ke dalam penjara, tapi aku belum bisa. Bukti yang aku dapatkan selalu ditentang karena kurang kuat untuk dibawah ke meja hijau, dan juga anggota mereka terlalu banyak untuk dilawan."

"Jadi Naomi, jika kau bertemu salah satu diantara mereka, berusahalah untuk menghindar. Jangan mendekati mereka, walaupun anggotanya kebanyakan anak muda, mereka tetap berbahaya untukmu."

"Aku mengerti, dad." Aku mengangguk patuh.

Sekarang sangat jelas, geng Griffin adalah komplotan bermasalah, dan itu sudah cukup untuk menegaskan pada diriku sendiri agar menjauh dari mereka, termasuk itu Leo sekalipun.

➰➰➰

Kami sampai di rumah saat hari mulai gelap. Hari ini Ayah benar-benar mengajakku berkeliling di lingkungan Chicago dengan puas. Ayah bahkan mengajakku ke rumah aunty Maria-Adik Ayahku yang tinggal di daerah timur kota Chicago. Kami sempat makan juga di sana, sehingga ketika sampai di rumah aku tidak lagi lapar.

Ayah langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mandi dan mengganti seragam polisinya, begitu juga denganku yang langsung masuk ke kamar dan membasuh diri lalu beristirahat.

Aku menggunakan baju piyama, dan berbaring di atas kasur sambil membaca novel yang aku beli waktu di Jakarta. Aku belum mendapatkan tugas dari sekolah, jadi aku memanfaatkan waktu dengan bersantai-santai saja malam ini.

Beberapa jam setelah membaca, aku merasa mataku mulai berat. Aku memutuskan menyimpan novelku di samping bantal setelah menandai halaman bacaanya dan menutup mata dengan perlahan hingga aku tertidur pulas.

Tapi saat pandangkanku mulai gelap, wajah seseorang melintas dengan cepat bagai kabut asap. Aku sempat menatap matanya. Tatapannya gelap dan tajam. Aku tidak tahu mengapa ia membawaku bersamanya, menelusuri sebuah hutan bersama, lalu tiba-tiba menghilang...

Aku pasti bermimpi.

➰➰➰

Maaf ya pendek :'(. Aku belum bisa update panjang2. Soalnya sibuk ngampus. Dan aku sedang mengusahakan up tiap hari. Jadi mau dapet 2000 kata itu susah kalau tiap hari. Kcuali kalau up seminggu dua kali. Heheh.

Tapi, nanti kalau udah part 11, kita bakal mulai masuk ke awal2 konflik.
Siapin aja nanti hati kalian mulai dagdigdug. Dan Anna gak bisa menghindari takdirnya untuk tidak terlibat dengan Leo. Si manusia Singa.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
SWITCHOVER (Book I)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang