Kisah tentang kehidupan yang bermusim, tak selalu hangat, terkadang badai juga datang.
Berputar bagaikan roda, tak terus menerus di atas, sewaktu-waktu juga akan jatuh ke bawah.
Begitulah Veronica Estella mendeskripsikan kehidupannya. Setelah Ayahny...
Baru saja membuka pintu apartemen, Veronica sudah menemukan mata Xeron yang memicing ke arahanya. Dia pulang diantar oleh Dokter Alicia yang juga kebetulan mengantar Ibu pulang ke mansion. Katanya supaya sekalian makannya dia tidak menelepon Xeron untuk menjemputnya.
"Kau pulang dengan siapa? Mengapa tidak menghubungiku?"
Xeron yang tadinya sedang duduk di sofa sambil menonton televisi pun akhirnya bangkit untuk mengekori Veronica yang masuk ke dalam dapur sambil meletakan barang-barang bawaannya.
Masih belum mendapat balasan, Xeron pun diam sambil mengamati gerak-gerik gadis itu. Veronica menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga. Pergerakan yang terlihat sangat seksi di mata Xeron. Kemudian dia kembali melanjutkan kegiatannya—memasukan seluruh bahan makanan yang dia dia bawa ke dalam kulkas.
"Biar ku bantu."
"Tidak perlu. Ini pekerjaan perempuan." Cegah Veronica menahan dada Xeron untuk tidak mendekat. "Kau tunggu di ruang tamu saja. Nanti akan ku hangatkan hasil masakanku dengan Ibu dan Dokter Alicia."
Bukannya pergi, Xeron justru betah berdiam diri disana. Veronica mendengus, "Ya sudah, silahkan berdiri disana sampai kakimu pegal."
Mata Xeron kembali mengamati gadis yang sedang membungkuk di dekat kulkas dan menata isi di dalamnya hingga rapi. Kehadiran Xeron disana bak makhluk tak kasat mata. Tapi Xeron tidak peduli, dia terlalu senang menyaksikan perubahan drastis istrinya. Terkadang dia bingung sendiri, kemana perginya sosok gadis manja itu?
Kini Veronica sedang berada di depan microwave. Xeron bahkan ragu jika gadis itu bisa menggunakan benda tersebut. Tapi diluar dugaannya, Veronica ternyata bisa melakukannya tanpa bertanya. Sepertinya Ibu dan Dokter Alicia mengajarinya dengan baik.
Sadar jika kembali mendapatkan momen langka, Xeron pun mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Hendak memotret kecantikan istrinya saat sibuk dengan urusan dapur. Tapi sialnya dia lupa mematikan flash sehingga Veronica menyadari apa yang sedang dia lakukan.
"Xeron." Rengeknya. Menutup kedua wajahnya menggunakan tangan seperti seorang tersangka. "Jangan iseng deh. Aku sedang tidak cantik."
Veronica melangkah mendekati Xeron untuk merebut ponsel pria itu. "Jangan dihapus."
"Pasti jelek."
"Cantik, sayang."
"Lihat dulu!"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Benar, cantik. Ya, tentu saja! Dilihat dari sisi manapun Veronica memang tidak ada lecetnya. Dengan gaya sombong dia pun mengibas rambutnya yang sedikit lepek akibat berkeringat seharian. Tidak apa-apa yang penting cantik—suaminya pun mengakui itu.
Kemudian dia mengembalikan ponsel milik Xeron. "Jangan suka memotrektu diam-diam. Nanti memori ponselmu penuh."