Eighty

1.5K 91 5
                                        

Cerita ini hanyalah fiktif belaka
Tidak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata
.
.
.

Puluhan motor sport kini berjalan ke arah yang sama. Yap, hari ini Ravespa akan melakukan bakti sosial di daerah Bandung, lebih tepatnya di beberapa panti asuhan dan panti jompo di kota itu.

Ada beberapa dari rekan kerja Gomgom yang bisa ikut untuk kali ini.

Fajrih yang selalu penasaran dengan Ravespa, berboncengan dengan Ariq yang akhirnya ikut setelah dilobi oleh Fajrih.

Tino yang sudah pasti ikut karena harus bersama Tania yang saat ini tidak henti-hentinya memuji semua hal yang dilihatnya, ini pertama kalinya dia keluar kota menggunakan motor.

Fabiola yang berboncengan dengan Teguh karena Khalifah yang masih berada di Surabaya dan Kayla yang harus kembali ke AS.

Kali ini, Eunice tidak bisa ikut karena masih berada di Kalimantan. Karin pun tidak bisa ikut karena banyaknya ujian mahasiswa yang harus dihadirinya.

Gomgom dan Joanna? Sudah pasti mereka akan ikut. Mereka berdua adalah pencetus teman-temannya ikut kegiatan ini.

Kalian kira mereka akan berboncengan sambil berpelukan? Maaf tapi itu hanya bayangan kalian. Nyatanya Joanna kekeh membawa motor sendiri, tidak ingin dibonceng oleh Gomgom meskipun lelaki itu sudah memaksa sejak tadi.

Alasannya masuk akal, dia sudah lama tidak ikut dalam kegiatan Ravespa. Dan sudah hampir 2 bulan ini dia tidak mengendarai motornya sendiri.

Gomgom yang pastinya masih khawatir dengan Joanna, akhirnya memilih selalu berada di sekitar wanitanya itu.

Setelah enam jam perjalanan, akhirnya mereka tiba di salah satu panti asuhan yang menjadi tempat kumpul dari beberapa panti yang menjadi sasaran kegiatan mereka.

Banyak hal yang mereka lakukan disini. Setelah acara pembukaan, mereka akan bercengkrama dengan anak-anak panti. Mereka juga sudah menyediakan beberapa alat belajar yang akan mereka gunakan disana.

"Sayang minum dulu." Ujar Gomgom memberikan sebotol air mineral yang sudah terbuka pada Joanna yang sedang asyik membaca salah satu buku cerita untuk tiga anak di depannya.

"Makasih sayang." Jawabnya tersenyum.

"Ini pacal kakak doktel?" Tanya Gita, anak 5 tahun yang cadelnya masih jelas terdengar.

"Iya, sayang. Gimana? Pacar kakak ganteng ga?"

"Ga!" Ucap mereka bertiga yang sontak membuat Gomgom menatap mereka. Sementara Fabiola dan Teguh yang berada tak jauh dari mereka hanya bisa menahan tawanya.

"Loh, kok kakak ga ganteng. Kakak ganteng loh." Ujar Gomgom tak mau kalah.

"Badan om besar banget, nyeremin." Balas Dika, anak berusia 7-tahunan.

"Iya om. Om juga ga pernah senyum." Timpal Ayuni, dari mereka bertiga, dialah yang tertua, 11 tahun.

"Tuh sayang, artinya mereka takut sama kamu." Bisis Joanna sambil terkekeh.

"Om ga nakutin kok. Badan om besar biar bisa jagain kakak dokter. Om juga belum bisa senyum karena dari tadi kakak dokter ga mau buat om senyum." Alasan Gomgom jelas membuat Joanna mencubit lelaki itu.

"Aduh, nah kan kakak dokter malah nyubitin om." Lapor Gomgom.

"Oh jadi om cuma mau senyum kalau disulu sama kakak doktel?"

"Iya dong."

"Kakak dokter suruh omnya senyum dong, biar ga nakutin." Minta Dika.

"Tuh sayang, udah ga mau bareng aku. Sekarang ga mau nyuruh aku senyum." Bisik Gomgom.

Tidak Bisa LariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang