Sixty Eight

1.3K 99 22
                                        

Cerita ini hanyalah fiktif belaka
Tidak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata
.
.
.

Joanna akhirnya menjelaskan pada lelaki bernama Fajrih di hadapannya ini mengenai bagaimana kronologi hingga motornya terparkir di pinggir jalan begitu saja.

"Baik dr. Joanna. Saya mengerti mengenai penjelasan anda, tapi karena motor anda sudah sampai disini, maka ibu harus menjalani proses penilangan ini. Tidak apa-apakan bu? Saya akan membantu ibu." Jawab Fajrih setelah Joanna selesai menjelaskan.

"Baik Pak, saya akan menjalani prosesnya sesuai alur. Mohon bantuannya pak."

Fajrih hanya membalas perkataan Joanna dengan senyuman lalu segera berdiri dari kursinya dan membawa berkas Joanna pada salah satu rekannya yang tak jauh dari kursinya.

"Gue minta tolong lanjutin berkasnya yah. Gue mau bawa dr. Joanna ngambil motornya di parkiran belakang." Ujar Fajrih.

"Oke bang!" Jawab Dadang.

"dr. Joanna mari ikut saya, kita ke parkiran belakang untuk mengambil motor anda."

"Baik Pak."

###

"Motornya ga ada lecet kan dok?" Tanya Fajrih saat Joanna memeriksa keadaan kendaraan kesayangannya itu.

"Iya Pak. Aman kok."

"Ini ada logo Ravespa di motor dokter. Dokter salah satu anggota Ravespa?"

"Bapak tahu Ravespa?" 

"Siapa yang ga tahu Ravespa, club motor yang sering ikut dalam kegiatan sosial. Dari dulu saya selalu kagum sama Ravespa."

"Wah, saya ga nyangka Ravespa seterkenal itu, saya pun masuk karena waktu itu ketemu bang James di acara sosial." James adalah pendiri club Ravespa.

"Wah, kapan-kapan bolehlah dok ajakin saya."

"Eh iya pak, kebetulan minggu depan Ravespa bakalan ada acara sosial di Bandung. Saya rencananya mau ikut kalau jadwal ga padet, mau saya daftarin ga pak?" Ajak Joanna membuat senyuman di wajah Fajrih makin mengembang.

"Boleh boleh. Eh tapi motor saya masih di Sulawesi, belum dikirim ke Jakarta."

"Masalah itu aman kok pak. Ntar saya nanya temen yang kosong biar bisa bareng pak Fajrih."

"Jadi ga enak saya."

"Enakin aja Pak. Hahaha."

"Hahaha. Eh iya dok, ini helmnya, silahkan dipakai. Dokter bisa bawa sendirikan ke depan?" Tanya Fajrih pada Joanna karena mereka berboncengan saat ke tempat itu.

"Ya bisalah pak. Ini kan motor saya."

"Yaudah, dokter silahkan duluan. Ntar saya nyusul. Masih ada urusan dikit. Tunggu saya di meja saya saja bu."

"Baik Pak!" Jawab Joanna hingga akhirnya membawa motornya sesuai arahan Fajrih.

"Cantik, pinter, baik, manis, dan...."

"Dan udah jadi pacarnya Gomgom! Jangan coba-coba deketin dia!" Ucapan Fajrih terhenti saat Gomgom tiba-tiba muncul dibalik punggungnya dengan perkataan yang jelas membuatnya terkejut.

Fajrih membalikkan tubuhnya menghadap pada Gomgom yang datang dengan seragam lengkap dengan baret birunya itu.

"Maksud lo?" Tanyanya.

"Iya, Joanna pacar gue. Jadi jangan sampai lo ada perasaan sama dia."

"Wait Gom, beberapa hari lalu gue lihat lo anterin cewek ke rumah sakit, dan bukan Joanna, bukan juga Maria. Trus, sekarang lo bilang Joanna pacar lo."

Tidak Bisa LariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang