Chapter 100

1.9K 184 64
                                        

Sebelumnya Veronica tidak pernah tahu auforia untuk sebuah kencan akan semendebarkan ini. Veronica tidak pernah memiliki pacar maka dari itu dia hampir tidak pernah pergi kencan bersama laki-laki.

Berbeda dengan dulu, saat dia masih tinggal satu atap dengan Xeron, kencan tidak menjadi sesuatu yang begitu spesial untuk mereka yang sudah setiap hari menghabiskan waktu bersama. Dan tentu saja ajakam kencan Xeron kali ini menimbulkan rasa yang berbeda di hati Veronica.

Mereka seperti dua lawan jenis yang sedang mencoba melakukan pendekatan untuk menciptakan sebuah rasa nyaman, lagi.

Jika diingat-ingat, Xeron memang tidak pernah mengeluarkan upaya lebih untuk mendapatkan Veronica. Semua terasa begitu mudah baginya. Nama Xeron ada disurat wasiat Ayahnya sebagai Calon Suaminya dan Veronica tidak bisa menolak ajakannya untuk menikah.

Upaya Xeron untuk mendapatkannya baru terlihat semenjak sepuluh bulan Veronica memilih pergi. Semua seolah berjalan dari nol. Xeron berjuang atas dasar dia menyukai Veronica dan ingin memilikinya bukan karena ingin menuruti isi dari surat wasiah Ayah Veronica.

Veronica tentu tidak ingin membuat ini terasa mudah untuk Xeron. Dia juga harus memantapkan hatinya yang dulu pernah dihancurkan. Kendati dia tahu bahwa dia dan Xeron masih saling mencintai. Akan tetapi masih ada banyak sekali pertimbangan untuk hidup bersama. Veronica tidak mau kehidupan buruknya terulang untuk yang kedua kali bersama orang yang sama.

"Wah, Anak Mama cantik sekali!" Komentar Dokter Alicia yang mengintip di balik pintu kamar Veronica. "Xeron sudah menunggumu di luar."

"Ck. Dia datang tiga puluh menit lebih awal dan aku belum selesai menggunakan eyeliner."

Dokter Alicia terkekeh sambil melangkah mendekati Veronica yang sedang kesulitan menggukanan eyeliner di cermin meja rias. Dasar, anak muda.

"Mama, bagaimana penampilanku? Aku sudah cantik 'kan?"

"Cantik, sayang." Dokter Alicia menyentuh kedua pundak Veronica dari belakang. Bibir itu melengkung. Dokter Alicia terlihat hampir mennagis.

Veronica menghusap tangan Dokter Alicia di pundaknya. "Mama, kenapa menangis?"

"Mama bahagia. Sudah lama sekali Mama tidak melihat diri seorang Veronica Estella yang seperti ini—penuh semangat, ceria, menggebu-gebu, cerewet, dan ingin terlihat cantik. Kau tidak tahu betapa khawatirnya Mama saat melihatmu seperti mayat hidup selama sepuluh bulan terakhir. Kau yang selalu mengurung diri, menangis, melamum ketika diajak berbicara, lebih pendiam dan tidak peduli dengan penampilanmu. Mama senang sekali Veronica Mama sudah kembali lagi. Teruslah berbahagia seperti, sayang."

Veronica buru-buru bangkit dan memeluk Sang Mama saat wanita itu akhirnya menjatuhkan air mata. "Maaf. Tapi aku janji, mulai hari ini aku tidak akan membuat Mama khawatir berlebihan lagi. Perlahan-lahan semua sudah mulai membaik."

"Haruskan Mama berterima kasih pada Xeron?"

Pelukan Veronica terlepas. Xeron adalah penyebab Veronica terpuruk namun harus diakui bahwa Xeron juga yang menjadi alasan Veronica bisa lebih baik seperti sekarang ini.

"Xeron yang menjadi luka sekaligus obat untukmu bukan?"

Tentu saja mengakui semua itu di depan Sang Mama merupakan hal yang memalukan. Veronica kembali ke prinsip awal; Harga diri nomer satu, gengsi dong.

"Ti-dak juga."

"Jangan suka membohongi perasaan sendiri."

Veronica mengesah panjang. Dokter Alicia dan para sahabatnya memang sering kali memintanya untuk kembali membuka hati. Membuka pintu maaf untuk Xeron dan belajar berdamai dengan apa yang sudah terjadi. Namun ketika dijalani, semua itu tidak terasa mudah untuk Veronica.

Happier Than EverTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang