One Hundret and Four

1.1K 80 25
                                        

Cerita ini hanyalah fiktif belaka
Tidak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata
.
.
.

Gomgom mengeratkan pelukannya pada Joanna di lapangan tempat dia dan beberapa rekannya melakukan upacara pelepasan untuk operasi penyelamatan yang akan dilaksanakan selama 6 bulan. Jika biasanya Gomgom hanya meninggalkan Joanna seorang, kali ini dia akan meninggalkan Joanna juga buah hati mereka yang baru 13 minggu dikandungan Joanna.

Ternyata rencananya untuk melanjutkan studi agar tak ikut dalam operasi yang harus meninggalkan Joanna saat hamil ternyata tidak berjalan mulus, nyatanya pengalamannya harus digunakan dalam operasi kali ini.

"Udah sayang, kamu udah nangis dari semalam loh. Ga malu matanya bengkak?" Joanna menenangkan Gomgom, bukan karena dia rela akan ditinggalkan suaminya dalam keadaan mengandung, tetapi ikut menangis akan membuat suami yang merasakan morning sicknessnya ini akan lebih sensitif. Dia harus menahannya.

"Tapi aku ga rela ninggalin kamu sendiri dalam keadaan ini sayang."

"Aku ga sendirian, ada manice, mamaen, papa dan yang lainnya. Maria juga bakalan tinggal di rumahkan selama kamu pergi."

"Tapi ga ada aku."

"Ada disini." Joanna menunjuk dadanya sendiri membuat Gomgom mulai tersenyum, istrinya ini memang banyak cara untuk membuatnya tersenyum.

"Aku janji bakalan pulang sebelum Dede lahir." Ucapan Gomgom dijawab anggukan oleh Joanna.

"Aku dan Dede bakalan nunggu kamu pulang. Hati-hati ya pa, mama sama Dede sayang papa." Ucap Joanna dengan nada anak kecil di kalimat akhi, yang membuat lagi-lagi air mata Gomgom turun.

Mendengar panggilan dan rekan kerjanya, lelaki itu mulai berjongkok agar sejajar dengan perut Joanna.

"Dede jagain mama yah buat papa. Ke depan papa usahain papa yang akan jaga kalian berdua." Bisiknya pada calon anaknya itu.

"Aku pergi yah sayang! Ingat jaga kesehatan, jangan maksa kalau udah capek, makannya harus yang sehat-sehat aja, minum susu juga wajib. Aku udah sediain semua. Maria juga udah aku jelasin."

"Iya sayang, semangat yah kerjanya. Jaga diri kamu. Inget aku dan Dede selalu nungguin dan sayang kamu." Ucap Joanna mengecup bibir Gomgom sepersekian detik sebelum akhirnya Gomgom ikut berbaris.

###

Joanna mulai memasuki kamar mereka, hari ini Joanna sudah meminta izin sehari karena yakin dia tak akan bisa fokus dengan pekerjaannya hari ini.

Dia mengambil baju tidur yang semalam Gomgom pakai, wanginya masih tertinggal membuat dia tersenyum sebelum akhirnya bulir air matanya mulai turun. Dia memeluk baju itu lebih erat, ini pertama kalinya Gomgom meninggalkan dia lebih dari sehari setelah dia mengandung. Akan banyak hal yang akan dia lalui tanpa Gomgom. Semua perkataannya pada Gomgom untuk membuat lelaki itu kuat nyatanya tak membuat dirinya sendiri menjadi kuat. Dia tak menyangkal ada rasa khawatir dan takut dia rasakan, apalagi mengingat kasus Firno saat mereka masih pacaran.

Perlahan Joanna membaringkan tubuhnya dengan tetap memeluk baju Gomgom. Tanpa sadar matanya mulai tertutup dengan bekas air mata yang belum kering.

"Kak Jo-," ucapan Maria terhenti melihat Joanna yang sudah terlelap.

"Sabar ya kak, abang pasti bakalan baik-baik aja." Ucapnya pelan lalu menutup pintu kamar itu kembali.

Tidak Bisa LariTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang