Kisah tentang kehidupan yang bermusim, tak selalu hangat, terkadang badai juga datang.
Berputar bagaikan roda, tak terus menerus di atas, sewaktu-waktu juga akan jatuh ke bawah.
Begitulah Veronica Estella mendeskripsikan kehidupannya. Setelah Ayahny...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Suara tangis bercampur teriakan itu memenuhi kamar rawat Leah. Perempuan itu baru saja menyadari bahwa kedua kakinya tidak lagi bisa digerakan.
"Aku tidak mau hidup dalam keadaan cacat. Aku tidak mau seperti ini!" Leah mengamuk sambil memukul-mukul kedua kakinya yang terasa mati.
Ayah adalah orang pertama yang duduk di sebelah Leah sambil merangkul pundaknya. Dokter terpaksa harus menyuntikan obat penenang agar kondisi Leah tidak semakin menurun setelah menyadari kelumpuhannya.
Bahu Leah merosot dalam pelukan Ayah. Pria paruh baya itu menghusap kepala Putrinya dengan prihatin. "Tenangkam dirimu, Leah. Kau pasti bisa melalui ini semua. Kau tidak sendirian. Ayah akan selalu ada untukmu. Ayah berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi."
"Aku cacat." Suara Leah terdengar pelan namun penuh rintihan kesakitan. "Mengapa aku tidak mati saja? Sejak awal kematianlah yang aku inginkan!"
"Kau tidak boleh meninggalkan Ayah, Leah."
Xeron menyaksikan semua itu dalam diam. Tangannya terlipat di depan dada dengan tubuh bersandar di dinding. Tidak ada yang menyadari kehadirannya disana selain Ibu yang berdiri beberapa langkah di depannya.
Ibu meliriknya ke belakang. Seakan meminta ijin pada Xeron untuk menemui Ayah dan Leah. Tentu saja Xeron mengangguk. Tidak ada alasan untuk melarang Ibu menemui suaminya sendiri. Xeron tidak ingin bersikap egois, sekalipun ucapan Ayah masih melukai hatinya.
Kedua kepala itu mendongak saat mendengar suara langkah kaki Ibu.
"Kau bisa melalui ini, Leah. Kau anak yang kuat. Ada Ayah dan Ibu yang akan merawatmu."
"Xeron..." Nama itu terlontar begitu saja dari bibir pucat Leah yang masih bergetar. "Bukankah dia yang menyelamatkanku dari kebakaran itu? Dimana dia sekarang?"
Ibu dan Ayah saling tatap satu sama lain. Namun tak ada satu pun dari mereka ada yang menjawab pertanyaan Leah.
"Veronica..., apakah dia selamat?" Leah mulai mengingat-ingat apa yang terjadi pada dirinya sebelum dia dinyatakan lumpuh. Kebarakan di dalam gudang itu, lemari yang tiba-tiba jatuh menimpanya, lantas dia yang melihat wajah Xeron untuk terakhir kali sebelum tak sadarkan diri.
Dia ingat apa tujuan awalnya melakukan itu semua; mati bersama Istri dan calon anak Xeron agar anaknya mendapatkan keadilan di surga.
"Bagaimana dengan anak yang ada di dalam kandungan Veronica? Apakah dia selamat?"
Sebelum salah satu dari mereka mengatakan yang sebenarnya, Xeron lebih dulu beranjak dari posisinya. Melangkah keluar dengan cepat karena rasa sesak yang kembali melanda dadanya.
Tubuhnya kembali merosot di kursi ruang tunggu. Kedua tangannya menutup wajah dan kembali menangis tanpa tahu bagaimana caranya untuk berhenti.